Ditempeleng, Laporkan Guru ke Polisi

MALANG - Siswa kelas 5 SDN Purwantoro 7 Kota Malang, Satriya Cahya Lazuardi dilaporkan menjadi korban kekerasan oleh gurunya sendiri. Kasus itu sudah diadukan ke Polres Malang Kota dan DPRD Kota Malang.
Tindakan kekerasan yang dialami bocah 11 tahun di sekolahnya sendiri itu diadukan oleh pamannya, Fajar Pratomo di gedung dewan kemarin. Ia mengadukan kasus tersebut kepada Ketua Fraksi PAN, Subur Triyono dan Ketua Fraksi Nurani Keadilan, Ya’qud Ananda Gudban.  
Sebelumnya pada 30 Agustus lalu, Fajar melapor secara resmi ke Polres Malang Kota. Bahkan sudah disertai hasil visum. Sembari menunggu polisi memproses kasus tersebut, ia berharap dewan memberi perhatian serius.
“Kejadiannya pada 30 Agustus di SDN Purwantoro 7. Keponakan saya ditempeleng  oleh gurunya sendiri sampai berdarah,” katanya. Guru yang diduga melakukan tindak kekerasan tersebut berinsial I.
“Saya sudah tanyakan ke sekolah, kata gurunya keponakan saya nakal. Seharusnya tidak dengan cara menggunakan kekerasan seperti itu,” katanya. Ironis lagi, lanjut dia, saat Fajar meminta guru tersebut meminta maaf, dia malah mendapat jawaban yang tak tepat. “Kata gurunya itu, luka yang terjadi di pipi keponakan saya karena dipukuli sendiri.  Saya minta agar ada permintaan maaf. Tapi jawabannya, tidak ada yang memukul kok minta maaf,” terangnya.
Ia juga membeber, oknum dari sekolah tersebut sempat meneror. Akibatnya keponakannya merasa tertekan. Bahkan pihak sekolah pernah datang ke rumahnya untuk meminta agar proses hukum tidak dilanjutkan.
“Mereka tanya, karepmu opo? Saya bilang karep opo gimana? Wong pihak saya ini korban kok,” kata dia.
Ya’qud Ananda Gudban Subur Triyono yang menemui Fajar menyesalkan kejadian itu. Sebab menurut dua politisi itu, tindakan dengan menggunakan kekerasan sangat dilarang di lembaga pendidikan.
“Tindakan kekerasan itu sangat tidak dibenarkan. Apalagi terhadap peserta didik,” tegas Nanda, sapaan akrab Ya’qud Ananda Gudban. “Kami akan menggalang dukungan fraksi lain untuk mengusut tuntas kasus ini, untuk mengetahui kejelasannya. Apakah benar demikian, ataukah tidak,” tambah Subur.
Meski demikian, dari data yang diperoleh Malang Post, Fajar yang melaporkan kejadian ini sempat memberi jawaban berubah tentang statusnya. Awalnya ia mengaku sebagai pedagang burung. Namun dalam laporan polisi pekerjaannya disebut sebagai wiraswasta atau wartawan. Selain itu dia juga mengaku sebagai ketua salah satu LSM. Dalam laporan polisi terdapat keterangan, korban mengalami memar pada pipinya, sementara saat melapor ke dewan ia menyebut keponakannya ditempeleng hingga berdarah.
Dalam laporan ke polisi juga, Fajar menuliskan dua alamat berbeda di laporan. Satu alamat di Batam, dan satu lagi adalah alamat rumah keponakannya tersebut. Saat Malang Post ingin menemui langsung Satriya Cahya Lazuardi, Fajar meminta Malang Post untuk datang ke rumah selepas maghrib karena jam tersebut Satriya baru saja pulang mengaji. Namun saat dikunjungi pada jam yang sudah disepakati, Fajar mengatakan keponakannya baru saja berangkat mengaji.
Kepala Dinas Pendidikan, Zubaidah mengaku segera mengecek informasi tersebut secara detail. (van/han)