Bocah 14 Tahun Hamil, Meninggal Usai Operasi Caesar

Warga Desak Polisi Usut Pemerkosanya
MALANG – Sinta (bukan nama sebenarnya, red), 14 tahun warga Desa Klampok, Kecamatan Singosari meninggal dunia pada Kamis (30/10) kemarin, usai menjalani operasi caesar di RSSA Malang. Bocah yang memiliki keterbelakangan mental (down syndrome) itu hamil tanpa diketahui siapa yang harus bertanggungjawab. Bayi yang dilahirkannya pun dalam kondisi kritis.
Dia tinggal bersama ibunya berinisial ED seorang single parent. Selain dengan ED, korban juga tinggal dengan kakeknya (orangtua ED, red) berinisial As.
“Ibunya sudah lama menjanda. Korban (Sinta, red) ini mempunyai adik laki-laki. Di rumah korban memang tinggal dengan ibunya, tetapi kesehariannya korban dengan kakeknya yang rumahnya berdempetan,” ungkap warga sekitar, yang dibenarkan oleh Sujud, Ketua RT 01 kepada Malang Post.
Pertengahan Juni 2014 lalu. Ibu korban, ED datang ke rumah Eni, yang diketahui sebagai kader kesehatan Desa Klampok. ED menanyakan tentang kondisi Sinta, yang mengeluhkan sakit perut.
Karena tidak bisa memperkirakan penyakitnya tanpa diperiksa, Eni kemudian menyarankan ED untuk membawa Sinta ke Puskesmas Singosari, keesokan harinya. Ketika di Puskesmas ternyata tidak ada dokternya. Akhirnya Sinta dibawa ke RS Marsudi Waluyo Singosari.
Ketika diperiksa, ternyata Sinta dinyatakan tengah hamil. Usia kandungannya saat itu sekitar 4 – 5 bulan. Pihak RS yang curiga, menghubungi bidan desa tentang kehamilan Sinta. Selanjutnya kabar tersebut disampaikan kepada perangkat desa.
Mendengar kabar kehamilan Sinta, warga sekitar sempat geram. Warga bertanda tanya siapa yang tega menghamili Sinta. Selanjutnya untuk mengetahui secara pasti, perangkat desa lalu membawa Sinta, ibunya serta kakeknya ke Balai Desa. Saat di kantor desa, Sinta sempat mengatakan kalau kehamilannya akibat perbuatan kakek serta temannya.
“Saya yang saat itu membawa ke desa. Ketika saya tanya, memang mengaku katanya disetubuhi temannya warga Dusun Ngatik, Desa Purwoasri, Singosari sebanyak empat kali. Tetapi ketika dikroscek ternyata anak yang disebut sudah berbulan-bulan tidak pulang. Kemudian ketika ditanya lagi, Sinta menjawab disetubuhi bapaknya (kakeknya Ar) sebanyak dua kali. Namun yang benar yang mana, tidak tahu karena jawabannya berubah-ubah. Apalagi korban ini mengalami keterbelakangan mental,” terang Kusnadi, perangkat desa.
Karena tidak ada kepastian, untuk membuktikan siapa yang menghamili, keluarga dengan diantar perangkat desa melaporkan ke Polres Malang. Berdasarkan laporan, Ar (kakek korban) sempat diperiksa marathon selama sehari. Namun dipulangkan dengan alasan tidak bukti serta saksi yang kuat.
“Dulu kasusnya sempat diproses, tetapi tidak tahu kok sekarang tidak ada kelanjutannya. Apakah laporannya dicabut atau tidak saya tidak tahu. Saya sempat menanyakan kenapa tidak ada tindak lanjut, alasan polisi karena untuk menentukan tersangka harus ada bukti otentik,” terang Kusnadi.
Kendati sempat menduga-duga, namun warga tidak bisa membuktikan karena tidak ada saksi yang mengetahui. Isu kehamilan Sinta ini, meredam selama beberapa bulan.
Baru Senin (27/10) malam, kasus ini kembali mencuat di masyarakat. Itu setelah Ed kembali mendatangi rumah Eni, yang mengatakan kalau Sinta batuk dan muntah-muntah disertai sesak nafas sejak pukul 21.00. Karena khawatir, Eni dengan didampingi Ketua RT01 membawanya ke RS Marsudi Waluyo Singosari. Selanjutnya karena tidak sanggup, Sinta dirujuk ke RSSA Malang.
Di RSSA Malang, Sinta dinyatakan harus menjalani operasi caesar. Atas persetujuan keluarga kemudian Sinta menjalani operasi sesar untuk mengeluarkan bayi yang dikandungnya Selasa dini hari pukul 03.24. Usai menjalani operasi Sinta yang kondisinya kritis dirawat di ruang 12 PICU. Sedangkan batu perempuan dengan berat 2,1 kilogram juga kritis karena lahir premature.
Namun setelah menjalani perawatan beberapa hari, Kamis lalu sekitar pukul 09.45 Sinta menghembuskan nafasnya. Sementara bayinya masih dalam kondisi kritis. Dengan kematian Sinta ini, warga sekitar mengaku sangat trenyuh. Warga berharap kasus pencabulan yang dulu dilaporkan ke Polres Malang, bisa diusut lagi.
“Warga berharap pihak kepolisian mengusut lagi kasusnya. Karena jika ini dibiarkan, pelaku dikhawatirkan bisa mengulangi perbuatannya ke orang lain. Mungkin dengan tes DNA bayi yang dilahirkan, polisi bisa mengusut pelakunya,” tutur Kusnadi.
Untuk menyelamatkan bayi perempuan yang dilahirkan Sinta, warga sepakat bergotong royong dengan menggalang dana untuk membiayi biaya perawatan bayi di RSSA Malang. “Kalau meninggalnya Sinta ini, bukan karena salah perawatan di rumah sakit. Perawatan dan tindakan yang dilakukan pihak RSSA sudah procedural dan professional. Hanya karena kondisi korban yang lemah, apalagi dia sakit komplikasi riwayat jantung dan sesak nafas,” sambung Eni, kader kesehatan.(agp/aim)