Giliran Anton Segera Diperiksa Jaksa

BATU - Tiga Komisaris PT. Batu Wisata Resource (BWR), Edy Antoro, Luki Budiarti (pengusaha) dan Zadiem Effisiensi (wakil Pemkot) mengaku tidak pernah mendapat laporan keuangan dari direktur Dwi Martono Arlianto sejak perusahaan yang dinaungi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu didirikan. Pengakuan itu, mereka ungkapkan di hadapan jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Batu.
Ketiga komisaris itu memang Selasa lalu, baru selesai menjalani pemeriksaan tim jaksa Kejari Kota Batu terkait kasus dugaan korupsi keuangan PT BWR. Kasi Pidsus Kajari, Jendra Firdaus membenarkan pengakuan ketiga komisaris tersebut.
” Para komisaris sudah kami periksa, dan dalam minggu-minggu ini kami beralih menghadirkan akuntan publik yang sebelumnya memeriksa keuangan PT.BWR. Selain itu, kami juga akan memanggil Bagian Keuangan Pemkot Batu selaku pihak pemberi dana kepada PT.BWR,”papar Jendra Firdaus.
Baru setelah semua pemeriksaan saksi-saksi selesai, dikatakan pihaknya beralih menghadirkan Direktur PT.BWR, Dwi Martono Arlianto yang akrab disapa Anton, untuk dimintai keterangan. Setelah tuntas, pihak kejaksaan baru bisa menetapkan tersangka dugaan korupsi APBD 2011 sebesar Rp2 miliar yang dikucurkan ke PT.BWR, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu.
Kejaksaan sendiri nampaknya memprioritaskan kasus BWR tersebut, apalagi uang sebesar Rp1 miliar dengan mudahnya oleh BWR diserahkan kepada pihak ketiga yang kabarnya untuk kerjasama dengan Batu Tourism Centre (BTC) tanpa dilengkapi perjanjian apapun.
Sebelumnya Wali Kota Batu Eddy Rumpoko menegaskan, bakal mengganti direksi PT BWR. Pemkot sendiri juga sedang mengkaji agar perusahaan tersebut bisa jalan, paling tidak dapat mengambil peluang pesatnya perkembangan kota wisata ini.
Kepala Inspektorat Pemkot Batu, Susetya Herawan mengatakan ada lima poin hasil kajian dari Bappeda, terkait PT.BWR ke depannya. Pertama, perbaikan strategi perusahaan dengan analisa SWOT. Kedua, mengonsentrasikan bisnis pada produk yang representative, melakukan perluasan pasar, pengembangan produk baru.
Ketiga, strategi penyehatan dengan melakukan perombakan manajemen, unit bisnis dan tata kelola. Sedangkan keempat, tranformasi PT.BWR menjadi BUMD (dari PT menjadi BUMD).”Kelima, apabila empat poin tersebut tidak dapat direalisasikan, maka Pemkot pun tidak akan melanjutkan investasi di BWR,”jelas Herawan kepada Malang Post.