Kepala TK Tipu Miliaran Rupiah

PUJON - Warga Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang digegerkan dugaan penipuan bermodus kontrak kerja pengadaan seragam dan seminar bernilai jutaan rupiah. Banyak warga menjadi korban yang diduga dilakukan oleh kepala TK, Ika Widyawati (36) ini.
Salah satu korbannya adalah Nanik Sri Wahyuni, 36 tahun, warga Desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Kemarin (5/9) ia mendatangi Mapolres Batu untuk melaporkan kejadian ini. Kepada penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Batu, Nanik mengatakan telah ditipu Ika Widyawati, warga Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Tidak tanggung-tanggung, besaran dana miliknya yang dibawa Ika jumlahnya berkisar Rp 8 miliar. Dalam laporan tersebut, korban Nanik menyertakan barang bukti berupa bukti-bukti pembayaran.
“Sebenarnya saya bermaksud untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, tapi ternyata dalam perkembangannya saya dirugikan tidak hanya secara materi, saya rugi lahir batin, nama baik saya juga tercoreng,” ujar Nanik kepada Malang Post.
Nanik mengatakan kerjasama ini diawalinya sekitar tahun 2012. Saat itu Ika mendatangi korban dan membujuknya untuk ikut pengadaan seragam sekolah. Awalnya ia tidak tertarik menerima ajakan Ika, namun karena terpengaruh bujuk rayu, akhirnya ia pun menyerahkan uang Rp 6 juta untuk modal.  
Saat itu, per seragam yang dibeli, korban mendapatkan keuntungan sebesar Rp 15 ribu. “Dari Rp 6 juta itu, saya mendapatkan keuntungan sebesar Rp 800 ribu. Uang modal dan keuntungan itu ditunjukkan ke saya, tapi pada saat yang bersamaan ia menawarkan kontrak pengadaan seragam dan seminar yang nilainya lebih besar, hingga akhirnya modal serta keuntungan tersebut saya kembalikan lagi ke Ika, malah saya harus nambahi hingga genap Rp 10 juta,” ujar Nanik yang sesekali menangis saat diwawancarai.
Masa kontrak pengadaan seragam dan kegiatan seminar ini pun bervariasi, ada yang jangka waktunya 1 bulan, ada juga yang jangka waktunya  hanya 15 hari. Yang menarik, setiap menawarkan kontrak kerjasama, terlapor Ika selalu menunjukkan lembaran surat resmi berkop instansi yang sedang mengadakan seragam tersebut.
 “Satu waktu saya telepon teman di Ngajum, Kabupaten Malang yang ikut persiapan kegiatan Tiara Gebyar. Saya ingat kalau baru tanda tangan kontrak dengan Ika untuk pengadaan seragam pada kegiatan Tiara Gebyar itu, saat saya cek memang benar ada pengadaan seragam, harga per seragamnya pun sama Rp 65 ribu, karena itu saya percaya sekali kepada Ika, sama sekali tidak menyangka kalau dibohongi,” ujar Nanik.
Dari waktu ke waktu, Ika selalu menunjukkan kepada korban bahwa keuntungannya sudah ratusan miliar rupiah. Namun pada saat yang bersamaan, Ika selalu menawarkan kontrak kerjasama yang lebih besar lagi, hingga uang modal beserta keuntungannya selalu dikembalikan.
Tahun 2014, Ika menawarkan kerjasama dengan keuntungan yang lebih besar, hingga Nanik semakin tertarik ia pun menyerahkan seluruh uang miliknya, bahkan ia meminjam uang milik suaminya sebesar Rp 850 juta. Tidak hanya itu, Nanik mengajak beberapa saudaranya, hingga beberapa saudaranya ikut kerjasama tersebut. “Awalnya lancar, tapi lama kelamaan tidak ada realisasi,” ujar Nanik. Bahkan terakhir sekitar Maret 2014 lalu, Ika menjanjikan akan mencairkan di sebuah bank di Kota Malang.
 “Saya tunggu sampai sore di sana, Ika tidak kunjung datang, saat saya telepon, dia ngomong kalau uang saya dibawa oleh orang lain,” ujarnya. Sejak saat itu, korban sadar kalau sudah menjadi korban penipuan, ia pun meminta pertanggung jawaban Ika.
Saat itu Ika sempat menghilang dari rumahnya, Nanik sempat mencari di Sidoarjo. Ternyata Ika ada di Kalimantan, hingga ia dijemput perangkat Desa Ngabab ke Kalimantan dan dititipkan di Mapolres Batu, karena korban penipuan ini bukan hanya Nanik, namun masih banyak korban lainnya.
 “Saat itu saya tidak melaporkan kepada polisi, karena Ika berjanji akan mengganti uang saya dengan rumah yang dihuni keluarganya, namun sampai saat ini tidak terwujud,” ujar Nanik, hingga akhirnya ia pun memilih melaporkan hal ini ke polisi.
Pasalnya akibat perbuatan Ika, Nanik harus mengganti uang milik beberapa rekanannya, serta keluarga yang diajak kerjasama. Ia harus menganti uang ratusan juta rupiah. “Saya harus jual aset untuk mengganti uang relasi dan keluarga saya yang ikut dikerjasamakan,” ujarnya.
Ternyata tidak hanya Nanik yang menjadi korban, Samsul Huda dan Dina, pasangan suami istri warga Ngabab, Kabupaten Malang juga menjadi korban. “Uang saya yang dibawa (Ika-red) juga besar, miliaran rupiah,” ujar Samsul.    
Awalnya ia juga diajak kerjasama bisnis pengadaan seragam. Setiap memberikan modal, ia selalu ditunjukkan seragam yang dibelinya, juga menunjukkan seragam itu dipergunakan untuk siapa saja. Begitu selesai pengadaan, Ika selalu datang ke rumah sambil membawa modal dan keuntungannya. “Kalau sudah begitu, tangan ini sampai capek menghitung uangnya, namun tidak kita simpan uang itu, tapi dikembalikan lagi kepada Ika untuk kontrak kerjasama yang selanjutnya yang nilainya pasti lebih besar,” ujar Samsul.
Sedikit berbeda dengan korban Nanik, Samsul malah tidak mempunyai bukti pembayaran, pasalnya antara Samsul dengan keluarga Ika masih ada hubungan darah. “Karena tidak ada bukti, kita tidak melaporkan ke polisi,” ujarnya.
Korban lain yang berhasil ditelusuri Malang Post adalah bidan desa di Kecamatan Pujon. Hanya saja bidan ini wanti-wanti kepada Malang Post agar tidak menyebutkan identitasnya. Ia menceritakan awalnya diajak kerjasama mengadakan seminar dan pengadaan seragam.
“Saya percaya saja, dia bisa menunjukkan bukti-bukti yang riil, jangan ditanya berapa uang saya yang hilang, saya jadi pusing lagi kalau mengingat itu,” ujarnya.
Ditempat terpisah, AKP Adi Sunarto, Kasat Reskrim Polres Batu mengatakan pihaknya sampai saat ini masih mempelajari laporan tersebut. “Kita pelajari posisi kasusnya seperti apa,  baru kita lakukan gelar perkara awal untuk mendapat gambaran ada tidak indikasi pidana, terus siapa pihak-pihak yang akan kita mintai keterangan,” ujarnya.
Dari saksi korban, penyidik sudah membuat berita acara, serta mengamankan barang bukti, termasuk salah satunya kwitansi serta rekap transaksi selama tahun 2012 hingga tahun 2014. (muh/han)