Giliran Ketua Gapoktan Podojoyo Pakisaji Ditahan

Munadi  harus mempertanggung-jawabkan perbuatan

KEPANJEN-Korupsi bagi-bagi uang Rp 1,2 miliar program Gerakan Produksi Peningkatan Pertanian berbasis Korporasi (GP3K) Tahun 2011 , menyeret tersangka baru. Jika pada Januari 2014 lalu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komunitas Petani Peternak Nelayan Indonesia (Koppoindo) Kabupaten Malang, Pupuh Swastomo, dijebloskan ke tahanan Mapolres Malang. Maka Jumat kemarin, giliran Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Munadi, 53 tahun warga Desa Sutojayan, Kecamata Pakisasi, yang bernasib sama karena diduga memakai dana untuk bantuan ketahanan pangan cuaca ekstrem itu.
Pelaku dinilai bersalah, karena dianggap bukan kelompok tani yang terdampak dari cuaca ekstrem. Sementara dari anggaran yang diberikan kepada kelompok tani itu, tidak sepenuhnya disalurkan kepada petani.
“Dari total bantuan sebesar Rp 1,2 miliar kepada Koppindo, uang mengalir kepada Gapoktan Podojoyo senilai sebesar Rp 92,5 juta. Dalam pemeriksaan, kelompok tani itu ternyata bukan yang terdampak cuaca ekstrem. Sementara dari total dana bantuan, sebagian dikembalikan kepada Pupuh,” kata Kanit IV Reskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo seraya menambahkan Gapoktan lain masih dalam pemeriksaan penyidik.
Ditambahkannya, selain ditemukan banyak kejanggalan dalam pemeriksaan, pelaku juga mengatakan kalau dirinya tidak tahu-menahu mengenai alasan pemberian dana itu. Hanya saja, ketika uang diberikan, sekitar Rp 47 juta harus dikembalikan kepada Pupuh.
Munadi dalam pemeriksaan petugas, mengakui kalau dirinya menerima bantuan uang dari Pupuh. Walaupun, kelompok taninya tidak terdampak dari cuaca ekstrem. “Saya ini tidak ngerti masalah hukum. Kalau tanya uang bantuan, saya memang menerima. Tapi, sebagian saya kembalikan kepada Pak Pupuh,” ujarnya.
Bagaimana dengan sisanya, Munadi menjelaskan, selain Rp 47 juta dikembalikan kepada Pupuh, Rp 22 juta diberikan kepada petani untuk pinjaman. Sementara sisanya, dibelikan pupuk ZA sebanyak 2 ton.
“Dari uang sisa sekitar Rp 45,5 juta, saya pinjamkan kepada petani dan belikan pupuk. Untuk modal pinjaman kepada petani, nilainya sekitar Rp 22 juta. Jumlah itu, diberikan kepada sekitar 19 anggota petani Gapoktan,” kata Munadi.
Sebagaimana diberitakan, Kementerian BUMN memberikan tugas kepada PT Pertani (Persero) untuk melaksanakan program ketahanan pangan berbentuk program GP3K pada 2011 lalu. Dari program itu, PT Pertani Cabang Malang, bekerjasama dengan Koppindo selaku mitra koordinator petani. Koppindo juga sebagai coordinator, yang mengkoordinir kelompok tani untuk menanam padi di wilayah Kabupaten Malang. Pasca panen, KOPPINDO wajib menagih pengembalian pinjaman dari petani atau kelompok tani. Hanya saja, ketika habis jangka waktunya, pihak Koppindo hanya mengembalikan pinjaman dalam bentuk barang yang tidak terpakai dan uang tunai yang nilainya tidak sesuai dengan pinjaman awal yaitu hanya Rp 494 juta lebih. Saat kasus ini didalami, dari total 11 Gapoktan yang harusnya menerima bantuan, hanya disuplai pada 5 Gapoktan. (sit/nug)