14 Siswa SMPN 1 Tajinan Ajukan Penagguhan Penahanan

14 tersangka yang melakukan pengeroyokan terhadap M Andi Nur Fahmi, digiring ke ruang sidang kemarin

KEPANJEN- Kasus pengeroyokan siswa SMPN 01 Tajinan yakni Muhammad Andi Nur Fahmi, warga Desa Tangkilsari, Tajinan, sudah masuk persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Dalam sidang kemarin, pengacara 14 tersangka, Bambang Suharwono SH, meminta pengangguhan penahanan.
“Mengingat mereka masih berusia di bawah umur dan harus melanjutkan pendidikannya, maka kami meminta penangguhan penahanan kepada majelis hakim,” ujar Bambang Suharwono SH kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, pihaknya berharap supaya majelis hakim mengabulkan permohonannya tersebut.
Sedangkan dalam persidangan kemarin, mengagendakan pernyataan saksi yang meringankan 14 tersangka. Menurutnya, kedua saksi tersebut, bahwa 14 tersangka tidak melakukan pengeroyokan. Mereka bergerombol di lapangan di luar sekolah dan hanya melakukan dorong-dorongan terhadap korban.  Bersamaan, korban terkena lemparan bongkahan batu yang tidak tahu darimana asalnya.
“Pendarahan yang terjadi pada tubuh korban, diduga dari lemparan batu tersebut. Kedua saksi ini, melihat lemparan batu tersebut berasal dari tembok pembatas yang ada di pinggiran lapangan tersebut,” kata pria berkumis ini.
Meski percaya ke 14 tersangka tidak melakukan pengeroyokan, pihaknya telah meminta maaf terhadap orang tua korban. Menurutnya, surat permohonan maaf tersebut, sudah dilayangkan kepada keluarga korban pekan kemarin. Disamping itu, majelis hakim PN Kepanjen juga sudah ditembusi surat permintaan maaf tersebut.
“Syukur alhamdulillah, keluarga korban sudah memaafkan tersangka. Keluarga korban juga sudah membuat surat pernyataan yang isinya memaafkan. Selain itu, keluarhga korban menyatakan peristiwa ini merupakan musibah. Surat balsan dari keluarga korban itu, sudah ditembusi kepada majelis hakim,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Tuti Budhi Utami sH, menyebutkan sudah menerima surat balasan dari keluarga korban itu. “Surat ini, selanjutnya akan kami kaji. Kendati demikian, proses hukumnya tetap berlanjut. Apakah nanntinya 14 tersangka dikabulkan penagguhan penahannya, menunggu hasil kajian,” terangnya.
14 tersangka itu yakni IT, 16 tahun, AR, 14 tahun, RD, 16 tahun, RZ, 15 tahun, BD, 14 tahun, AZ, 13 tahun, MF, 15 tahun, KA, 14 tahun, GA, 14 tahun, SN, 14 tahun, FN, 15, AG, 14 tahun, JF, 14 tahun dan FR, 15 tahun . Mereka dijerat Pasal 80 Ayat 3 UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang kekerasan yang mengakibatkan kematian. (big/aim)