Siswa SMPN 3 Jabung Jadi Korban Penculikan?

Khusnul Khotimah (kanan) saat di minta keterangannya di Polsek Pakis, setelah mengaku menjadi korban penculikan.

PAKIS – Kasus penculikan terjadi di wilayah hukum Polsek Pakis. Korbannya adalah Khusnul Khotimah, 15 tahun, warga Desa Pakisjajar RT05 RW04, Pakis. Siswa kelas VIII, SMPN 3 Jabung ini diculik dua orang tak dikenal sejak Sabtu (18/10) lalu.
Senin dinihari kemarin, anak pertama dari pasangan Kusmariono, 35 tahun, dan Evatian, 33 tahun ini berhasil meloloskan diri dari sekapan pelaku, dan langsung mendatangi Polsek Pakis untuk mengadukan kasus  yang menimpanya.
Diceritakan Khusnul, penculikan tersebut terjadi  Sabtu (18/10) saat pulang sekolah. Saat itu pihak sekolah memulangkan siswa lebih pagi, yakni 09.30 Wib. Bersama teman-temannya, Khusnul pulang. Tapi karena rumahnya di Pakisjajar, dan saat itu Kusmariono tidak menjemput, gadis cilik ini pun  menumpang salah satu guru yang naik motor, hingga Simpang Tiga Jabung. “Saya dibonceng oleh pak Yuli, salah satu guru,’’ kata Khusnul.
Sesaat setelah turun, tiba-tiba datang dua orang. Satu memiliki postur tinggi besar berambut gondrong dan satu lagi tinggi langsing berambut cepak. Begitu mendekat, pelaku berambut gondrong langsung mengajak gadis ini untuk naik mobil Avanza warna putih, dengan alasan disuruh orang tuanya menjemput. Dia sempat menolak, namun lengan kirinya justru ditarik oleh pelaku. “Saat itu tidak banyak orang. Ada yang melihat, tapi hanya diam,’’ katanya.  
Di dalam mobil, Khusnul yang mengaku mulutnya bekap pelaku melihat ada banyak penumpang. Bahkan dia menghitung ada 10 penumpang di dalam mobil tersebut termasuk dirinya dan dua pelaku yang menariknya. “Saya tidak tahu, tapi di dalam mobil tersebut ada yang anak-anak, ada juga yang dewasa. Beberapa juga terlihat menangis,’’ urainya.
Khusnul sendiri tidak mengetahui jalan yang dilaluinya. Yang pasti setelah 3-4 jam perjalanan, mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah rumah. Pelaku pun langsung meminta semua penumpang mobil turun termasuk dirinya. Dan saat itun pelaku langsung memasukkan para penumpang ini di dalam salah satu kamar, yang kemudian dikunci dari luar.
Gadis dengan kulit hitam manis ini sendiri sangat kaget, karena di dalam kamar itu juga banyak anak-anak seusianya. Bahkan dia juga mengatakan jika dua diantarannya berusia balita. Di dalam kamar, anak-anak ini dilarang berisik. Pelaku yang di luar langsung membuka dan berkata kasar jika mendengar ada suara berisik. “Kami di kamar tidak diberi lampu, rumahnya sepi tidak banyak tetangga juga,’’ katanya.
Selama disekap juga tidak diberi makan. Hingga akhirnya dia yang tidak ingin orang tuanya khawatir berusaha meloloskan diri, dengan memecahkan kaca di kamar tersebut. Saat meloloskan diri dengan memecah kaca ventilasi ini Khusnul dibantu oleh anak-anak yang juga disekap di dalam kamar tersebut. “Saat itu kondisinya sudah malam, saya langsung lari. Saat lari itu saya bertemu dengan warga, katanya itu daerah ke Pujon. Kemudian salah satu warga ini mengantar sampai jalan besar, dan memberi uang Rp 10 ribu,’’ katanya.
 Uang Rp 10 ribu itu, kemudian digunakannya naik angkutan. Tapi hanya sampai Pasar Blimbing. Kondisinya saat itu sudah malam, Khusnul pun mulai berjalan kaki. Hingga akhirnya dia mengaku bertemu dengan seorang pemuda, yang kemudian mengajaknya makan, selanjutnya mengantar dirinya ke Polsek Pakis.
“Saya tidak kenal dengan orang yang menolong, yang jelas sebelum diantar ke sini saya diajak makan pangsit,’’ katanya dengan penuh keyakinan. Namun begitu saat menceritakan drama penculikan ini Khusnul  kerap kali berubah-ubah cerita. Bahkan, banyak ceritanya yang disampaikan sangat janggal. Termasuk saat dia berhasil meololoskan diri. Dan yang membuat petugas pesimis dengan aksi penculikan tersebut, karena Khusnul datang menggunakan pakaian biasa, padahal saat diculik dia menggunakan pakaian seragam. Khusnul sendiri mengatakan jika dirinya dipinjami pakaian oleh orang-orang disana.
Bukan itu saja, yang membuat petugas kian heran, korban tidak terlihat trauma layaknya korban penculikan pada umumnya. Wajahnya hanya tertunduk saja. Bahkan, saat Kusmariono bertanya kronologis penculikan, Khusnul menjawab dengan suara membentak.
Kebenaran drama penculikan ini kian memudar, setelah petugas Polsek Pakis datang ke TKP awal penculikan. Di TKP yang ditunjukkan tersebut, tidak satupun ada saksi yang mengetahui Khusnul dibawa oleh dua orang, dan dimasukkan mobil. “Kami sudah mendatangi TKP awal penculikan, tidak  satupun warga mengetahui ada penculikan. Setelah pelapor kami mintai keterangan lagi dia terus merubah ceritanya,’’ kata Kapolsek Pakis AKP Hery Purwato. Namun begitu, pihaknya tidak tinggal diam, dan terus melakukan penyelidikan.
Tidak hanya petugas yang janggal dengan cerita Khusnul. Kusmariono yang pagi kemarin datang ke Polsek Pakis juga tidak percaya dengan cerita anaknya itu. Terlebih selama ini, Kusmariono mengatakan jika anaknya tersebut kerap kabur dari rumah, dan sering tidak pulang jika dinasihati. “Kalau dinasihati pati ndak pulang malam harinya. Kemarin ini juga begitu, dia baru saja saya nasihati, dan malamnya tidak pulang,’’ kata Kusmariono, yang mengetahui anaknya ada di Polsek Pakis setelah diberitahu  petugas. (vik/aim)