Kejiwaan JW Normal, Rekonstruksi Siap Digelar

SINGOSARI - Satreskrim Polres Malang akan melakukan rekonstruksi terhadap tersangka JW, 17 tahun, pelaku pembunuhan Vika Ayu Rahmatika pada pekan depan. Rekonstruksi itu dilakukan untuk mengetahui proses tersangka mulai dari bertemu, memperkosa hingga membunuhnya, untuk bahan penyidik untuk melengkapi berkas.
“Rekonstruksi tidak kami di tempat kejadian perkara (TKP). Cukup di Polres Saja. Hal itu untuk menjaga situasi mental keluarga korban dan masyarakat sekitar,” ujar Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat saat dihubungi Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, rekonstruksi itu nantinya dilakukan oleh tersangka mulai awal hingga akhir, bermula dari tersangka janjian dengan korban untuk bertemu di lahan tebu terletak di Desa Watugede Kecamatan Singosari saat Senin (18/8) lalu. Kemudian rekonstruksi juga mengetahui cara tersangka membunuh korban.
“Apalagi menurut pengakuan tersangka, dia memperkosa terlebih dahulu korban sebelum dilakukan pembunuhan. Bisa jadi dia melakukan pemerkosaan itu berkali-kali, tidak hanya saat akan dibunuh saja,” terang mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini. Sedangkan selama rekonstruksi, tersangka akan didampingi pengacara. Sebenarnya penahanan tersangka yang masih di bawah umur harus terpisah dari orang dewasa. Hal itu sesuai dengan peraturan UU No 11 tahun 2012 tentang peradilan anak di bawah umur. Dalam undang-undang tersebut, penahanan anak di bawah umur harus dititipkan ke Dinas Sosial pemerintah daerah (Pemda). Karena itu tetap berada di dalam sel yang terpisah dengan orang dewasa di Polres Malang.
“Hanya saja, Dinas Sosial  untuk sementara ini belum bisa menerima titipan tahanan dari kami. Karena keterbatasan tempat dan minimnya pengawasaan keamanan,” terang perwira pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya tersebut.
Disinggung kejiwaan tersangka, Wahyu mengaku, keadaan jiwa tersangka dalam kategori normal. Hal itu dibuktikan dengan lancarnya interaksi komunikasi saat dilakukan pemeriksaan, termasuk kejiwaaan, psikologi dan mental tersangka tidak drop saat dirinya ditahan di dalam sel.
“Jadi, kami menilai tidak perlu dilakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap tersangka. Karena kejiawaanya dalam keadaan normal. Tersangka juga tidak menangis, mentalnya down, sedih maupun drop. Karena yang membahayakan itu kalau tersangka mencoba bunuh diri,” pungkasnya. (big/aim)