Pegawai Bea Cukai Diadili

MALANG – Usai mengantarkan empat warga Papua ke penjara, Ivan Triyugo Nurirawan (38 tahun) justru diadili. Pegawai bea cukai yang dulunya beroperasi di Bandara Internasional Juanda ini, sekarang menjadi terdakwa pengadilan negeri (PN) Malang atas dugaan kasus tabrak lari dengan korban Alton Bastian, mahasiswa asal Papua, kemarin.
Kasus tersebut sudah melalui proses tujuh kali persidangan. Kemarin (2/12/14), merupakan pemeriksaan terakhir dari terdakwa Ivan oleh hakim PN Malang.
Dalam sidang itu, Ivan membantah kalau dirinya telah melakukan tabrak lari terhadap Alton Bastian. Dia menyatakan, kalau dia justru menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh lebih dari 20 orang Papua.
"Faktanya diputar balik, saya tidak melakukan tabrak lari. Justru saya yang dikeroyok mereka. Saya sampai geger otak dan dirawat di rumah sakit selama hampir satu bulan," ujar Ivan yang sekarang dipindah ke Kantor Wilayah Jawa Timur II Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil Jatim II DJBC) ini. Dia mengatakan, kasus pengeroyokan tersebut sudah diadili, empat tersangka dijerat pasal penganiayaan.
Empat tersangka tersebut adalah Wendriannus Tappi (25 tahun), Johanes Alfredo (25 tahun), Donatus Kofi (24 tahun) dan Rama Soyan Arung Lamba (26 tahun). Melalui surat putusan nomor 123/PID.B/2014/PN.Mlg keempatnya divonis penjara 2 bulan 15 hari. Berdasarkan informasi yang dihimpun Malang Post, kasus ini sempat dirilis oleh Polres Malang Kota pada Januari 2014 silam.
Kronologi versi Ivan, saat itu Ivan baru pulang dari tempat kerja di Juanda sekitar pukul 03.30 WIB. Saat sedang berada di Jl Bendungan Siguragura, tampak sekelompok orang papua sedang bersiap melakukan balapan sepeda motor di tengah jalan. Karena menutupi jalan, Ivan akhirnya menyalakan lampu dan membunyikan klakson.
Sejumlah pemuda tersebut sempat tidak ingin minggir, meski akhirnya mereka membiarkan Ivan lewat. Akan tetapi, saat Ivan lewat, mobil Ivan dipukul dan mengeluarkan bunyi keras. Ivan tidak terima, dia keluar dan menanyakan maksud mobilnya dipukul. "Tapi mereka datang mengeroyoki saya, jadi saya masuk dan kembali ke mobil," jelas Ivan.
Mobil dia setir ke rumahnya yang berjarak kurang dari 200 meter dari lokasi kejadian. Rupanya, sejumlah pemuda Papua ini mengejar Ivan. Mengetahuinya, Ivan keluar dan sejumlah pemuda tersebut mengeroyok dia sampai tidak sadarkan diri karena geger otak dan dinonjobkan oleh kantor selama dua bulan. Ivan menyatakan, kasus pengeroyokan ini sudah melalui proses perdamaian dari kedua belah pihak, meskipun pada akhirnya laporan tidak bisa dicabut.
Sementara versi Alton Bastian, dia ditabrak lari oleh Ivan di tempat dan waktu kejadian yang sama. Berdasarkan kesaksian Alton kepada PN Malang, saat itu Ivan mengendarai mobil Taft dengan kecepatan 40 km/jam, lalu menabrak Alton. Hasil tabrak tersebut dilaporkan dan sudah melalui visum.
Alton melaporkan ini ke pengadilan dan sekarang sedang melalui tahap persidangan terakhir, menjelang putusan. "Saya kaget, waktu baru keluar dari rumah sakit tiba-tiba dikabari kalau saya dilaporkan mejadi terdakwa dalam kasus tabrak lari. Jelas Ivan.
Hasil sidang pemeriksaan kemarin, diakhiri dengan pernyataan hakim kalau Selasa (9/12/14) depan hakim akan mengecek lokasi untuk memastikan perkara sebenarnya. "Selasa pekan depan kami akan cek TKP untuk membuktikan keterangan terdakwa (Ivan, red)," jelas ketua hakim sidang tersebut, Betsji SH MH. (erz/ary)