Beli Tablet di Roma Pakai Uang Palsu

PUJON - Tomas Jemian, 47 tahun, warga Dusun Maron Sebaluh RT 16 RW 6, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang terpaksa mengedarkan uang palsu lantaran terpepet hutang yang menggunung. Beban utang yang tinggi membuat ia harus memasukkan akta tanah miliknya ke sebuah bank yang ada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.  Hingga terbersit keinginan mencari penghasilan tambahan.
Bulan Mei 2014, Tomas berkenalan dengan Andik, 35 tahun, warga Madiun. Pertemuan itu berlangsung di sebuah warung kopi di Semampir, Kediri. Saat itu, ia sempat berkeluh kesah kepada teman yang baru dikenalnya tersebut.
“Waktu itu saya sempat ditawari untuk mengedarkan uang palsu, namun saat itu saya tidak mau, soalnya saya tidak mengerti uangnya,” papar Tomas.
Andik terus membujuknya, ia meyakinkan bahwa uang palsu bikinannya ini mirip dengan uang asli. Ia pun memberikan gambaran yang bisa didapatkan dengan mengedarkan uang palsu, salah satunya mendapatkan pengembalian uang asli dengan jumlah yang jauh lebih besar. Beberapa saat kemudian, Andik kembali menemui Tomas. Kali ini Andik membawa segebok uang palsu.
 “Waktu saya lihat ternyata uangnya mirip sekali, akhirnya saya pun bersedia,” ujarnya.
Saat itu disepakati penukaran uang di Terminal Lama Madiun. Kesepakatan lain yang dibuat adalah, tersangka bisa menukarkan uang asli sebesar Rp 1 juta dengan uang palsu sebesar Rp 2,5 juta.
Penukaran uang pun dilakukan di Terminal Lama Madiun, saat itu tersangka membawa beberapa uang asli untuk ditukarkan uang palsu sebanyak Rp 4 juta. Begitu menerima uang tersebut, tersangka langsung menggunakan uang palsu itu untuk membeli bensin di sebuah SPBU di Blora.
Aksi pertamanya ini berhasil, saat itu ia membeli bensin seharga Rp 15 ribu, artinya ia mendapatkan uang asli sebesar Rp 85 ribu. Berhasil pada aksi pertamanya, ia pun meneruskan aksi selanjutnya, yakni membeli dua handphone bekas di Pasar Rombeng Batu seharga Rp 150 ribu.
“Karena tidak ketahuan, akhirnya saya membeli tablet di sekitar pasar roma (Rombeng Malam) di Malang, harganya Rp 700 ribu, tapi saat itu ketahuan. Akhirnya saya lari menyelamatkan diri meninggalkan uang palsu senilai Rp 700 ribu dan tablet yang mau saya beli,” ujarnya.
Ia juga menggunakan uang palsu untuk naik bus menuju ke Surabaya pulang pergi. “Saya bisa membeli tiket bus gratis, kembaliannya bisa saya gunakan untuk makan dan membeli rokok,” ujarnya.
Melihat fisik uang palsu Rp 100 ribu buatan Andik ini, memang tidak jauh berbeda dengan uang asli. Warnanya mirip, dilengkapi pita magnetic, edannya uang tersebut juga terdapat tanda air.
“Kita sendiri saat menemukan pertama kali ragu-ragu, hingga kita harus mengecekkan ke BRI di Pujon. Dari alat pemeriksa uang tersebut, kita yakin kalau uang tersangka palsu, kita pun melanjutkan penyelidikan,” ujar AKP Pujiyono, Kapolsek Pujon mendampingi Kapolres Batu, AKBP Windiyanto Pratomo.
Dari penangkapan tersebut, petugas mendapatkan barang bukti uang palsu sebesar Rp 1,8 juta. Setelah menangkap tersangka Tomas, polisi langsung memburu Andik ke Madiun. Namun keberadaan Andik seperti hilang ditelan bumi.
“Tersangka Tomas pernah diajak menginap di rumah Andik, namun saat kita keler kesana ternyata tersangka lupa,” ujar kapolsek. Karena perbuatannya ini, tersangka Tomas disangkakan melanggar pasal KUHP 244 dan 245 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (muh/jon)