Rusuh Lagi, Keluarkan Dari Tlogomas

MALANG – Aksi bacok yang dilakukan mahasiswa di kawasan RW 08, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, dinilai telah mencoreng nama baik kelurahan tersebut. Padahal, baru pada 17 Agustus 2014 lalu, kelurahan ini dinobatkan sebagai kelurahan terbaik se-Indonesia.
Parahnya, perselisihan yang sering terjadi ini melibatkan antar suku yang sekaligus menjadi pendatang. Otomatis, warga juga menjadi korban ketakutan setiap kali perselisihan dimulai.
Informasi yang dihimpun Malang Post, kerusuhan antar suku sudah dua kali terjadi di lokasi yang sama. Pertama, terjadi pada akhir bulan Mei 2014 lalu. Pertikaian tersebut melibatkan suku Ambon dan Sumba. Korbannya, terkena luka sayat dan luka memar. Beberapa hari kemudian kasus selesai dengan permintaan maaf kedua belah pihak.
Belum lama ini, Kamis (11/9/14) malam lalu, kembali terjadi pertikaian antar suku di kawasan lurah Tlogomas. Pertikaian tersebut melibatkan tiga suku, Ambon, NTT dan Timor Leste. Kondisi korban yang berasal dari suku Soe, NTT ini lebih parah lagi. Korban yang juga mahasiswa Universitas Tri Tunggal Dewi, terluka di kepala bagian kanan karena dibacok pelaku. Lukanya cukup dalam dan panjang.
Penduduk setempat sempat resah saat kejadian terakhir ini. "Baru saja piala kelurahan terbaik diarak keliling kampung. Sekarang sudah rusuh lagi," sahut seorang warga yang bertubuh tambun, Kamis malam lalu.
"Sudah perjanjian dengan pihak kampus, kalau rusuh lagi di kampung kami, keluarkan saja," sahut Hadi (42 tahun), penduduk setempat yang juga menjadi saksi mata saat pertikaian terjadi. Warga menilai, perangkat kelurahan sebaiknya turun tangan dalam mengatasi hal ini.
Lurah Tlogomas, Ariyadi Wardoyo, geram dengan perlakuan para pendatang tersebut. Sayangnya, dia mengaku tidak bisa melakukan apa-apa. "Pelaku sudah berurusan dengan polisi. Saya serahkan kepada mereka karena telah masuk ranah hukum," ujarnya kepada Malang Post saat dihubungi kemarin.
Dia mengatakan, perangkat kelurahan telah menjalin komunikasi dengan baik kepada pihak kampus terkait kerusuhan yang marak terjadi. Ariyadi mengklaim, kedua belah pihak memiliki komitmen terkait dengan keamanan di kawasan tersebut.
Ditambahkan, dengan kasus ini Ariyadi mengatakan akan lebih memperkuat komunikasi dengan pihak kampus, terkait keamanan di wilayahnya.
"Bagi kelurahan Tlogomas, yang penting warga tidak tersulut dengan pertikaian mereka. Demikian juga dengan pelaku, asalkan tidak bergesekan dengan warga tidak masalah," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Jawa Timur, Prof Dr Suko Wiyono mengatakan, sebaiknya pihak kampus juga lebih aktif dalam menangani kasus ini. "Berilah pemahaman kepada mereka, meskipun berbeda harusnya saling menghargai," tegasnya. (erz/feb)