Perampok, Mahasiswa Aktif Sedang Skripsi

KEPANJEN - Ada yang mengejutkan dari pengakuan MF,  23 tahun, warga Desa Kanigoro, Blitar. Pelaku perampokan spesialis pertokoan modern Indomaret dan alfamart ini mengaku jika dirinya adalah mahasiswa aktif.  Kepada petugas, pria yang ditangkap di rumah kosnya di Jalan Sigura-gura, Rabu (30/10) dini hari lalu ini mengaku masih kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Kota Malang.
“Dalam pengakuannya, tersangka MF ini mengatakan jika dirinya adalah mahasiswa tingkat akhir salah satu kampus swasta. Saat ini dia dalam proses mengerjakan skripsi,’’ kata Kasat Reskrim Polres Malang AKP wahyu Hidayat.
Menurut pria berkacamatan minus ini, MF yang memiliki nama Mifhachudin ini mengatakan pengerjaan skripsinya sudah pada tahap akhir, itu berarti tinggal sedikit lagi pengerjaan skripsi selesai dan dia bisa lulus jadi sarjana. Karena tertangkap, Mifta pun terancam tidak bisa melanjutkan skripsinya, bahkan dia juga terancam dikeluarkan dari kampus tempatnya mengenyam pendidikan.
Bukan itu saja. Pengakuan lain yang mengejutkan dari Miftha, saat ini pacarnya sedang hamil. Pacarnya adalah mahasiswi salah satu universitas negeri di Malang. Lantaran itulah, ia sangat gelisah.  
Menurut Wahyu, selama beberapa bulan ini, pria yang ditembak betis kanannya oleh petugas itu mengaku dia dan pacarnya memang hidup serumah. “Kondisi tersangka sampai saat ini baik-baik saja. Hanya dia resah dengan kondisi pacarnya yang sedang berbadan dua,’’ tambah pria ini. Lantaran itu juga, Wahyu mengaku Miftha pun meminta keringanan kepada petugas dengan memohon penangguhan penahanan. Tentu saja, permintaan tersebut tidak diindahkan oleh tim penyidik, terlebih Mitha merupakan salah satu komplotan perampok yang sangat meresahkan. “Secara lisan dia sempat memohon, tapi jelas kami tolak,’’ katanya.
Lalu untuk apa Miftha melakukan tindak kejahatan? Dalam pemeriksaannya, Miftha mengaku jika dia melakukan aksinya karena butuh uang untuk biaya kuliah. Sejak setahun terakhir orang tuanya tidak lagi mengirim uang untuk biaya kuliah. Bukan itu saja, Miftha mengaku terpaksa merampok, agar bisa membeli barang yang diinginkan.
Kepada petugas, pemuda ini mengaku sempat minder karena melihat kehidupan teman-temannya yang gaul. Dia sendiri tidak bisa ikut pergaulan tersebut karena tidak memiliki uang berlebih.
Sementara itu, para pelaku lain umumnya dikenal sebagai orang baik di kalangan keluarga maupun tetangganya. Seperti  Kadung. Meski dua kali mendekam di sel jeruji besi, pria ini tetap disegani dan dihormati oleh tetangganya. Hal ini dikatakan oleh Kades Kidal, Kecamatan Tumpang Muhammad Taufik. Kepada Malang Post, Taufik mengatakan, jika Kadung bukanlah warga asli Kidal. Dia merupakan pendatang.
Saat datang, Kadung sudah menanamkan kebaikan dengan kerap membantu warga saat dalam kesulitan. “Dia baru pindah ke sini sejak 1,5 tahun lalu. Dia pindah ikut istrinya,’’ kata Taufik. Kehidupan Kadung pun tidak seperti orang desa pada umumnya. Dia memiliki rumah gedung tingkat dua, lengkap dengan mobil serta motor. Kekayaan itu sempat dipertanyakan warga. Hanya saja karena sangat baik, kecurigaan itupun memudar. “Kalau dikatakan baik, ya jelas baik. Dia tidak pernah berulah saat di sini, tapi kalau di luar kan  saya tidak tahu,’’ tandas Taufik, yang mengatakan Kadung memiliki istri dan satu anak yang masih bayi. Istri Kadung sempat syok saat mendengar suaminya mati tertembak  polisi. Itu sebabnya, wanita ini tidak berhenti menangis saat menunggu di kamar jenazah beberapa waktu lalu. (vik/han)