Tuntut segera selesaikan kasus-kasus korupsi

Teks Foto: Mahasiswa yang tergabung dalam KPK saat melakukan aksi di Kejari Malang.

MALANG – Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Pengawas Kejaksaan (KPK), kemarin mendatangi kantor Kejakaan Negeri (Kejari) Malang. Mereka yang berasal dari beberapa lembaga, seperti MCW, HMI, Intrans Institute, LHMI, Fordema dan Formapt ini melakukan aksi menuntut Kajari Malang yang baru, Hendrizal Husin, MH, menyelesaikan tunggakan kasus-kasus korupsi yang ditinggalkan oleh Munasim, SH.
Mereka berharap dalam waktu setahun, beberapa kasus korupsi yang menjadi tunggakan bisa segera diselesaikan. Terutama kasus dugaan korupsi pembebasan lahan kampus UIN Maliki Malang di Desa Tlekung, Junrejo-Kota Batu. Serta kasus lainnya seperti korupsi Unikama, dan kasus korupsi paku jalan.
Dalam aksi mereka, selain menutup wajah dengan topeng berwajah kepala tikus, mereka juga membawa beberapa poster. Yaitu woy pak Kejari !!! Mau kemana ??? kok pindah duluan ngurus kasus gak becus. Kajari Baru jangan pakai gaya lama. Gimana kabar kasus UIN, paku jalan dan lain-lain. Kejaksaan bukan tempat popularitas, satu tahun tidak selesai Kejari bakas.
Sayang, Hendrizal Husin, MH, Kajari yang baru kemarin tidak ada ditempat. Usai pisah kenal dengan Munasim di Club House Istana Dieng Selasa (30/9) malam, mantan Kajari Maluku Utara ini langsung terbang ke Maluku untuk menyelesai tugasnya. Otomatis para mahasiswa ditemui oleh Kasi Datun, Subhan SH MH sebagai PLH Kajari.
Mereka menyerahkan kado berupa obat masuk angina (tolak angin) serta diapers (popok) pada Subhan. “Obat masuk angin itu supaya Kejari Malang tidak lagi angin-anginan lagi. Sedangkan popok, supaya tidak bocor dan bisa menyelesaikan semua kasus. Karena kasus UIN, sudah sejak 2010 dan empat kali pergantian Kajari, namun kasusnya belum tuntas,” terang Zainudin, Ketua MCW.
Mahasiswa yang tergabung dalam KPK ini, juga meminta Kasi Pidsus, Edi Winarko SH MH untuk keluar menemui mereka. Mahasiswa menanyakan soal perkembangan kasus UIN, termasuk perkembangan penyidikan mantan rector, Imam Suprayogo. Karena sejak ditetapkan tersangka, Imam Suprayogo belum pernah diperiksa. Dua kali pemanggilan pemeriksaan, selalu gagal.
Saat ditanya itu, Edi Winarko mengatakan kalau prosesnya masih penyidikan. Ia meminta waktu untuk bekerja. Namun ketika ditanya apakah sudah ada pemeriksaan lanjutan, jawaban Edi sempat berbelit. Tetapi ia mengakui kalau Kejaksaan Malang, masih belum memanggil lagi Imam Suprayogo untuk diperiksa sebagai tersangka.
“Panggilan sudah dua kali dulu tetapi yang bersangkutan gagal diperiksa. Dan sejak itu belum ada pemanggilan lagi, karena kami masih sibuk memeriksa saksi-saksi lain. Terkait rumor kalau kasus Imam Suprayogo akan di SP3 (surat penghentian penyidikan perkara), itu tidak benar,” terang Edi Winarko.
Sementara, Subhan, Kasi Datun mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh mahasiswa akan disampaikan kepada Kajari. Termasuk keinginan mahasiswa yang ingin bertemu dengan Kajari Malang, pada Senin (6/10) nanti. “Saya beri nilai positif pada teman-teman yang mendukung penuntasan kasus. Tetapi perlu diketahui bahwa mengungkap kasus harus perlu teliti dan proses, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan,” paparnya.(agp)