Napi Bom Bali Bebas Bersyarat

MALANG - Napi terorisme, M. Holili menghirup udara bebas, kemarin siang setelah menjalani hukuman sekitar tujuh tahun di LP Klas 1 Lowokwaru. Pria asal Jodipan Wetan itu langsung menebak pertanyaan wartawan beberapa saat setelah keluar dari pintu LP peninggalan Belanda itu.
“Mau tanya ISIS ya? Saya tidak tahu,” ucapnya membalas sapaan wartawan saat ditemui di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas 1, kemarin siang. “Saya tidak tahu ISIS. Tahunya kalau ngisis ya kipas angin itu,” katanya saat akan meninggalkan kantor Bapas sembari tersenyum.
Usai menerima surat bebas bersyarat di LP Klas 1 Lowokwaru, Holili kemudian wajib lapor di Bapas Klas 1 Malang. Di kantor Bapas yang bersebelahan dengan LP Lowokwaru, ia wajib menjalani sejumlah tahapan sebelum diantar pulang ke rumahnya. Yakni foto, pengambilan sidik jari lalu membuat pernyataan waktu wajib lapor pada setiap bulan.  
Saat berada di Bapas itulah Holili dikerubuti wartawan. Usai diberondong pertanyaan  pekerja media, ia kemudian cepat bergegas pulang dengan dibonceng motor oleh seorang petugas Polisi tak berseragam. Dia hanya membawa satu tas raket tenis yang dijadikannya tas pakaian.
Ya sejak kemarin siang Holili bebas bersyarat. Pemuda ramah itu  baru tahu dibebaskan jelang siang menyusul turunnya surat pembebasan bersyarat dari Kementerian Hukum dan HAM.
Karena sebelumnya tak menduga akan bebas kemarin siang, tak ada satu pun keluarga yang datang menjemput. “Keluarga belum tahu. Saya saja baru tahu tadi pagi. Ya setelah ini pulang ke rumah. Mau kerja,” katanya.
Kendati ingin kerja, Holili belum tahu jenis pekerjaan yang akan ditekuni.  “Belum ada gambaran (kerja). Yang jelas perasaan saya sekarang bahagia,” ucapnya saat ngobrol dengan wartawan.
Holili tak ingat lagi waktu persidangan yang memvonisnya. Dia hanya ditangkap di Semarang pada 10 November 2005. Setelah itu divonis penjara 18 tahun. Tiga tahun mendekam di LP Kerobokan, Bali, lalu pada Oktober 2008 dipindahkan ke LP Lowokwaru.
Kepala LP Klas 1 Lowokwaru, Drs Herry Wahyudiono, Bc.IP, SH, MH menjelaskan, kepastian Holili bebas bersyarat diketahui kemarin pagi. “Kami terima surat dari Kementerian Hukum dan HAM melalui Kanwil pada jam 08.00 WIB tadi,” jelasnya.
Holili mendapat pembebasan bersyarat karena berbagai alasan. Diantaranya berkelakuan baik, tak pernah buat onar selama di penjara, telah menjalani 2/3 masa hukuman. Selain itu telah mendapat rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Selain itu dikurangi juga dengan remisi yang didapat pada saat HUT Kemerdekaan RI dan Idul Fitri.
Herry mengatakan, Holili memiliki catatan berkelakuan baik selama menjalani hukuman di LP Lowokwaru. “Dia membaur. Dia aktif membantu pemerintah. Misalnya mengatakan kepada teman-temannya bahwa pemerintah telah memberi perhatian,” paparnya.
Sehari-harinya, dia memberi  pencerahan kepada sesama teman-teman penghuni LP Lowokwaru. “Memberi pencerahan seperti tak perlu tanggapi ISIS, baik-baik saja karena diperhatikan pemerintah,” terangnya.
Bahkan lanjut Herry, Holili kerap mengatakan kepada sesama penghuni LP Lowokwaru bahwa ia sudah tak mau melihat masa lalunya.
Karena bebas bersyarat, Holili wajib lapor secara periodik di Bapas Klas 1 Malang. Ia harus datang ke Bapas sebulan sekali selama setahun.
Untuk diketahui, Holili divonis terlibat jaringan terorisme Dr Azhari.  Dalam pengakuannya saat menjadi saksi di sidang teroris dengan tersangka Subur Sugiarto di PN Semarang, 11 November 2006 lalu, Holili mengakui sempat berkenalan dengan Noordin M Top dan Dr Azhari.
Dalam catatan lain, Holili ditangkap setelah sebelumnya naik bus tak jauh dari rumah kontrakan Dr Azhari di Batu. Saat itu ia diikuti oleh Densus 88 Mabes Polri dari Batu ke Jombang, lalu ke Semarang pada November 2005. Dia  turun bus  di daerah sekitar Demak-Semarang  kemudian disergap Densus 88.
Setelah Holili bebas bersyarat, kini terdapat tujuh napi terorisme yang menjalani hukuman di LP Lowokwaru. Tujuh napi tersebut mendapat pengawasan paska mencuatnya kabar pergerakan dan rekrutmen ISIS.
“Kami sudah terima surat dari Dirjen Pemasyarakatan. Terhadap napi terorisme saat ini hanya boleh menerima tamu dari keluarga inti. Kami selektif terhadap teman mereka yang berkunjung,” pungkasnya.(van/ary)