Dapur KFC Tanpa Saluran Udara

Tim Puslabfor Cabang Surabaya mengidentifikasi pusat ledakan dan kebakaran KFC MOG, kemarin.

Polisi Juga Dalami Kemungkinan Sabotase
MALANG-Ledakan di Kentucky Fried Chicken (KFC) Mall Olympic Garden (MOG) Rabu  (7/8) malam lalu, diduga karena dapur KFC tak memiliki saluran udara. Polisi juga tak membantah jika ledakan bisa dipicu adanya sabotase. Dua hal tersebut muncul dalam olah TKP Polres Malang Kota bersama Tim Puslatfor Cabang Surabaya, kemarin.
Untuk menginvestigasi penyebab ledakan dan kebakaran itu Polres Malang Kota bersama tiga personel dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Cabang Surabaya mencari pusat titik api dan penyebab ledakan.
Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro mengatakan timnya akan fokus dengan pemeriksaan pada dugaan awal lebih dulu, yakni kebocoran regulator tabung gas. “Sementara ini, kami akan fokus memastikan dugaan awal itu dulu,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Hanya saja, dari hasil investigasi pihak kepolisian dan tim Labfor, diketahui bahwa di dalam dapur KFC tidak terdapat saluran udara. Hal ini menyebabkan, gas yang keluar dari tabung mengumpul di dapur. Otomatis bila dipicu api, ledakan akan terjadi.
“Seandainya di dapur itu ada saluran udara, gas tidak akan berkumpul di dapur. Jadi, ledakan tidak mungkin terjadi,“ ujar Adam, panggilan akrabnya.
Ditambahkan, secara logika seharusnya dapur restoran diberi saluran udara untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Adam juga tidak membantah kalau ada kemungkinan ledakan KFC merupakan hasil sabotase oknum. Menurutnya, semua kemungkinan bisa terjadi. Pihak kepolisian akan mendalami hal-hal tersebut. Hanya saja, kesimpulan baru bisa diambil ketika hasil Labfor sudah keluar. “Dugaan awal, akan ditambahkan dengan hasil labfor nanti,“ tegasnya.
Sementara itu ketua tim lapangan Puslabfor, hasil olah TKP menemukan tiga barang bukti berupa kabel instalasi, serpihan sisa ledakan, serta sebuah tabung gas berkapasitas 50 kg yang diduga menjadi sumber ledakan.
"Barang bukti akan kami bawa. Akan kami cari tahu penyebab dan pusat ledakan api," ujarnya kepada Malang Post kemarin siang usai melakukan olah TKP.
Ada tiga personel Puslabfor yang diterjunkan. Mereka datang sekitar pukul 12.30 WIB dan melakukan olah TKP selama dua jam. “Hasil uji laboratium selambat-lambatnya akan selesai dalam 3-4 hari ke depan,“ lanjut Agus.
Kemarin, kepolisian dan tim Labfor melakukan investigasi di dapur restoran, termasuk peralatan dan furniture di sana. Saat kejadian di dapur ada enam tabung gas, salah satunya dibawa Labfor kemarin, karena diduga merupakan sumber ledakan.  
Terpisah, Humas Polres Malang Kota AKP Nunung Anggraeni mengimbau, kedepannya manajemen mall atau pusat perbelanjaan lainnya harus lebih waspada. "Pengawasan terhadap kelayakan infrastruktur di mall, restoran atau tempat sejenis harus lebih ditingkatkan" ujar wanita berdarah Lombok itu.

Booth dan Tenant MOG Ikut Merugi

Terkait temuan Polisi, manajemen KFC enggan memberikan komentar kepada Malang Post. Mereka mempercayakan semua informasi kepada kepolisian, dan jumlah kerugian manajemen pusat yang bisa menyampaikan.
Adapun pihak building management MOG tengah berhitung kerugian materi, sembari menunggu hasil Puslabfor mengenai penyebab utama kebakaran.
Operasional Manager MOG, M. Edi Alexander menyampaikan, bila pihaknya masih belum berani mengeluarkan jumlah kerugian akibat kebakaran yang terjadi Rabu malam tersebut. “Yang paling jelas rusak kan di KFC, baik furniture maupun peralatannya,” ujar dia.
Menurutnya, mall juga tengah menunggu hasil olah TKP dari kepolisian dan Puslabfor. Jika sudah ditentukan apa yang menyebabkan kebakaran, juga bakal diketahui pula siapa yang akan menanggung ganti rugi. Misalnya, bila memang kelalaian ada pada pegawai KFC, maka gerai tersebut yang harus mengurusi kerugian.
“Jika ternyata tabung gasnya yang tidak layak, kepada siapa mengajukan asuransi juga jelas,” beber dia kepada Malang Post.
Alex, sapaan akrabnya menyampaikan, untuk pihak mall yang paling jelas mengalami kerusakan sebagian bangunan dan peralatan. Contohnya eskalator di dekat area kebakaran. Sebab, ketika dalam proses pemadaman, air menggenang mesin dari alat tersebut.
“Tetapi yang rugi juga pada tenant lain yang harus tutup, atau beberapa terkena lalapan api. Misal Respiro Riding Ware, yang beberapa barangnya ikut terbakar,” tambahnya.
Tak pelak, beberapa tenant dan booth pun harus menutup bisnisnya 1-2 hari. Misalnya booth Tong Tji yang tidak bisa dilewati oleh pengunjung, dan beberapa booth di sekitarnya. Menurut Penjaga Tong Tji, Ike Dewi Kartini, dua hari ini dia tidak bisa bekerja. “Bos juga menuruti instruksi manajemen mal,” tegas dia.
Menurutnya, booth tersebut kehilangan potensi omset di atas Rp 1 juta dalam sehari. Bila ditambah dengan hari kejadian dan sehari berikutnya atau hari ini, dia memperkirakan kehilangan omset sekitar Rp 2,5 juta. Sedangkan dari pengakuan Owner Resipro Riding Ware, Denis Yusmarika, kerugian di kisaran Rp 4 jutaan karena kerusakan mainan.(erz/ley/ary)