Polrestabes Bongkar Bisnis Seks On Line

Barang bukti yang diamankan petugas dari Mami Dee ketika ditangkap di Novotel Hotel Surabaya

SURABAYA – Bisnis prostitusi di Surabaya, sepertinya sulit untuk dihilangkan begitu saja. Meski lokalisasi Dolly telah ditutup, jaringan bisnis esek-esek tetap tumbuh subur di Surabaya.
Polrestabes Surabaya, Selasa kemarin, berhasil membongkar bisnis prostitusi kelas atas dengan memanfaatkan Blackberry Messenger (BBM). Mami Dee (35 tahun), bos bisnis seks on line  itu ditangkap di di kamar 762 Novotel Hotel Surabaya.
‘’Konsumennya lelaki hidung belang kelas atas. Karena tarif yang dikenakan tergolong cukup tinggi,’’ kata AKBP Sumaryono, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya di Mapolrestabes, Selasa siang.
Menurut Sumaryono, mahalnya tarif yang dikenakan Mami Dee terhadap pelangganya karena profesi anak buahnya rata-rata Sales promotion Girl (SPG). Karena profesi itu pula tidak salah jika sekali booking untuk short time dikenakan biaya Rp 2 juta/jam bahkan Rp 5 juta.
‘’Transaksi selalu dilakukan di hotel atau apartemen di Surabaya. Tidak hanya pengusaha, pengakuan tersangka ada juga para pejabat yang memanfaatkannya,’’ paparnya dengan tidak menyebut pejabat dimaksudkan.
Mami Dee alias Dewi memasarkan anak asuhnya menggunakan jaringan BBM atau media sosial facebook. Total anak buahnya sekarang ini mencapai 20 orang dan rata-rata kategori ABG (anak Baru Gede).
‘’Pelanggannya mayoritas dari Jatim saja. Meski begitu tersangka mengaku omsetnya lumayan besar. Karena, konsumennya memang kalangan atas. Tidak ada pelajarnya,’’ ujar mantan Kanit Tipikor Polda Jatim ini.
Dalam pengakuannya, lanjut Sumaryono, anak buah tersangka rata-rata adalah teman-temannya sendiri. Mereka, anaknya buahnya mengaku membutuhkan uang dan minta tolong Mami Dee untuk mencarikan lelaki hidung belang.
Karena perbuatannya ini, Mami Dee dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007, tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan atau pasal 506 KUHP.
‘’Tersangka mengaku baru menjalankan bisnisnya 3 bulan lalu. Karena sebagai bos, tersangka mendapatkan 30 persen dari nilai transaksi dan 70 persen menjadi hak milik anak buahnya,’’ pungkasnya. (has)