Gembong Rampok Lintas Kota Didor

Tersangka Widodo Dwi Prasetyo yang mengalami luka tembak kaki kiri saat dikawal petugas.

Sembilan Kali Merampok di Kabupaten Malang
MALANG – Satu lagi ‘gembong’ rampok asal Kabupaten Malang berhasil dilumpuhkan Satreskrim Polres Malang, akhir pekan kemarin. Widodo Dwi Prasetyo, 25 tahun, terpaksa ditembak kaki kirinya karena berusaha melawan petugas dan kabur saat dikeler. Warga Jalan Raya Desa Bokor, Kecamatan Tumpang ini, merupakan satu dari dua belas komplotan rampok yang selama ini beraksi di wilayah Kabupaten Malang. Untungnya, ia tidak ditembak mati oleh Tim Buser Polres Malang. Karena tiga dari sembilan komplotannya yang sebelumnya sudah ditangkap, ditembak mati petugas Polres Gresik karena melawan, yaitu Mat Sapi, Heni serta Kancil. Sedangkan enam pelaku lain yang sudah diamankan Polres lain seperti Polres Magetan adalah Rom (Abdul Rohman), Juli, Imam, Mul, Curut serta Salik. Dua pelaku yang masih kabur berinisial JK dan ZN.
“Seharunya pelaku seperti Widodo ini ditembak mati ketika melawan dan berusaha kabur. Selain TKP perampokannya banyak dan juga melukai korban, ia sudah empat kali ini keluar masuk penjara. Namun kami berharap, nantinya saat sidang Jaksa bisa menjatuhkan hukuman mati atau seumur hidup,” jelas Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Di Kabupaten Malang, aksi perampokan yang dilakukan Widodo baru diakui sembilan TKP. Yaitu sekali di Kepanjen juragan selep padi, tiga kali di Poncokusumo, sekali di Lawang, dua kali Singosari serta sekali di Pakisaji dan Tumpang. Dari beberapa TKP tersebut, sudah puluhan juta uang yang berhasil dikantongi tersangka.
“Selain beraksi di Kabupaten Malang, komplotan Widodo ini juga melakukan aksinya di beberapa kota di Jawa Timur. Seperti di Lamongan sekali, Gresik lima kali, Ngawi sekali, Mojokerto sekali dan Magetan sekali,” jelas Mantan Kasatreskrim Polres Malang.
Dari semua aksi perampokan, Widodo mengaku sebagai eksekutor dengan menghunus senjata celurit. Bahkan ia tidak segan melukai korbannya jika melawan. “Setiap kali aksi saya biasanya mendapatkan jatah Rp 4 juta –  Rp 5 Juta. Paling banyak adalah Rp 9 juta saat merampok di Tumpang,” ujar tersangka Widodo.
Ia mengatakan, sebelum beraksi merampok terlebih dahulu ada salah satu pelaku yang bertugas mencari dan menggambar calon korbannya. Setelah mendapatkan calon korbannya, malam hari dengan menggunakan mobil sewaan mereka beraksi. Usai merampok, mereka berkumpul di rumah Rom yang diakui sebagai pimpinan rampok, di Kecamatan Puspo, Pasuruan untuk membagi hasil.
“Selama ini saya kabur ke Bali. Dari semua TKP, aksinya kami lakukan sejak 2013. Untuk tahun 2014 hanya tiga kali merampok, yaitu di Poncokusumo dua kali dan sekali di Kecamatan Tumpang,” katanya.
Tertangkapnya Widodo ini, bermula ketika dia berusaha mencuri sepeda motor Suzuki Satria FU milik Lepi, warga Kecamatan Tumpang akhir pekan lalu, bersama dengan temannya berinisial ST. Saat mencuri, ia ketahua korban yang kemudian diteriaki maling. ST temannya berhasil kabur sedangkan tersangka Widodo berhasil ditangkap massa yang kemudian dipukuli ramai-ramai.
“Saat dikejar tersangka ini sebelumnya sempat melemparkan bondet. Akibat lemparan bondet itu, korban menderita luka bakar di kaki dan tangannya,” jelas Wahyu.(agp/aim)