Narkoba Dikendalikan Napi LP Lowokwaru

MALANG – Satuan Reskoba Polres Malang Kota, membongkar peredaran narkotika yang dikendalikan oleh seorang narapidana LP Lowokwaru Malang. Itu setelah polisi menangkap Taufik, warga Jalan Mayjend Sungkono Gg IIA Kecamatan Kedungkandang, Rabu lalu. Pria berusia 39 tahun ini, diringkus disebuah bengkel las di Jalan Jodipan Malang.
Taufik (TF) merupakan adik kandung, HA, residivis kasus narkoba yang saat ini menjalani masa hukuman di Lapas Lowokwaru. HA sendiri, tercatat sudah dua kali ini keluar masuk LP. Sementara untuk barang bukti yang diamankan dari Taufik, adalah satu bungkus ganja kering yang dibalut lakban warna cokelat, satu bungkus ganja dibalut lakban putih, sembilan poket sabu masing-masing seberat ¼ gram, satu timbangan electric serta satu buah HP Nokia 6300.
“Barang bukti yang diamankan dari tersangka TF (Taufik, red) tersebut ditemukan di dalam rumahnya. Sebagian barang bukti tersebut disembunyikan di dalam boneka,” ungkap Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Nunung Anggraeni.
Menurut Nunung, penangkapan Taufik ini, bermula dari informasi yang diperoleh polisi, bahwa Taufik mengedarkan narkoba jenis SS dan ganja. Selanjutnya berangkat dari informasi itu, polisi kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap Taufik, sesaat setelah menjual barang haram kepada seseorang.
Dalam pemeriksaan, Taufik mengaku kalau semua barang haram tersebut adalah milik kakaknya, HA yang kini menjalani hukuman di LP Lowokwaru. Pada pertengahan Agustus lalu, Taufik mengatakan dihubungi oleh kakaknya melalui telepon. Ia disuruh mengambil paketan ganja disebuah tempat, yang kemudian diminta untuk menyimpan di rumah.
Selang beberapa hari kemudian, pada 14 Agustus, Taufik kembali dihubungi oleh kakaknya untuk mengambil paketan sabu-sabu (SS) seberat 10 gram. Setelah paketan SS diambil, Taufik menghubungi kakaknya. Ia kemudian disuruh membagi paketan SS menjadi 21 poket. Dengan rincian, tiga poket masing-masing seberat 1 gram, sepuluh poket masing-masing ½ gram dan delapan poket masing-masing seberat ¼ gram.
“Setelah SS sudah terbagi menjadi beberapa poket, pada pertengahan September tersangka TF kembali mendapat telepon dari kakaknya, untuk menyerahkan 12 poket kepada seseorang yang kini masih selidiki. Sedangkan sisa sembilan poket, yang belum terjual kami amankan sebagai barang bukti,” terang Nunung.
Akibat perbuatannya itu, Taufik dijerat dengan pasal 111 Undang-undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman penjara mimimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun. “Sedangkan untuk HA sudah diperiksa, dan kini anggota sedang mengembangkan kasusnya untuk memburu  pemasoknya,” ujarnya.(agp/nug)