Lima Orang Nyaris Terpanggang

LUDES: Petugas PMK ketika olah TKP menyelidiki penyebab kebakaran rumah milik Kawi warga Dusun Sekarputih, Desa Pendem, kemarin.

JUNREJO - Ditinggal Salat Subuh, rumah Kawi di Jalan Flamboyan 20 RT41/RW1O Dusun Sekarputih, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, ludes disapu bersih oleh si jago merah. Tragisnya, sebelum bangunan itu berubah jadi arang, lima orang atau anak cucu pria berusia 60 tahun itu, nyaris terpanggang kobaran api lantaran sedang lelap berselimut mimpi.
Kebakaran hebat itu berlangsung sekitar pukul 04.30, walaupun ketika berangkat ke musala dekat rumahnya, Kawi tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan di rumahnya. Sepulang dari salat itulah, dia melihat kobaran api menyelimuti bangunan rumahnya. Dengan pekikan Takbir, Kawi pun mendobrak pintu menerobos masuk.   
Siti Wiryati, anak Kawi bersama suaminya Mustakim, tertidur lelap di kamar depan. Sedangkan di kamar yang lain ada anaknya yang lain, Nurul Hidayati, yang juga lelap. Begitu pula dengan dua cucu Kawi, Putu Anjas dan Isma juga masih pulas.
“Semua tertidur lelap, tidak sadar kalau rumahnya sudah terbakar. Padahal saat itu api bercampur asap hitam pekat, sudah memenuhi semua ruangan sehingga  kondisi rumah menjadi gelap gulita,” ungkap Kawi.
Kelima anak dan cucu Kawi, benar-benar nyaris terpanggang di pembaringan mereka. Namun Alloh SWT berkehendak lain, melalui Kawi Dia memberi pertolongan disaat bahaya mengancam nyawa kelimanya.“ Alhamdulillah saya tidak pingsan, meskipun nafas sudah keslepeken (tidak kuat menahan bau yang menyengat),” ujar Kawi, bersyukur.
Begitu berada di dalam rumah, Kawi mengetuk pintu masing-masing kamar hingga seluruh anak, menantu dan cucunya terbangun untuk menyelamatkan diri dari kobaran api menjilati seisi rumah. Padahal kebiasaan Kawi,  setelah Salat Subuh selalu menyempatkan diri membaca Al-Quran atau berdzikir. Namun kemarin, seolah ada yang menuntunnya agar cepat pulang. Sebelum masuk ke rumah, dia juga sempat ke kamar mandi lebih dulu untuk mencuci kaki.
KABEL TAK STANDART
Saat itulah ia mendengar suara letusan kecil-kecil, namun Kawi tidak menyangka kalau rumahnya terbakar. Ia pun mencari sumber suara, ternyata di ruangan yang berada di dekat dapur sudah dilalap api.“Saya bilang ke anak-anak, yang penting selamat. Saya minta mereka tidak masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan harta benda,” terang Kawi.
Ternyata justru para tetangga yang nekat menyelamatkan dua motor milik Kawi dan menantunya, yang terparkir di ruang tamu. Sementara tetangganya yang lain, bahu membahu memadamkan api yang sudah menjalar ke arah utara dan timur mengikuti arah angin. Melihat rumah di kawasan ini saling berdempetan, warga memblokade bangunan rumah di kanan dan kiri agar api tak merembet.
Terlebih di sisi barat rumah terdapat bangunan yang terbuat dari anyaman bambu, yang keseharian dipergunakan memproduksi pigura. Di tempat ini tidak hanya penuh dengan bahan baku kayu, namun juga banyak cat dan tinner yang sangat rentan dengan percikan api.
Warga pun berjibaku memadamkan api, sebagian menelepon PMK Kota Batu, sehingga satu unit PMK serta sebuah kendaraan reaksi cepat tiba di lokasi kejadian dan kondisi api yang semula sangat besar itu, sudah mulai dijinakan warga setempat. Kemudian, petugas PMK melakukan pembasahan agar tidak terjadi kebakaran susulan.
Santoso Wardoyo, Ka UPT PMK Kota Batu bersama beberapa personil langsung melakukan olah TKP. Dari hasil penyelidikan, diperkirakan kebakaran ini terjadi karena aliran listrik di rumah itu ngefong (intermitten contact) lantaran sambungan kabel kurang kencang, sehingga menimbulkan percikan api.
“Kabelnya tidak standart, kabel yang ada di rumah ini mestinya untuk tegangan 110 volt, sedangkan tegangan yang ada 220 volt sehingga terjadi kelebihan beban. Kemudian, kabel terbakar menjalar ke lemari es dan sebagian aliran listrik, berubah menjadi aliran api naik ke plafon,” terangnya.
Api yang membakar rumah itu, tidak hanya mengakibatkan atap rumah sebagian besar terbakar, tapi juga meludeskan kulkas, TV, uang tunai, serta seluruh dokumen penting milik korban. “Uang tunainya ada, tapi sedikit. Dokumen penting musnah semuanya, tapi masih saya rinci,” terang Kawi.
Untuk sementara waktu karena kondisi rumah hancur, keluarga Kawi mempergunakan teras musala untuk berteduh. Abdullah, Ketua RW 10 sempat menyesalkan sikap PLN yang tidak tanggap terhadap pengaduhan warga. Menurutnya, sudah 3 tahun pihaknya melaporkan masalah kabel kepada PLN, namun tidak segera direspon,“ ujarnya. (muh/lyo)