14 Siswa SMPN 1 Tajinan Diputus “Bebas”

MALANG – 14 Siswa SMP Negeri 1 Tajinan,yang menjadi terdakwa kasus pengeroyokan terhadap Muhammad Andi Nur Fahmi, bisa terus menghirup udara bebas, setelah menjadi tahanan kota. Mereka bisa melanjutkan sekolah seperti siswa lainnya, setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Tuty Budi Utami SH, memberi putusan ‘bebas’ terhadap 14 terdakwa dalam sidang putusan, Rabu siang kemarin.
“Menimbang berdasarkan fakta di persidangan, para terdakwa terbukti bersalah melakukan perbuatan melanggar hukum dengan melakukan pengeroyokan terhadap korban Muhammad Andi Nur Fahmi hingga meninggal dunia. Dengan ini Majelis Hakim menjatuhkan tindakan berupa pengembalian kepada orangtua. Menetapkan barang bukti nihil dan membebankan biaya perkara sebesar Rp 2000 kepada orangtua terdakwa,” ungkap Tuty Budi Utami SH dalam sidang putusannya.
Putusan Majelis Hakim yang dibacakan di hadapan Penasehat Hukum terdakwa Bambang Suherwono SH dan Erfin Yuliono SH, serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) (Kristiawan SH, Priyo SH, Gaguk Safrudin SH) dan orangtua terdakwa, ditimbang berdasarkan hal yang memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan karena mengakibatkan korbannya meninggal dunia.
Sedangkan hal yang meringankan, para terdakwa bersikap sopan, telah menyesali perbuatannya, masih sekolah serta sudah ada perdamaian antara pihak keluarga terdakwa dengan keluarga korban. Bahkan, pihak keluarga terdakwa telah memberikan tali asih kepada keluarga korban sebesar Rp 50 juta.
“Putusan pengembalian kepada orangtua itu, supaya orangtua bisa lebih memperhatikan tingkah laku anaknya. Dan dengan harapan mereka tidak mengulangi perbuatan yang melanggar hukum. Selain itu mereka bisa melanjutkan sekolah sampai menuntaskan SMP,” jelas Tuty.
Sidang putusan yang dimulai pukul 11.00, kemarin dibagi tiga tahap. Pertama adalah putusan untuk empat terdakwa utama pengeroyokan. Yaitu AG, 14 tahun, JF, 14 tahun, FR, 15 tahun serta AR, 14 tahun. Kemudian tahap kedua, KA, 14 tahun, RD, 16 tahun, SN, 14 tahun, FN, 15 tahun serta RZ, 15 tahun. Dan terakhir adalah untuk terdakwa IT, 16 tahun, BG, 14 tahun, AZ, 13 tahun, GA, 14 tahun, serta MF, 15 tahun.
Saat menjalani sidang, pakaian yang dikenakan para terdakwa berbeda dengan siang sebelumnya. Jika sidang sebelumnya memakai kemeja putih dan celana hitam serta rompi tahanan, namun kemarin memakai seragam batik sekolah dengan bawahan celana putih. Bahkan mereka juga masih membawa tas sekolah.
Selama persidangan berlangsung, mereka terus menundukkan kepala. Itu dilakukan untuk menghindari jepretan kamera wartawan. Sementara para orangtua terdakwa yang mendampingi sidang terlihat tegang dan terus berdoa.
Begitu Majelis Hakim yang memimpin sidang tidak menjatuhkan hukuman kurungan penjara, namun tidak ada ekspresi dari para terdakwa dan orangtua. Malahan mereka menghindar dan berusaha menutupi wajah ketika wartawan mengambil gambar. Mereka hanya menyalami Majelis Hakim, JPU serta Penasehat Hukum. Para terdakwa juga langsung menghampiri terdakwa lain di ruang tahanan sementara PN Kepanjen, untuk bersalaman. “Sudah tidak konfirmasi,” ujar salah satu orangtua terdakwa sembari berlalu.
Sementara itu, baik penasehat hukum terdakwa dan JPU, sama-sama menyatakan untuk pikir-pikir atas keputusan majelis hakim. Mereka diberi waktu selama tujuh hari setelah putusan dibacakan kemarin. (agp/aim)