Kematian Fikri Dianggap Tidak Jelas

KEPANJEN-Masih ingat dengan kemah bakti desa temu akrab (KBD-TA) mahasiswa ITN Malang yang menewaskan seorang calon mahasiswa bernama Fikri Dolasmantya Surya. Saat ini, kasusnya sudah masuk ke Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kamis kemarin. Dari eksepsi terdakwa menganggap kematian Fikri tidak diketahui penyebabnya.
Kemarin, agenda sidang yang menjadwalkan eksepsi atau pembelaan dakwaan dari empat terdakwa masing-masing Ibnu Sasongko selaku dosen dan tiga lainnya mahasiswa senior yakni Halimurrahman, Putra Arif Budi S dan Natalia Damayanti, disampaikan kuasa hukum terdakwa sebagai dakwaan yang kabur. Dengan alasan, penerapan Pasal 359 KUHP Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1, tidak memiliki dasar dakwaan yang kuat.
“Dalam dakwaan tidak menjelaskan satu pun uraian yang menyebutkan sebab musabab meninggalnya Fikri (korban). Apakah meninggal karena kurang air minum, unsur kekerasan, tindak pidana atau hal lain. Mengapa Fikri meninggal, juga tidak dijelaskan,” kata kuasa hukum terdakwa Endarto Budhi Walujo bersama ZF Johnny Hehakaya.
Menurutnya, termasuk uraian penyebab, faktor yang menyebabkan meninggal ataukah faktor lain di luar tindak pidana. Mendakwa seseorang melakukan tindak pidana tanpa dasar hukum adalah suatu kejahatan, apalagi dakwaan yang dilakukan hanya berdasarkan asumsi. Sehingga, dakwaan yang disangkakan terlalu premature.
Dalam sidang yang dipimpin oleh Bambang Hari Mulyono SH itu, Endarto kembali menjelaskan, sebab musabab seseorang kematian seseorang hanya dapat ditentukan melalui pembedahan mayat (autopsy). Namun, mengapa dalam perkara ini tidak pernah dilakukan.
“Bagaimana terdakwa bisa dijerat sebagai penyebab hilangnya nyawa Fikri, kalau sebab kematiannya saja tidak diketahui,” ungkapnya bertanya.
Berdasarkan apa yang diuraikan itu, Endarto pun meminta pimpinan sidang untuk menjatuhkan putusan sela terhadap surat dakwaan. Sehingga, dakwaan dinyatakan tidak cermat dan tidak lengkap sehingga dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima.
Sebagaimana diberitakan, dalam KBD-TA Oktober 2013 lalu, seorang calon mahasiswa yakni Fikri diduga menjadi korban kekerasan kakak tingkatnya. Dari informasi yang awalnya ramai di jejaring sosial, akhirnya dilidik Polres Malang. Dari penyidikan itu, empat orang ditetapkan sebagai tersangka. (sit/aim)