Dilaporkan Memperkosa, Kepala BPPT Ngaku Diperas

Korban bunga, didampingi kuasa hukumnya

KEPANJEN - Bunga (Nama Samaran), 15 tahun, warga Kecamatan Ngantang didampingi kuasa hukumnya, melaporkan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Malang, BS yang dituduh melakukan perkosaan terhadap Bunga, kepada petugas Polisi di Polres Malang.
Kuasa hukum Bunga, Wiwid Tuhu mengatakan, korban diperkosa di Jakarta pada November 2013 silam, di rumah anak pelaku.
“Korban merupakan warga Kabupaten Malang, kami meminta perlindungan dan melapor ke Mapolres Malang,” ujar Wiwid kepada Malang Post, kemarin.
Dijelaskannya, Saat itu, korban bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat itu. “Korban diperkosa sebanyak empat kali. Kejadian pertama kali pemerkosaaan itu, ya berada di Jakarta. Saat itu BS tengah dinas di Jakarta,” terangnya.
Saat itu korban diajak pelaku masuk kamar dan langsung mengunci pintunya. sebelumnya pelaku sudah mengunci semua pintu rumah. Mulanya, korban mencoba melawan, tapi mulutnya dibekap. Setelah kejadian itu, pelaku mengancamnya agar ia tidak menceritakan hal itu pada anak maupun istinya.
“Ketika BS bertugas ke Jakarta, juga menginap di rumah anaknya itu. Setelah kejadian pemerkosaan pertama kali itu, pelaku mengulangi perbuatan hingga tiga kali,” tegasnya. Lanjut dia, saat melakukan hal tidak senonoh itu, korban diberi uang senilai Rp 3,5 juta. Tujuannya supaya korban tidak melaporkan kejadian tersebut kepada istri atau anaknya.
Dalam tekanan seperti itu, korban mencoba untuk sabar dan tetap bertahan.. Namun karena sudah tak sanggup menahan beban, pada April 2014 Bunga izin minta pulang dengan alasan keluarga. Kemudian korban ke rumah kerabatnya, Tarmini di Kalimantan. Di situlah, korban menceritakan kejadian yang dialaminya.
“Tarmini membawa korban ke Malang, kemudian melaporkannya kepada kami. Kami tidak serta merta menerima laporan ini, tapi kami pelajari terlebih dahulu. Setelah ada bukti dan saksi, barulah kami mengekspos kasus ini,” terangnya.
Sementara itu, Kanit UPPA Satreskrim Polres Malang Iptu Sutiyo yang menerima laporan itu, mengaku masih akan mempelajari kasusnya. “Kalau TKP-nya di Jakarta, maka harus dilaporkan di Jakarta pula. Tapi, kalau kemungkinan kasus ini ada sangkut pautnya di Kabupaten Malang, maka bisa diproses,” terangnya.
Sementara itu, BS membantah tegas apa yang ditduhkan kepadanya. Mantan kepala Dinkop dan UMKM Kabupaten Malang ini menuding Bunga menjadi alat untuk eksploitasi untuk memeras dirinya. Karena sebelum kejadian ini, dia mengaku dikirimi pesan singkat yang berisi ancaman serta pemerasan.
“Nomornya tidak dikenal. Isinya, kalau ingin selamat dan tindakan pemerkosaan yang saya lakukan tidak diketahui, maka harus mentransfer uang Rp 200 juta. Tentunya saya tidak menuruti pemerasan itu,” terangnya di tempat terpisah.
Dijelaskannya, dalam pesan tidak dikenal itu lantas mengancam akan melaporkan kasus ini ke kepolisian. Bambang Sumantri mengaku tidak gentar dengan ancaman tersebut.
“Kalau saya tidak salah, mengapa harus takut. Monggo kalau saya dilaporkan ke kepolisian. Malahan itu lebih baik, supaya bisa dibuktikan kebenaran kasus ini,” terangnya.
Dia mengaku kenal korban, karena bekerja sebagai PRT di rumah anaknya di Jakarta.
“Yang saya sangat sayangkan, anak itu menjadi ekspolitasi dan alat untuk oknum tertentu untuk melakukan hal tidak dibenarkan,” sesalnya. (big/aim)