Mulai SD Sampai SMP Dicabuli Ayah Tiri

SURABAYA – Nasib Siska, 12 tahun (bukan nama sebenarnya) sangat malang. Betapa tidak, sejak kelas VI SD hingga duduk di bangku SMP, Siska tidak berhenti dicabuli Yohanes (47 tahun) ayah tirinya sendiri. Perbuatan biadab itu baru berhenti ketika guru SMP-nya melapor ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
‘’Karena dianggap sudah keterlaluan, guru SMP korban melaporkan ke polisi. Sebelumnya, korban tidak berani lapor karena selalu diancam akan dibunuh,’’ kata AKP Lili Djafar, Kasubag Humas Polres Pelabuhan Perak Surabaya di kantornya, Senin kemarin.
Dikatakan Lili, pelaku tercatat lebih dari 10 kali mencabuli korban. Pelecehan dilakukan ketika tersangka mendapatkan korban sedang menonton televisi di ruang tamu. Tanpa disangka, korban didekati dan langsung meremas dan melepas paksa celana dalam korban. ‘’Setelah itu, pelaku langsung memasukkan jarinya kealat vital korban. Setelah dirasa cukup, korban langsung ditinggalkan begitu saja, dengan ancaman akan membunuh,’’ ujar Lili, sembari menunjuk pelaku warga Mruttu Anyar Surabaya Timur.
Menurut Lili, pelecehan terhadap korban dilakukan terus menerus tanpa ada yang mengetahuinya. Bahkan, perbuatan itu dilakukan cukup lama mulai korban masih duduk di bangku SDN di Kenjeran sampai SMP.
Tetapi, lanjut Lili, awal mula terungkapnya kelakuan bejat pelaku ketika guru SMP korban selalu melihat korban selalu murung. Dengan insiatif dan pendekatan, Siska lalu ‘dintegrogasi’ tentang kejadian yang menyebabkan sikap murung tadi. ‘’Korban akhirnya buka suara, kalau dirinya sangat trauma dengan perbuatan ayah tirinya. Tidak hanya sekali atau dua kali, tersangka kerap kali diperlakukan tidak senonoh di rumahnya sendiri,’’ cerita Lili menirukan laporan guru korban.
Ditambahkan, sebenarnya orang tua Siska pernah memergoki perbuatan pelaku. Tetapi, setelah itu tidak pernah ada tindak lanjut apapun dan korban terus dilecehkan. Untuk mempertanggungjawabkan tindakan bejatnya pelaku dijerat pasal 81 dan 82 UU RI Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (has/udi)