14 Siswa SMPN 1 Tajinan Jadi Tahanan Kota

Orangtua terdakwa yang menangis dan memeluk anak-anaknya, usai sidang yang memutuskan 14 terdakwa menjadi tahanan kota.

MALANG – Keinginan 14 siswa SMP Negeri 1 Tajinan, yang menjadi terdakwa kasus pengeroyokan terhadap Muhammad Andi Nur Fahmi, untuk bisa berkumpul dengan keluarga saat lebaran, akhirnya terwujud. Kemarin, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Tuty Budi Utami SH, yang memimpin sidang membacakan putusan sela, mengabulkan pengajuan penangguhan penahanan terdakwa menjadi tahanan kota dari tahanan Rutan.
Spontan keputusan ketua majelis hakim ini disambut histeris terdakwa dan para orangtuanya yang menyaksikan jalannya persidangan. Mereka langsung menangis sembari berpelukan. Dengan putusan ‘bebas’ itu, mereka bisa berkumpul dengan keluarga dan ber-sekolah lagi. Meskipun syaratnya, mereka tidak boleh meninggalkan Kabupaten Malang. 14 terdakwa ini, sebelumnya sudah menjalani 1,5 bulan di tahanan rutan.
“Sidang pengeroyokan ini belum selesai. Masih ada sidang lagi pada tanggal 6 Agustus 2014 dengan agenda tuntutan. Tetapi setidaknya, mereka bisa berkumpul dengan keluarga saat lebaran,” tutur Bambang Suherwono, SH pengacara para terdakwa.
Putusan menjadi tahanan kota tersebut, setelah ketua majelis hakim mempertimbangan surat permohonan pengajuan menjadi tahanan kota, yang diserahkan pada sidang sebelumnya. Isi surat permohonan dikuatkan dengan permohonan maaf seluruh terdakwa kepada keluarga korban.
Agenda sidang yang berlangsung tertutup untuk umum, kemarin sebetunya adalah pledoi (pembelaan) dari pihak terdakwa, atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Gaguk Safrudin SH. Setelah pledoi selesai, ketua majelis hakim lalu memberikan putusan sela dengan menjadikan mereka sebagai tahanan kota.
Usai sidang, 14 terdakwa kemudian digiring ke ruang transit tahanan. Di dalam ruangan itu, mereka masih tampak menangis. Begitu juga dengan orangtua mereka yang menangis senang. “Saya tidak bisa mengatakan apa-apa, karena senang bisa berkumpul dengan anak lagi,” ujar salah satu orangtua terdakwa.
Sementara itu, para terdakwa yang mencium tangan Bambang Suherwono SH bergiliran, berjanji tidak mengulanginya lagi. “Kami tidak akan mengulanginya lagi. Setelah ini, kami akan menjadi orang yang lebih baik lagi,” kata mereka.
Sekedar diketahui, Muhammad Andi Nur Fahmi alias Andi meregang nyawa di RS Panti Nirmala, pada awal bulan Juni akibat pendarahan di kepala. Dia dikeroyok sekitar 20 teman sekolahnya. Pengeroyokan itu dilakukan di dalam ruang kelas, lapangan basket dan depan sekolah ketika hendak pulang. Pengeroyokan terjadi karena korban dituduh telah mengisikan air ke dalam tangki bensi motor pelaku.
14 siswa yang menjadi tersangka. Masing-masing berinisialAG, 14 tahun, JF, 14 tahun dan FR, 15 tahun. Ketiganya ini adalah pelaku utama. Lainnya, IT, 16 tahun, AR, 14 tahun, RD, 16 tahun, RZ, 15 tahun, BD, 14 tahun, AZ, 13 tahun, MF, 15 tahun, KA, 14 tahun, GA, 14 tahun, SN, 14 tahun serta FN, 15 tahun.(agp/aim)