Banjir Lumpur , Rendam 20 Rumah

SALURKAN BANTUAN: Pimpinan Dewan dan anggota DPRD Kota Batu, kemarin menyalurkan bantuan kepada korban bencana banjir lumpur di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.
 
BATU - Hujan deras yang mengguyur Kota Batu mengakibatkan banjir lumpur di Dusun Tutup Krajan RT01 RW05 Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. Sebanyak 20 rumah pun terendam Lumpur. Keteledoran warga membuang sampah di sepanjang aliran sungai dinilai menjadi penyebab terjadinya banjir lumpur.
Kesimpulan itulah yang didapat anggota dewan ketika turun langsung ke lokasi, paska banjir yang terjadi Senin sore lalu. Luberan air hujan cukup deras yang mengguyur wilayah kota ini sejak Minggu lalu pun, tak mampu mengalir di sungai lantaran sumbatan sampah. Tanggul dan plengsengan di Sungai Torongrejo itu ambrol sehingga air bercampur lumpur naik menerjang pemukiman.
Ketua DPRD Kota Batu Cahyo Edi Purnomo, yang kemarin bersama dua patnernya, Nurrochman, Hari Danah Wahyono serta dan anggota dewan Dapil Junrejo Sampurno, mendapati fakta tersebut.
“Semalam (Senin 10/11) saya bersama wali kota (Eddy Rumpoko) meninjau langsung. Kami berdua menyimpulkan bencana ini akibat kelalaian bersama. Kami juga menemukan sampah yang menyumbat saluran air itu, kalau diangkut bisa sebanyak 2 hingga 3 truk,” papar Cahyo.
Akibat peristiwa itu, tidak hanya 20 unit rumah yang terendam air, namun infrastruktur jalan ikut rusak termasuk lahan pertanian. Material bangunan milik warga juga terbawa arus.  Menurut Cahyo, dewan bersama eksekutif sepakat untuk mengeluarkan anggaran dana darurat bencana termasuk ada wacana membangun sudetan di sekitar Jl Imam Bonjol dan Diponegoro Kota Batu, dengan fungsi membagi volume luberan air hujan yang menuju Kelurahan Temas dan Torongrejo.  Sebenarnya, tambah Cahyo, sungai yang ada di wilayah desa ini ukurannya sudah cukup besar. Namun karena tidak ada kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, dampaknya terjadi banjir lumpur.
“Memang sudetan baru penting, tapi paling penting ada penyadaran terhadap masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Sungai harus difungsikan sebagaimana mestinya,” ujar Cahyo.
 
TPA LONGSOR
Plengsengan yang ambrol itu, merupakan bangunan cukup tua karena dibangun pada tahun 1977 walaupun sempat direnovasi di era kepemimpinan Wali Kota Batu almarhum H Imam Kabul.
Kemarin pun anggota dewan membagikan bantuan dari Kementerian Sosial, yang disalurkan lewat Tagana berupa family kit berisi handuk, sabun, sikat gigi, sampo, keperluan pribadi seperti celana dalam hingga bahan makanan. Isi lainnya berupa matras, terpal, selimut serta alat-alat dapur. “Semoga bantuan ini bisa meringankan penderitaan korban bencana,” terang Haryono, anggota Tagana Kota Batu.
M Adhim, Camat Junrejo mengatakan pihaknya melakukan rehabilitasi daerah bencana bersinergi dengan BPD dan Muspika Junrejo. Salah satu langkah yang sudah dilakukan selain membantu masyarakat membersihkan rumah, juga dilakukan perbaikan infrastruktur jalan, pembenahan plengsengan dan pembenahan saluran irigasi.“Kebutuhan korban bencana tidak ada masalah, makanan sudah tersedia sehingga tidak perlu dirikan dapur umum lantaran sudah teratasi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, BPBD Kota Batu masih melakukan pendataan jumlah kerugian akibat banjir lumpur halnya yang pernah menerjang Desa Bulukerto beberapa tahun lalu ini.
Beban tugas BPBD Kota Batu di awal musim penghujan kali ini, cukup banyak. Hal itu karena selain banjir lumpur di Torongrejo, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Dusun Durek, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji juga longsor.“ Kejadiannya bersamaan dengan banjir lumpur di Torongrejo, tebing TPA ini longsor dan menutup sebagian jalan desa,” ujar Sasmito Kepala BPBD Kota Batu, yang harus mengerahkan personilnya membersihkan longsoran. (muh/lyo/han)