Nyergap, Polisi Malah Dikepung Massa

MATARANTAI kejahatan penggelapan mobil sindikat Anggraini Cs, dimulai Rabu, 19 Februari lalu sekitar pukul 18.00. Wawan datang seorang diri ke rumah Sa’i. Dalam transaksi itu, Wawan mengatakan akan menyewa mobil selama 10 hari dengan tarif perharinya Rp 250 ribu.
Kepada Sa’i, Wawan mengaku mobil akan dipergunakan sebagai alat transportasi usaha kayu di Probolinggo. Malam itupula Sa’i menyerahkan mobilnya kepada Wawan. Namun ketika masa sewa habis, mobil tidak kunjung dikembalikan Wawan. Bahkan uang sewapun sama sekali belum diserahkan.
Sa’i benar-benar kelabakan, apalagi handphone Wawan sudah tidak aktif lagi. Begitu juga saat didatangi ke rumahnya di Jl Samadi, tersangka ternyata sudah tidak tinggal lagi di tempat itu. Hingga 3 bulan berjalan, tidak ada penjelasan kemana mobilnya berada. Lantas, Sa’i pilih lapor ke Polsek Junrejo.
Rentang sehari setelah lapor polisi, Sa’i mendapat telepon dari seseorang bernama H Fais.“ Fais nelpon dengan mengatakan, bila Sa’i menginginkan mobilnya kembali maka harus memberikan imbalan uang Rp 1 juta,”ungkap Kapolsek Junrejo.
Polisi pun memasang perangkap dengan meminta Sa’i menelepon Fais. Ketika ditelepon, Fais justru mengaku sedang berada di Jakarta menghadiri rapat tim sukses Prabowo. Namun, dari HP yang dipergunakan menjebak itu diketahui bahwa popsisi handphone Fais berada di salah satu jalan di Kecamatan Kepanjen.
Dalam perbincangan lewat telepon akhirnya disepakati, uang Rp1 juta sebagai pelicin informasi dari Fais itu, diminta diserahkan kepada istri Fais. Disepakati pula penyerahan di halaman parkir Stadion Kanjuruhan. Ketika penyergapan tersebut, istri Fais sempat meneriaki polisi maling...maling.
Buntutnya, warga sekitar halaman parkir Stadion Kanjuruhan bergerak mengepung Kapolsek Junrejo bersama anakbuahnya. Namun itu semua sudah diantisipasi petugas yang secepatnya mengeluarkan senjata laras panjang maupun pistol. Massa pun menjadi sadar sedang berhadapan dengan aparat kepolisian.

DIGADAIKAN
Dari situlah polisi berhasil mengorek informasi, bahwa mobil milik Sa’i berada di tangan Susilo warga Pasuruan. Polisi pun melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan mobil tersebut.“ Dalam perkara ini Susilo kami periksa sebagai saksi, dia menyatakan menerima mobil tersebut dalam system gadai dengan jangka waktu sebulan,” ujar Iptu Joko Susilo.
Awal kejahatan dilakukan Trio, Wawan- Anggraini- Anita. Setelah berhasil menggelapkan mobil milik Sa’i, Anita yang mengaku istri polisi inimengontak Fais. “ Setelah kami cek, ternyata Anita mantan istri polisi alias sudah bercerai,’’papar Joko.
Kemudian, mobil milik Sai itu oleh H Fais digadaikan kepada Susilo seharga Rp 30 juta. Namun uang hasil gadai itu hanya diberikan kepada Wawan sebesar Rp 20 juta. “ Sedangkan Rp 10 juta dikantongi H Fais tanpa sepengetahuan Wawan,” ungkap Joko.
Dana Rp 20 juta tersebut, menurut Wawan dipergunakan untuk membayar sebuah perumahan di Probolinggo milik Anggraini dan Anita. “Rumah itu akan disita bank, karena tidak membayar angsuran selama beberapa bulan. Karena itulah agar tak disita, saya disuruh melakukan take over dengan menyerahkan uang Rp 12 juta kepada pihak bank,” aku tersangka Wawan.
Sedangkan sisanya Rp 8 juta, diberikan kepada Anggraini dan Anita sebesar Rp1 juta. Sedangkan Rp 7 juta dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kini polisi tinggal mengejar Anggraini dan Anita, yang diperkirakan masih membawa dua mobil hasil penggelapan lainnya.   
Tidak sekali itu saja, polisi juga menemukan keterangan bahwa  H Fais yang keseharian bekerja menjadi staf di sebuah kantor notaris mengaku sudah tiga kali menggadai mobil, semua dilakukan atas permintaan kenalannya. (muh/lyo)