Bawa Kayu Hasil Curian, Blandong Ampelgading Ditangkap

KEPANJEN – Petugas Polsek Dampit berhasil menggagalkan penjualan kayu rimba campuran hasil curian, saat melintas di jalan dengan menggunakan truk. Truk N 9391 UI yang mengangkut kayu rimba campuran dan disopiri Ahmad Abi Sasono, 45 tahun warga Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading.
Tersangka diketahui sebagai blandong itu, tertangkap petugas dalam razia yang berlangsung di depan Mapolsek Dampit. Selain mengamankan truk N 9391 UI yang mengangkut kayu rimba campuran dan disopiri oleh tersangka, petugas juga mengamankan sejumlah truk pelaku yang siap angkut. Termasuk, alat pemotong kayu serta batangan kayu yang diduga dari hasil pencurian di kawasan Perhutani Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading.
 “Sebelum diketahui mencuri beragam kayu hutan, truk pelaku yang melintas di depan Mapolsek Dampit, berhasil dihentikan dalam razia oleh anggota. Saat diperiksa, truk yang baknya ditutupi dengan terpal biru itu, ternyata membawa potongan kayu yang siap jual. Setelah ditanya surat-surat izin kepemilikan kayu, tersangka mengelak sehingga diamankan,” kata Kapolsek Dampit, AKP Indro Susetyo.
Dalam penyelidikan, tambah Indro, diperoleh informasi kalau pelaku memiliki lokasi pemotongan kayu pribadi. Izin-izinnya belum diketahui dengan jelas. Karenanya, koordinasi dengan Polres Malang, untuk melakukan pengecekan ke lokasi pemotongan. Hasilnya, batangan kayu yang jumlahnya mencapai ribuan berhasil ditemukan dan langsung diamankan.  
“Untuk kepentingan penyidikan, truk berikut kayu serta alat potong diamankan di Mapolres Malang. Diduga, pelaku melakukan aksi pencurian ini bukan sekali. Terhadap tersangka, sementara ditahan di Mapolsek Dampit,” kata Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Wakil Adm Perhutani, Saiful S Hut, dikonfirmasi terpisah mengatakan kalau aksi pelaku diduga erat kaitannya dengan aksi pencurian kayu di petak 43, 44, 44A dan 45 di Desa Lebakharjo. Masalahnya, ada ribuan kayu jenis rimba campuran yang hilang. Baik itu mulai jenis Mahoni, Jati sampai Sono.  “Kalau kerugiannya, kami belum bisa memperkirakannya,” katanya. (sit/aim)