DPO Perampok Minimarket Ditangkap

LUMPUH: Tersangka Teuku Reza, perampok minimarket yang terpaksa dilumpuhkan kedua kakinya. Teuku Reza ini adalah kelompok perampok minimarket yang ditangkap Timsus Reskrim Polres Malang Kota.

MALANG – Satu lagi, perampok minimarket yang selama ini namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), berhasil diringkus Timsus Reskrim Polres Malang Kota, dini hari kemarin. Tersangka diketahui bernama Iwan alias Maknyik, warga Jalan Bantaran Gg I D Kota Malang.
Iwan dibekuk di rumah mertuanya di Desa Bugis Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Penangkapan Iwan ini berdasarkan pengembangan dari tersangka Teuku Reza, warga Jalan Jaksa Agung Suprapto Malang, yang diamankan lebih dulu pada 24 Oktober lalu. Baik Iwan serta Teuku, sama-sama dihadiahi timah panas pada kaki karena berusaha melawan serta melarikan diri saat ditangkap dan dikeler untuk mencari pelaku lain.
Teuku ditembak pada kedua kaki, sedangkan Iwan di betis kaki kanannya. Dengan tertangkapnya kedua tersangka ini, maka tinggal satu pelaku lagi berinisial D, warga Kota Malang yang saat ini masih buron. D sendiri, diduga adalah otak dari kelompok Teuku.
“Memang ada satu pelaku lagi yang sudah kami amankan semalam (dini hari kemarin, red). Sekarang kami masih memburu pelaku lain yang masih kabur. Identitasnya sudah kami kantongi, tinggal mencari keberadaannya,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Malang Post dari masyarakat, penangkapan Tengku Reza berjalan cukup dramatis. Polisi dan tersangka terlibat kejar-kejaran, bak adegan film action. Saat mengetahui dirinya akan ditangkap, Reza berusaha kabur dengan lari melompati atap rumah warga.
Meski polisi sudah memberi tembakan peringatan ke udara, tapi Reza tetap berusaha kabur. Polisi yang tidak ingin buruannya hilang, terus mengejar dengan melompati atap. Hasilnya, Reza pun berhasil ditangkap saat bersembunyi di dalam kamar mandi rumah Ibu Ningsih, warga sekitar.
“Saat penangkapan itu rame sekali. Warga sekitar sempat ketakutan, setelah mengetahui polisi menembak ke udara. Seingat saya ada lima rumah warga yang gentengnya pecah karena diinjak-injak. Untuk membetulkan atas dan genteng yang rusak, warga sekitar bekerjasama membantu,” jelas seorang ibu, yang meminta tidak disebutkan namanya.

Dari pemeriksaan terhadap Teuku yang lebih dulu ditangkap, ada empat minimarket yang menjadi sasaran aksi perampokan. Pertama pada bulan Maret lalu, minimarket di Jalan Sumbersari, Dinoyo – Lowokwaru, lalu di bulan April, di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Perampokan ketiga di Jalan Danau Sentani, Sawojajar, Kedungkandang serta bulan Juli, di wilayah Kecamatan Blimbing.
Barang bukti yang diamankan polisi dari Teuku adalah pakaian yang digunakannya saat beraksi merampok, satu unit sepeda motor Yamaha Mio yang dijadikan sarana beraksi serta satu buku tulis. Buku tersebut berisi gambar sketsa pembuatan senjata api (senpi) rakitan. Bukti buku tersebut ditemukan dari rumah Iwan.
“Selain dengan menggunakan senjata api, saat beraksi pelaku ini juga menggunakan senjata celurit untuk mengancam korban. Tetapi celurit tersebut diakui tersangka TR (Teuku Reza) sudah dibuang sebelum ditangkap,” ujar Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Nunung Anggraeni.
Nunung menambahkan, Teuku Reza sudah dua kali menjalani hukuman. Pertama pada 2009 lalu, karena kasus narkoba dan kedua kasus perampokan minimarket. Teuku mengaku terpaksa merampok, lantaran diajak dan butuh uang untuk membeli susu anaknya. Sementara pekerjaannya sendiri berjualan sosis serta tempura keliling.
Dari mana ilmu membuat pistol rakitan tersebut? Adam Purbantoro menambahkan, untuk senpi rakitan, pihaknya masih belum tahu asal-usulnya. Karena berdasarkan pengakuan kedua tersangka Iwan dan Teuku, pistol rakitan itu diakui milik D, yang kini masih kabur. Gambar pada bukti yang dijadikan barang bukti, diakui memang sketsa senpi rakitan.
Berarti hingga sekarang, total ada sembilan pelaku perampokan minimarket Indomaret dan Alfamart yang sudah ditangkap. Dua pelaku berhasil dibekuk petugas Reskrim Polres Malang Kota, sedangkan tujuh pelaku lain diringkus petugas Reskrim Polres Malang. Dari total sembilan perampok yang selama ini meresahkan masyarakat Malang Raya, empat di antaranya telah ditembak mati. Sementara lima pelaku lain masih beruntung karena hanya ditembak pada kaki. Mereka ini tidak satu jaringan, melainkan berbeda kelompok.

NS Berhasil Ditangkap
Berakhir sudah pelarian NS alias Ngateno, 47 tahun warga Dusun Janti RT06 RW09, Kelurahan/Kecamatan Sukun, Kota Malang, pelaku yang diduga komplotan kawanan tersangka perampokan spesialis Alfamart dan Indomaret di Malang Raya, pada Selasa (4/11/14)  kemarin. Tersangka masuk dalam jaringan Rudi Hermawanto als Kadung, ia berhasil dilumpuhkan petugas dengan timah panas di kaki kanannya di Jalan Raya Desa Kebonsari, Kecamatan Tumpang.
Dengan tertangkapnya Ngateno, maka genap tujuh pelaku yang berhasil dibekuk atau empat di antaranya ditembak mati petugas.
“Tersangka berhasil dipergoki anggota saat ada di Jalan Kebonsari, Desa/Kecamatan Tumpang. Saat akan ditangkap ia mencoba kabur, akhirnya dilumpuhkan. Keberadaan pelaku di Malang Timur itu hendak ke rumah saudaranya,” kata Ksatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Disinggung mengenai keterlibatan pelaku dengan Kadung cs, Wahyu menjelaskan, secara rinci untuk hasil pemeriksaan masih dilakukan oleh anggota. Namun, melihat hubungan kedua tersangka, tidak menutup kemungkinan ia memang ikut melakukan aksi perampokan di minimarket.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, Ngateno pernah melakukan aksi bersama Kadung sekitar Oktober 2012. Kejadian pertama, dilakukan kawanan pelaku di kawasan Purwantoro, Kecamatan Blimbing. Mereka berhasil menggondol uang sekitar Rp 65 juta dan sempat dikabarkan menembak paha korban. Aksi Ngateno dan kawanan Kadung, berlanjut pada 25 Juni 2014 di Jalan Masjid Desa Gedokwetan, Kecamatan Turen. Lima pelaku memakai Avanza dan menghentikan truk N 8185 UB dengan memakai senpi. Saat itu, kawanan pelaku menggondol uang Rp 35 juta dari truk yang saat kejadian baru menagih uang,” terang pria berkaca-mata itu.
Ditambahkannya, terhadap aksi tersangka, untuk sementara masih dikaitkan dengan aksi perampokan di Turen pada 25 Juni lalu. Untuk dugaan perampokan minimarket, masih terus dikembangkan.  Ngateno dalam pemeriksaan, mengaku jika aksi kejahatan yang dilakukan di wilayah Kota Malang adalah aksi kedua. Sebelumnya, atau tahun 2010, ia melakukan aksi pencurian seorang diri di perusahaan bekas tempat kerjanya.
“Saya pertama melakukan aksi dengan Kadung di Purwantoro (Kota Malang). Kemudian, ke perampokan di Gedok (Wetan). Setelah itu, kami  tidak berhubungan lama,” ujar pelaku singkat.
Ditanya mengenai senpi, Ngateno menjelaskan, dirinya tidak paham sama sekali asal muasal senjata. Meskipun, setiap kali melakukan aksi dengan Kadung, selalu ada senpi yang digunakan untuk melumpuhkan korbannya. “Kalau soal Senpi, saya tidak tahu asalnya,” tambah pelaku. (agp/sit/han)