Tak Percaya Pelaku Bekas Karyawan

MALANG –Turiah (41 tahun) pemilik Toko Rejomulyo di Wagir yang disatroni komplotan Rudi Hermawanto masih trauma. Perempuan ini, juga tak percaya jika sejumlah pelaku adalah bekas karyawannya. Sebab, sosok perampok jahat, tak didapati pada eks karyawan, yang disebut Polisi sebagai penggambar lokasi sasaran kejahatan.
Menurut Turiah, sebelum lebaran atau tepatnya bulan Juni lalu, ada dua karyawan yang pamit berhenti kerja, yakni Handoko dan Agung. Keduanya merupakan warga Sumbermanjing Wetan. Ia sama sekali tidak percaya jika dua mantan karyawannya itu terlibat dalam kasus ini.
“Tidak percaya saya, dulu itu keduanya masuk bulan Maret, bekerja tiga bulan, dan Juni lalu berhenti. Mereka datang dan keluar dengan baik-baik. Selama bekerja juga sangat baik, jadi saya tidak percaya jika keduanya terlibat,’’ katanya.  
Ketidak percayaan Turiah pun bisa jadi benar, karena polisi sendiri mengatakan pelaku yang buron hingga saat ini berinisial NS warga Wagir. Ada pun, dua bekas karyawan yang dimaksud Turiah, tak pernah memperlihatkan gelagat jahat. Mereka tampak seperti orang baik-baik.
Baik yang dimaksudnya adalah tidak pernah ada masalah dengan pekerja lainnya. Mereka berdua juga sosok yang tekun. Bahkan jika disuruh langsung dikerjakan.
Waktu awal bekerja, istri Agung baru saja melahirkan. Sedangkan Handoko sendiri adalah pengantin baru. Keduanya dikenalkan kepada Turiah oleh tetangga di Wagir.

Warga Dusun Pandansari, Desa Pandanrejo, Wagir ini lantas memberikan apresiasi penuh terhadap kinerja kepolisian. Itu seiring dengan keberhasilan anggota Polres Malang mengungkap pelaku perampok, yang pernah beraksi di toko bangunan miliknya, Jumat (5/9) lalu.
Ditemui Malang Post di Toko Bangunan usahanya, kemarin  ibu empat anak ini mengaku kaget. Ia menceritakan, sejak polisi berhasil mengungkap enam pelaku dan empat diantaranya ditembak, Turiah belum mendapat informasi. Ia hanya mendapat keterangan dari beberapa tetangga. Namun begitu, Turiah yang trauma enggan mencari tahu lebih lanjut.
“Saya baru tahu, kemarin memang ada tetangga yang bilang, tapi saya terima sambil lalu, karena memang tidak ada informasi dari pihak kepolisian,’’ katanya.
Meskipun begitu, Turiah mengaku tidak penasaran, bahkan ia juga tidak ingin melihat dua pelaku yang masih hidup yang saat ini mendekam di sel tahanan Polres Malang. “Buat apa, saya menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib,’’ katanya. Keengganan Turiah melihat MF dan FA cukup beralasan, karena wanita berjilbab ini masih memiliki rasa trauma.
Ia masih ingat dengan jelas aksi perampokan itu terjadi tepat hari Jumat. Saat itu ia berjaga sendiri di tokonya, karena 23 karyawannya sudah berangkat salat Jumat. Turiah mengatakan, saat salat Jumat ia selalu menutup tokonya. “Saat itu sudah mau tutup, tapi masih ada dua pembeli di dalam toko,’’ katanya.
Saat itulah pelaku datang. Menurut Turiah, pelaku berjumlah empat orang, dengan mengendarai dua motor, yakni Kawasaki Ninja dan Suzuki Satria. Tiga pelaku masuk, sedangkan satu pelaku berjaga di luar. Tiga pelaku, lebih dulu mengancam dua orang pembeli yang ada di tokonya, dan satu pelaku lain menghunuskan pisau belati pada Turiah. Tanpa basa-basi, pelaku langsung meminta uang. “Cepat mana uangnya,’’ pinta pelaku dengan nada membentak yang ditirukan korban.
Turiah tidak seketika memberikan. Hingga akhirnya, pelaku masuk ke area parkir. Anehnya, seperti kenal medan, ia membuka serta mengambil sendiri uang yang ada dalam laci. “Pelakunya panik, karena saat itu adik saya bernama Siti Yamani, 39 tahun, tahu  dan berteriak minta tolong kepada warga lainnya,’’ katanya.
Bahkan, saking paniknya pelaku sempat memukul kepala Turiah dengan gagang pistol yang dibawa hingga berdarah. “Saya pun hanya diam, saat pelaku yang masuk ke area kasir dan membuka sendiri lacinya, sekaligus mengambil uang yang ada di dalamnya,’’ katanya.  Setelah berhasil mendapatkan uang Rp 5 juta, pelaku pun kabur.
Sedangkan warga pun langsung berdatangnya. Melihat Turiah berdarah, warga lebih dulu membawa Turiah ke Puskesmas, untuk diobati. “Jumlah uang yang dibawa memang tidak banyak, tapi begitu mereka menggunakan kekerasan dalam aksinya,’’ urai wanita ini.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat, mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap NS. Bahkan, pencarian tidak hanya di satu wilayah saja. Tiga tim anggota menyebar, untuk mendapatkan informasi keberadaan NS. Dia pun berharap, nama NS yang sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO)  ini cepat tertangkap. “Kami masih melakukan pengembangan. Ada kemungkinan jumlah pelakunya bertambah, karena Rudi ini memang kerap bergonta-ganti ‘pasangan’ saat melakukan aksinya,’’ tandasnya.
Seperti yang diberitakan koran  anggota Polres Malang berhasil mengungkap enam pelaku perampokan spesialis Indomaret dan Alfamart. Empat diantaranya ditembak mati, yakni Agus Habibi alias Bibi, 26 tahun, warga RT12 RW 03 Desa Krebet, Kecamatan. Bululawang, Kabupaten Malang, Nurwahyudi alias Doble, 30 tahun warga Dusun Sido Makmur RT 08 RW 04 Desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Rudi Hermawanto alias Kadung, 28 tahun warga RT 19 RW 02 Desa Kidal, Kecamatan Tumpang,  dan Nurkholik alias Kipli 31 tahun, warga Jalan  Candirejo RT 03 RW 01 Desa Kidal Kecamatan Tumpang.
Sementara dua tersangka lainnya adalah MF, 23 tahun, warga Desa Kanigoro, Blitar dan FA, 25 tahun, warga Kelurahan Karang Besuki, Sukun. Keduanya oleh petugas dihadiahi timah panas masing-masing di betis kanannya.(vik/ary)