Penahanan Kades Tawangargo Tunggu P21

KEPANJEN- Penyidik Satreskrim Polres Malang telah melengkapi berkas dan pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi Kades Tawangargo Ferri Misbakhul hakim. Saat ini, penyidik tengah menunggu pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen yang telah menerima berkas itu.
 “Seluruh berkas telah kami serahkan ke kejaksaan. Bila dinyatakan P21 (Lengkap), maka akan segera kami lakukan penahanan terhadap tersangka,” ujar Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat kepada Malang Post kemarin.
Selain berkas sudah dikirimkan ke Kejari Kepanjen, pihaknya juga telah memintai keterangan dari tersangka Ferri.  Pihaknya juga telah beberapa kali memanggil tersangka untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Namun, selama diperiksa sebagai tersangka, tidak dilakukan penahan terhadap yang bersangkutan.
“Tersangka kami anggap tidak melarikan diri dan mau bekerjasama, sehingga tidak dilakukan penahan. Namun, bila sudah P21 oleh kejaksaan dan kasusnya segera disidangkan, maka mau tidak mau harus dilakukan penahanan terhadap tersangka,” kata perwira pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya tersebut.
Disinggung mengenai kapan akan dilakukan penahanan terhadap tersangka, dia belum bisa memastikannya. “Tergantung kejaksaan. Bila besok (hari ini) dinyatakan lengkap, maka hari itu juga dilakukan penahanan,” kata mantan Kastreskrim Polres Tuban ini.
Menurutnya, kasus korupsi ini mempunyai perlakuan berbeda. Sehingga tidak bisa serta merta dilakukan penahanan. “Intinya, seluruh berkas sudah kami sampaikan kepada kejaksaan. Sekarang tinggal prosesnya di kejaksaan itu bagaimana,” imbuhnya.
Sementara itu, Bagian Tata Pemerintahan Desa (Tampemdes) Pemkab Malang Edi Suhartono menyatakan, surat penonaktifan Ferri sebagai kades, belum turun.
 “Kami menunggu perkembangan kasus ini. Bila sudah ditahan, kemungkinan Bapak Sekda Abdul Malik langsung mengeluarkan surat non aktif,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Sebagai informasi, Kades Tawangargo Ferri Misbakhul hakim terkait kasus dugaan korupsi dana hibah sebesar Rp 200 juta. Dia dilaporkan oleh kelompok masyarakat (Pokmas) yang dananya diselewengkan Ferri.(big/aim)