Polisi Tangkap Peneror Polsek Karangploso

MALANG – Beberapa hari terakhir, Polres Malang diguncang dengan aksi teror gelap yang dikirim melalui SMS. Isinya mengajak melakukan penyerangan kantor Mapolsek Karangploso. Salah satu SMS gelap itu dikirim ke nomor HP Kanitreskrim Polsek Karangploso, Aiptu Engkos Kosasih, pada Minggu (7/9) lalu.
Berkat kepintaran polisi, pelaku teror tersebut akhirnya berhasil dibekuk Rabu (10/9) lalu. Tersangkanya ternyata seorang perawan tua, yaitu Kartika Probo Putriningsih, 45 tahun. Ia ditangkap di rumahnya Perum Sleman Permai I, Gg IX, RT05 RW13, Tridadi Sleman, Jogjakarta.
Saat diamankan, Kartika sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ia mengakui semua perbuatan teror tersebut. Ketika digiring ke Polres Malang termasuk saat diambil gambar, dia menangis. “Barang bukti yang kami amankan adalah dua buah HP merek Cross dan Nokia serta delapan buku tulis yang berisi nomor telepon Kanitreskrim, Kasatreskrim serta Kapolres diberbagai wilayah,” terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Menurut Wahyu, aksi teror gelap melalui SMS yang dikirim tersangka Kartika kepada Kanitreskrim Polsek Karangploso, terjadi mulai pagi. Ada 10 SMS yang dikirim dalam waktu sehari dari nomor 082242499693. Isinya antara lain, mengajak ikut untuk menyerang Polsek Karangploso, karena (pengirim, red) pernah dimarahi padahal tidak salah.
SMS selanjutnya sudah ada 20 orang yang ikut bergabung untuk melakukan penyerangan. Kemudian hasil musyawarah sudah sepakat menyerang tinggal menunggu waktu lengah. Serta pesan SMS yang dikirim jangan sampai ada polisi yang mengetahui rencana itu.
“Dari SMS yang ditunjukkan anggota itulah, kami lalu melakukan penyelidikan dengan memancing keberadaan pelaku. Ternyata dikatakan bahwa pelaku berada di Sleman Jogjakarta, akhirnya kami cari dan berhasil ditangkap. Ia kami jerat dengan pasal 45 ayat 2 dan 3 jonto pasal 28 ayat 2 atau pasal 29 Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, dengan ancaman di atas 20 tahun kurungan penjara,” jelas mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini, sembari mengatakan bahwa tersangka sudah diperiksakan ke psikiater, sama sekali tidak mengalami gangguan kejiwaan.
Dalam pemeriksaan, Kartika mengatakan kalau dia dapat nomor-nomor polisi itu, dari Bayu. Ia meneror polisi juga atas suruhan Bayu. Hanya siapa Bayu tersebut, ia tidak menyebut. Sebaliknya dia malah mengaku ketakutan karena diancam oleh Bayu. “Saya disuruh Bayu, saya takut dengannya karena pernah diancam. Saya mengirim SMS polisi, karena setiap minggu mendapat kiriman pulsa Rp 5 ribu,” katanya.
Lalu siapa saja polisi di Malang yang pernah di teror?, Kartika mengaku selain Kanitreskrim, juga Kapolres Malang. Bahkan dia juga menunjuk nomor telpon Kasatreskrim. “Saya terakhir mengirim SMS ke Kapolres Malang,” tuturnya.(agp/aim)