Mabuk, Mahasiswa Bacok Mahasiswa

MALANG – Belum genap sebulan dinobatkan sebagai kelurahan terbaik se-Indonesia, Kelurahan Tlogomas harus menanggung malu akibat kelakuan para pendatang di kawasan setempat. Kamis (11/9/14) malam lalu, terjadi perselisihan antara tiga suku sekaligus, Ambon, Timur Leste dan NTT.
Perselisihan itu terjadi di kawasan RW 08, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Tepatnya, terjadi di dekat Taman Terapi Tlogomas. Warga setempat sempat diresahkan akibat kelakuan mereka. Apalagi, terdengar kabar kalau pelaku melakukan pembacokan.
Menurut keterangan warga setempat, kejadian bermula saat sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB - 16.00 WIB. Hadi, pedagang es degan di kawasan tersebut menjadi saksi mata kejadian di sore hari itu. "Tiba-tiba ada orang bertelanjang dada, badannya penuh tato memukuli mobil yang lewat jalan ini," ujarnya kepada Malang Post saat ditemui pada Kamis malam lalu.
Berdasarkan informasi yang beredar di warga setempat, pelaku pemukulan itu berasal dari Maluku. Warga menduga, saat itu pelaku dalam kondisi mabuk. Resah melihat kelakuan pria tersebut, seorang warga datang mengusir pelaku dengan membawa sebilah kayu panjang. Dia mengancam pelaku untuk pergi dengan kayu tersebut. "Pelaku akhirnya pergi dan lari ke sana (selatan, red)," tambah Hadi.
Saat aktivitas kembali normal, tiba-tiba pelaku ini kembali ke tempat tersebut sekitar pukul 18.00 WIB dengan membawa dua teman lainnya. Warga yang ketakutan, memilih untuk masuk ke dalam rumah. "Saya di dalam saja saat itu, tidak berani keluar," ujar ibu penjaga kios yang tidak ingin menyebutkan namanya itu. Kendati demikian, ibu berambut ikal ini menduga kalau sempat ada pemukulan di sana.
Imercio Ximenes, mahasiswa asal Timor Leste mengaku temannya sempat dipukul saat itu. "Saya dan teman saya sedang minum di warung kopi, tiba-tiba mereka datang dan memukul teman saya tiga kali," ujar dia saat ditemui di Mapolres Malang Kota malam itu.
Imercio mengatakan, pelaku datang dan sempat melirik ke arah dia dan temannya. Sempat diam beberapa saat, kemudian pelaku mendatangi Imercio dan teman-temannya itu. Saat itulah pemukulan terjadi. "Saya tidak tahu mereka siapa. Bahkan, saya saja baru kali ini melihat mereka," tegasnya.
Selain pemukulan, pelaku juga diduga melakukan pembacokan di tempat lain. Sasarannya adalah Iksen Rudolf Fallo, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tungga Dewi (Unitri), asal NTT. Korban terkena luka bacok di kepala bagian kanan.
Paman korban, Samuel Faot, mengatakan keponakannya itu diserang di depan kostnya, Jl Tlogosuryo. "Dia diserang pelaku secara tiba-tiba dengan menggunakan pisau sepanjang 30 cm. Lukanya cukup dalam, dokter sampai harus melakukan CT scan," ujarnya kepada Malang Post di depan RSSA Malang.
Kemungkinan, lanjut Samuel, setelah melakukan pemukulan terhadap teman Imercio, pelaku langsung menghampiri korban dan melakukan aksi pembacokan tersebut.
Terpisah, Kapolsek Lowokwaru, AKP Kuswara membenarkan ada korban pembacokan saat kejadian. "Korban (pembacokan, red) dibawa ke RSI Unisma. Karena harus di-CT scan, dia dirujuk ke RS Syaiful Anwar," tegas pria asal Jawa Barat ini.
Ditambahkan, warga melapor ke Polsek Lowokwaru sekitar pukul 18.30 WIB. Kemudian, Polisi Lowokwaru datang melakukan pengamanan dan penyelidikan. Kuswara mengatakan, kebetulan saat polisi datang, pelaku belum pergi jauh. "Kami langsung melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku. Dua orang tertangkap dan dibawa Satreskrim Polres Malang Kota untuk diperiksa," pungkasnya.

Satu Orang Ditetapkan Tersangka
Satu dari dua pelaku penganiayaan terhadap dua mahasiswa Unitri, yang diamankan Satreskrim Polres Malang Kota, kemarin langsung ditetapkan sebagai tersangka, yakni Alysious Leleban. Sedangkan seorang rekannya Sultan Narahan, untuk sementara hanya menjadi saksi.
Pernyataan itu disampaikan Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro, kepada Malang Post kemarin. Ia mengatakan, Alysious Leleban dijadikan tersangka karena terbukti bersalah. Selain keterangan saksi yang menguatkan, tersangka juga mengakui perbuatannya.
“Tersangka mengaku telah memukul dan mengancam korban Bonaventura Mauk. Namun ia tidak mengaku telah membacok Iksen Rudolf Fallo. Tetapi dalam pengakuan korban Iksen, Alysious inilah orang yang membacoknya,” terang Adam Purbantoro.
Sedangkan temannya Sultan Narahan, lanjut Adam untuk sementara hanya sebagai saksi. Termasuk polisi masih akan mengembangkan, apakah ada pelaku lain selain Alysious. “Tersangka Alysious kami jerat dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951 tentang kedapatan membawa senjata tajam,” jelasnya.
Apa motif di balik penganiayaan tersebut ? Adam menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sama sekali tidak ada dendam pribadi. Antara korban dengan pelaku, sama sekali tidak kenal meskipun mereka satu kampus. “Penganiayaan dilakukan karena tersangka terpengaruh minuman keras,” ujarnya.
Adam menambahkan dari dua kejadian penganiayaan, diperkirakan merupakan satu rentetan. Pelakunya diduga sama. Pertama dialami Iksen Rudolf Fallo, 22 tahun sekitar pukul 18.00. Saat itu korban sedang berada di depan warung Pak Yono, di Jalan Tlogo Suryo – Tlogomas.
Tiba-tiba korban dihampiri tiga orang, salah satunya langsung memukul dan membacok kepala korban. Usai menganiaya pelaku langsung kabur. Korban Iksen yang bersimbah darah oleh warga ditolong dengan dilarikan ke RSI Islam Dinoyo, sebelum akhirnya dirujuk ke RSSA Malang.
Selang satu jam, sekitar pukul 19.00 penganiayaan dialami Bonaventura Mauk, 28 tahun, di warung depan Institut Teknologi Palapa (ITP) Tlogomas. Saat itu korban sedang minum kopi bersama temannya. Tiba-tiba datang pelaku Alysious dan dua temannya langsung memukul.
Korban yang tak terima mencoba membalas dengan melempar gelas. Pelaku yang terpancing emosi, langsung mengeluarkan senjata tajam lalu mengancam akan membunuh. Tetapi belum sempat terlaksana, polisi datang dan langsung mengamankannya.(agp/han)