Tabrak Dua Motor, Nyungsep di Sungai

KARANGPLOSO - Kecelakaan karena over penumpang yang seringkali terjadi ternyata belum memberikan efek jera kepada pengguna jalan untuk lebih berhati-hati. Kemarin, motor roda tiga jenis Viar N 4266 GK yang mengangkut 15 siswa XIa MA Darun Najah Desa Ngijo, Karangploso masuk ke dalam sungai setinggi sekitar 6 meter.
Tidak hanya itu, sebelum masuk ke sungai, kendaraan roda tiga yang dikendarai oleh Muhammad Farichin, 18 tahun, warga Desa Semungu, Kecamatan Pasirian-Lumajang ini sempat bertabrakan dengan dua motor. Yakni, Honda Beat N 2077 FK yang dikendarai Mas’ud Fatkhulloh, 53 tahun, berboncengan dengan Sri Mulyanti, 52 tahun, keduanya warga Desa Ngijo RT01 RW05, Kecamatan Karangploso serta Honda Beat N 3759 AAF yang dikendarai Samsul Islam, 32 tahun, warga Jalan Kaliurang No 80 A, Kecamatan Lowokwaru  bersama  anaknya.
Rencana untuk latihan futsal di Griya Permata Alam (GPA) Ngijo pun pupus karena semua siswa luka-luka, termasuk dua pengendara motor yang ditabrak. Mereka dirawat di Puskesmas Krangploso dan IGD Prasetya Husada Karangploso.  “Pemicu kecelakaan itu, karena Viar tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Kendaraan itu kan bukan untuk angkutan, apalagi diisi 15 siswa. Akibatnya, hilang keseimbangan saat melaju sehingga menabrak dua pengendara motor. Terkait dengan kejadian tersebut, untuk penanganan dilimpahkan ke Sat Lantas Polres Malang,” kata Kapos Lantas Singosari, AKP Made Suardana.
Dari informasi yang dihimpun Malang Post, sebelum tabrakan itu terjadi rombongan berangkat dari sekolah. Kebetulan, pagi itu kegiatan pelajaran olahraga dan seperti biasa, siswa melakukan futsal di GPA. Dengan memakai kendaraan Viar, rombongan siswa yang berjumlah 15 orang, bersama-sama naik di belakang pengendara.
Saat memasuki jalan menurun dan sedikit menikung di GPA, secara tiba-tiba kendaraan yang memang biasa digunakan untuk berangkat futsal itu, langsung kehilangan keseimbangan. Akibatnya, motor roda tiga yang awalnya melaju dari selatan ke utara, secara tiba-tiba masuk ke jalur kendaraan dari arah berlawanan.
Tak ayal, Mas’ud yang posisi motor Honda Beat-nya berada di depan jalur utara ke Selatan, seketika itu langsung bertabrakan. Sementara Samsul yang motornya di belakang Mas’ud, pun turut menjadi sasaran Viar. Tidak berhenti sampai di situ, laju Viar yang sudah tidak bisa dikendalikan, langsung menghantam dinding pembatas lokasi usaha bersih motor, terus melaju hingga masuk ke dalam sungai.
“Setahu saya, Viarnya memang agak sulit saat belok. Makanya, sampai keluar jalur dan menabrak motor hingga masuk ke sungai,” kata seorang pelajar kelas XIa, Moh Mahdi Husain.
Satu dari beberapa korban yang mengalami patah tulang di kaki kanan itu menambahkan, saat berangkat posisinya berada di tengah Viar.  “Kami ke futsal GPA, itu kegiatan olahraga sekolah. Makanya, rombongan,” ungkapnya sambil sesekali mencoba menahan sakit.
Sementara pengendara Viar, Muhammad Farichin, yang selamat dalam kejadian itu mengatakan, kalau kendaraannya tiba-tiba tidak bisa dikendalikan.  “Saya yang biasa membawa Viar itu. Biasanya, juga mengantarkan mereka (siswa) ketika futsal dengan Viar,” ungkapnya.
Pihak sekolah saat akan dikonfirmasi, tidak ada di tempat. Sementara beberapa guru, nampak berada di ruang IGD Prasetya Husada. Termasuk, pelajar lain yang menjenguk teman-temannya yang menjadi korban laka. “Pak kepala sekolah tadi ke sini, tadi sekarang sudah kembali,” ujar seorang siswa.

ENAM SISWA ALAMI PATAH TERTUTUP
IGD Prasetya Husada yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kejadian, menjadi jujugan sejumlah korban kecelakaan. Dari data IGD, ada 15 pasien yang ditangani dalam kejadian itu. Apesnya, dari beberapa perawatan sudah dilakukan, sekitar enam korban yang keselurahan pelajar mengalami luka berat yakni patah tertutup.
“Dari sejumlah pasien yang masuk, beberapa di antaranya sudah ada yang minta pulang dan ada yang masih dilakukan perawatan. Untuk luka, rata-rata memar. Namun, ada sekitar enam pasien yang mengalami patah tertutup. Sementara patahnya, di kaki dan tangan,” kata Humas IGD Prasetya Husada, Sony Wiraganda saat bersama dokter spesialis bedah (SpB) dari Yonkes 2 Karangploso, Mayor CKM Adry Pasmawi.
Disinggung mengenai patah tertutup, dia menjelaskan, untuk mempercepat penyembuhan perlu dipasang pen (gip) pada luka. Sehingga, saat sembuh tidak sampai mengalami cacat. “Kalau tidak diberi pen, khawatirnya pasien bisa cacat karena patah tulangnya tidak pas saat penyembuhan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, untuk sementara pasien belum ada tanda-tanda dirujuk ke RS lain. Hanya saja, kalau memang kondisinya harus dirujuk, maka akan dipindahkan ke RS di Malang. “Kalau memang harus dirujuk, maka nanti akan dipindahkan ke Malang,” terangnya. (sit/han)