Kuasa Hukum Sugiyanto : Bukti Visum dan Pengakuan Berbeda

Sugiyanto dan Sumadi di sidang lanjutan di PN Kepanjen.

MALANG – Kasus pengeroyokan yang melibatkan anggota DPRD Kabupaten Malang, Sugiyanto, kemarin siang menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Sidang kedelapan yang dipimpin Majelis Hakim Bambang Herry Mulyono SH, adalah agenda pembelaan terdakwa atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Gaguk Safrudin SH.
Sebelumnya pada 23 Juli lalu, terdakwa Sugiyanto, politisi dari Fraksi Partai Golkar dan adiknya Sumadi, dituntut hukuman percobaan selama 8 bulan. Tuntutan JPU menilai karena kedua terdakwa melanggar pasal 170 ayat 1 KUHP tentang melakukan pengeroyokan dimuka umum.
Pembacaan pembelaan dibacakan kuasa hukum Sugiyanto, yakni Eko Arif Mudji Antono, SH. Ia mengatakan bahwa seharusnya terdakwa Sugiyanto dan Sumadi, dituntut bebas karena tidak terbukti bersalah.
“Kedua terdakwa seharusnya bebas, karena tidak ada saksi yang melihat kalau klien saya melakukan pemukulan,” ujar Eko Arif, kepada Malang Post sebelum sidang.
Seharusnya tujuh orang saksi dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang dipanggil untuk diperiksa, hanya empat orang saja yang hadir. Pertama adalah saksi Untung, korban pengeroyokan. Kemudian saksi Mulyono, Rizal dan Suwasis. Sedangka tiga saksi lainnya, salah satunya Suminah, pemilih warung.
“Dari empat orang saksi yang hadir, hanya Untung saja yang memberikan keterangan kalau dia dipukul oleh terdakwa. Namun saksi lainnya tidak mengetahui ada pemukulan,” tutur Eko.
Dalam surat pembelaan yang dibacakan, Eko menyinggung tiga pernyataan yang berbeda, yaitu bukti visum korban di RSUD Kanjuruhan Kepanjen, pengakuan korban Untung serta surat dakwaan yang dibacakan oleh JPU.
Dalam bukti visum pada 28 Oktober 2013 lalu, di RSUD Kanjuruhan nomor 93 tahun 2013, mengatakan bahwa ada luka lecet pada bagian belakang kepala. “Sedangkan pengakuan korban Untung, mengaku dipukul Sugiyanto di bagian pelipis sebelah kanan namun tidak memar dan tidak terhalang melaksanakan pekerjaan. Lalu JPU mengatakan korban dipukul di bagian wajah. Dari tiga perbedaan itulah, mana yang benar ? Apakah pengakuan korban atau bukti visum. Sehingga jika tidak bisa dibuktikan, maka seharusnya klien kami lepas dari dakwaan. Apalagi juga tidak ada saksi yang melihat,” paparnya.
Sementara selama persidangan, kedua terdakwa Sugiyanto dan adiknya Sumadi, terlihat santai. Keduanya mendengarkan pembelaan yang dibacakan oleh kuasa hukumnya. Dan berharap keduanya bebas dari jeratan hukum.
Sekadar diketahui, Sugiyanto dan adiknya Sumadi, dituduh telah melakukan pengeroyokan terhadap Untung pada 28 Oktober 2013. Pengeroyokan terjadi di warung kopi Desa Srigonco Kecamatan Bantur, terkait soal penambangan pasir besi.(agp/aim)