Polres Malang Kota Panen Ganja

TERTANGKAP : Tino dan Kacong, bersama barang bukti enam bungkus ganja seberat 6  kilogram.

MALANG – YFP alias Tino, warga Jl Bromo Gg I, Kecamatan Klojen, Kota Malang, termakan perbuatannya sendiri. Pemuda berusia 20 tahun ini, didapati polisi menyimpan ganja seberat enam kilogram. Kepada polisi, Tino mengaku mengonsumsi barang haram ini hanya untuk coba-coba.
"Dia (Tino, red) mengaku kepada polisi cuma ingin coba-coba," jelas Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Nunung Anggraeni.
Berdasarkan keterangan yang berhasil digali polisi, Tino baru dua kali mengonsumsi ganja tersebut. Terhitung saat dia membelinya pada 15 Agustus 2014 silam.
Mulanya, polisi menangkap AWF alias Kacong, warga Jl Kelapa Sawit, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Kacong diringkus polisi pada Rabu, 10 September 2014 lalu. Pria berusia 21 tahun ini kedapatan membawa sekantung ganja seberat 9,18 gram di saku jaketnya.
Hasil pengembangan kasus Kacong, diketahui kalau Kacong membeli ganja tersebut dari seorang yang baru dikenalnya selama dua bulan seharga Rp 100.000. Orang ini adalah Tino. Pada Kamis (11/9/14) dini hari, polisi langsung meringkus Tino di kediamannya.
"Petugas menemukan sebuah HP. Di HP tersebut, ada foto sebungkus ganja kering yang dibalut lakban warna kuning sedang ditimbang," terang Nunung. Kepada polisi, tersangka mengaku bahwa ganja yang sedang ditimbang itu sedang dititipkan di rumah temannya, yakni SFL.
Sayangnya, saat menggeledah rumah SFL, polisi tidak mendapati SFL di rumahnya. Akan tetapi, polisi menemukan enam bungkus besas daun ganja kering. Ganja tersebut dimasukkan ke tas ransel warna hitam dan disimpan di sangkar burung warna merah.
"Tino mengaku barang tersebut merupakan miliknya," jelas Nunung. Enam bungkus ganja seberat enam kilogram ini, Tino beli dari FIR di lokasi, depan cafe Sangrilla Jl Pattimura, Kota Malang.
Akibat perbuatannya tersebut, Tino dijerat pasal 114 UU RI No. 35 tahun 2009 dengan ancaman 5 sampai 20 tahun penjara. Sedangkan Kacong, dijerat pasal 111 UU yang sama dengan ancaman 4 sampaio 12 tahun penjara. "Sampai sekarang, polisi masih terus menyelidiki keberadaan SFL dan FIR," urai Nunung.
Dengan pengungkapan kasus tersebut, nampaknya Polisi harus lebih giat dalam mengungkap jaringan pengedar narkoba di Kota Malang. Sebab, sepintas terdengar kabar kalau di Kota Malang merupakan pasarnya para pengedar. Terbukti, dalam bulan September saja, sudah sepuluh kasus narkoba terungkap.
"Sejak rilis kasus Sabu yang menimpa Ibu Rumah Tangga waktu itu (1/9/14), sudah ada sepuluh kasus narkoba yang diungkap. Berarti, ini pengungkapan kasus ke-34," pungkasnya.(erz/ary)