Pemasok Arak Jowo Dikepung Polisi

BATU- Razia dramatis, Kamis tengah malam lalu berlangsung di Jalan Semeru Kota Batu. Sebagian petugas dari 37 orang personil yang diterjunkan Kapolres untuk melakukan operasi, terpaksa harus mengejar sebuah mobil Avanza bermuatan barang mencurigakan.
Bahkan karena begitu kuatnya meloloskan diri, Agus, 33 tahun sang pengemudi bersama seorang penumpangnya, Djati, 38 tahun nekad menghentikan mobil lalu melarikan diri ke arah perkampungan wilayah jantung Kelurahan Sisir itu dengan menggalkan armadanya.
Namun polisi yang memacu motor, berhasil meringkus keduanya. Setelah diperiksa, ternyata Djati sebagai pihak pencalter mobil itu. Warga Dusun Ponco Kerek, Desa Poncil, Kabupaten Ngawi, itu berusaha kabur lantaran ketakutan akibat di dalam mobil yang disewanya penuh muatan minuman keras jenis Arak Jowo alias Arjo berkadar akohol tinggi.
Kelanjutannya, Djati maupun Agus diamankan ke Mapolres Batu sekaligus barang bukti Arjo tersebut.“ Keduanya melanggar Permenkes RI No 59 tahun 1962, karena menjual minuman keras illegal,” terang AKP Waluyo, Kasubag Humas Polres Batu.
Waluyo mengatakan, razia yang dilaksanakan merupakan operasi rutin yang dilakukan untuk menekan angka kriminalitas di wilayah hukum Polres Batu. Malam itu, Polres Batu sengaja mengerahkan 37 personil. Jl Semeru menjadi sasaran razia lantaran merupakan salah satu jalan akses menuju kota ini.
Mobil Toyota Avanza nopol AE 817 EG, yang ikut dijadikan barang bukti terdapat 350 botol Arjo dikemas dalam karung, yang sedianya akan dijual di sekitaran Pasar Lawang, Kabupaten Malang. Minuman Arak Jowo itu dibeli tersangka Djati dari Lamongan, dan diangkut mobil yang disewa perharinya Rp 250 ribu. “Saya membeli satu botol Arjo ini seharga Rp 10 ribu, kemudian saya jual seharga Rp 15 ribu,” ujarnya.
Jika berhasil menjualnya, dia bisa mengeruk keuntungan dalam sekali penjualannya sebesar Rp 1.750.000. Bila dikurangi berbagai kebutuhan seperti sewa mobil dan kebutuhan selama perjalanan, bersih minimal uang yang bisa dibawa pulang oleh Djati, sekitar Rp 1 juta dalam sekali pengiriman.    
Dari Lamongan, mereka memang sengaja pilih jalur Jombang – Kasembon – Batu – Lawang. Namun ketika melewati Jalan Semeru, mereka melihat ada razia polisi. Djati pun memerintahkan Agus untuk ngebut, tapi polisi mengejar mereka. Terpaksa Djati minta Agus menghentikan mobil untuk diajak lari. (muh)