Polisi Bekuk Pengedar Upal

MALANG POST - Gara-gara menggunakan uang palsu (upal) untuk ‘buwuh’  (menghadiri undangan), pengedar upal yang biasa beroperasi di Pujon dan Kota Batu akhirnya berhasil ditangkap. Sebanyak Rp 1,3 juta upal berhasil disita dari tersangka Tomas Jemian, 47 tahun, warga Dusun Maron Sebaluh RT16 RW06, Pujon. Secara fisik uang palsu milik Tomas ini mirip sekali dengan uang Rp 100.000 asli. Mulai dari bentuk kertasnya, hingga pita magnetik pengaman uang sangat mirip. Hanya saja bila diraba kertas uang palsu yang dibawa oleh Tomas ini lebih tipis dibandingkan uang asli.
“Sekilas sama seperti uang asli. Kertasnya hampir sama, ada pita magnetiknya membuat siapa saja sulit untuk membedakan mana yang asli dan mana yang bukan,” tutur Kapolsek Pujon, AKP Pujiyono. Meski masih dalam pemeriksaan, dia menduga Tomas terlibat dalam sindikat pemalsu uang yang biasanya beraksi di Jawa Timur.  “Modusnya dia menukarkan uang dengan cara berpura-pura membeli barang di toko-toko. Dari uang kembalian, Tomas mendapatkan untung,” ungkapnya.
Data yang didapat, Tomas juga beraksi di wilayah Batu dan wilayah Kota Malang. Sebelum meringkuk dalam sel Mapolsek Pujon, Tomas menjadi buruan tim buru sergap Satreskrim Polres Malang Kota dan Polsek Junrejo. “Hasil pemeriksaan sementara, Tomas mendapatkan upal ini dari seseorang di Madiun. Caranya ia membeli uang dengan menggunakan uang asli Rp 1 juta sebagai gantinya ia mendapatkan uang palsu sebesar Rp 2,5 juta,” terang Pujiyono. Tertangkapnya Tomas ini tidak lepas dari kejelian petugas mengamati informasi yang berkembang hingga merencanakan penangkapan terhadapnya.
Laki-laki ini ditangkap sepulangnya dari menghadiri hajat pernikahan di Kota Batu. Keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber, Minggu (3/8) lalu, tersangka Tomas buwuh di rumah Lutfianto di Dusun Gesingan, Pujon. Saat itu tersangka sudah menggunakan uang palsu sebesar Rp 100.000. Petugas mengenali uang tersebut palsu lantaran uangnya lebih tipis dan warnanya kurang mantap. Untuk memastikannya, polisi terus menguntit segala tindak tanduk Tomas. Termasuk ketika Minggu (10/8) lalu, dia menghadiri tiga hajatan di Pujon.
Hajatan pertama di rumah Kaspirin, di Desa Ngabab, Suwarto di Dusun Maron, Ngroto dan Supangat, di Dusun Sebaluh, Desa Pandesari. Di tempat itu, petugas terus melakukan penyelidikan dengan terus membuka amplop pemberian tersangka Tomas. Setiap amplop yang bertuliskan nama Tomas, dibuka dan ternyata isinya adalah upal. Keyakinan polisi pun semakin menguat, hingga saat Tomas akan menghadiri salah satu upacara pernikahan di Kota Batu, polisi pun menguntit.
“Sepulang dari hajatan di Kota Batu ini, Tomas mabuk berat. Kesempatan ini digunakan petugas untuk mendekati Tomas. Anggota kami menawarkan kepada Tomas agar minum air degan (kelapa muda) untuk meredakan mabuknya,” papar perwira polisi ini. Tanpa curiga, Tomas pun mengikuti anggota polisi ini. Sesampai di Mapolsek Pujon, polisi langsung menggeledah baju yang digunakan oleh tersangka Tomas dan menemukan tiga lembar uang ratusan ribu palsu.
Setelah menginterograsi Tomas, polisi pun melanjutkan dengan menggeledah rumahnya dan menemukan upal senilai Rp 1,3 juta. Uang ini ditemukan di dalam saku jaket warna hitam yang digantung di kamar tidurnya.  Melihat upal yang tersisa di kamarnya tersebut, polisi memperkirakan Tomas sudah cukup lama beraksi. Diperkirakan ia sudah menggunakan upalnya sebesar Rp 1,2 juta dari Rp 2,5 juta yang didapatkannya dari pengedar gede upal di Madiun. (muh/mar)