Tangkap Jaringan Curanmor Terbesar

MALANG – Mengawali bulan Desember 2014, Satreskrim Polsekta Sukun berprestasi menangkap jaringan pelaku curanmor yang selama ini beraksi di Malang Raya. Dua pelaku utama (pemetik), dua penadah serta 25 unit motor sebagai barang bukti kejahatan berhasil diamankan. Sementara seorang pemetik lainnya, berhasil kabur sebelum polisi datang menggerebek rumahnya.
Ungkap kasus curanmor yang dilakukan Polsekta Sukun inipun, kemungkinan menjadi tangkapan curanmor terbesar selama 2014. “Keberhasilan ungkap pelaku curanmor bersama dengan barang bukti ini, merupakan kerja keras anggota selama ini. Mereka menyelidiki dan mengembangkan kasusnya selama beberapa hari,” terang Kapolsekta Sukun, Kompol M Toyib Subur.
Dua pemetik (pelaku utama) yang ditangkap adalah Slamet Supriyadi alias Yedi, 31 tahun, warga Jalan Klayatan III Gang Melati, Kelurahan Bandungrejosari, Sukun, dan Ibet Bulan Santoso, 25 tahun, warga Jalan Rawisari, Kelurahan Mulyorejo, Sukun. Ibet sebelumnya pada 2012 pernah ditahan kasus penggelapan. Sedangkan satu pelaku lain yang kabur berinisial W, warga Kecamatan Sukun.
Sementara untuk dua penadah motor curian yang diamankan, adalah Hermawan alias Doweh, 26 tahun, warga Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, serta Siswanto, 39 tahun, warga Dusun Sumbersuko, Desa Patok Picis, Kecamatan Wajak. Keduanya ini ditangkap di rumahnya masing-masing.
Menurut Toyib, penangkapan jaringan curanmor ini berawal dari diamankannya sepeda motor Honda Supra bodong (tanpa surat), di rumah Fajar Sepdiansyah, 21 tahun, di Jalan Kepuh VI, Kecamatan Sukun, akhir pekan lalu. Fajar mengaku kalau motor tersebut dibeli dari Ibet serta Slamet. Dari pengakuan itulah, polisi lalu memburu Ibet serta Slamet.
Saat digrebek di rumahnya, Ibet dan Slamet ternyata tidak ada. Mereka kabur setelah mengetahui Fajar tertangkap. Namun polisi tidak patah arang, mereka terus mencari keberadaan mereka. Hasilnya Senin malam keduanya berhasil dibekuk di Candipuro – Lumajang. “Saat itu mereka bersiap kabur ke Jember,” ujar Toyib.
Dari penangkapan Ibet dan Slamet, polisi mendapati dua barang bukti tambahan. Kemudian dari keterangan mereka ini, polisi lalu mengembangkan ke penadahnya. Mereka mengaku hasil kejahatannya dijual kepada Hermawan alias Doweh. Hermawan pun berhasil ditangkap, setelah dipancing transaksi jual beli motor.
Ketika ditangkap, Hermawan mengatakan kalau sepeda motor yang dibeli dari Ibet dan Slemat seharga Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta dijual kepada Siswanto. Akhirnya polisi kembali memburu Siswanto, dan berhasil menangkapnya. Dari keterangan Siswanto inilah, polisi lalu mengambil barang bukti 22 unit motor lainnya dari para petani di Wajak yang membeli.
“Sebetulnya masih ada barang bukti sepeda motor lainnya, namun tersangka masih lupa dijual kemana. Dan untuk barang bukti kunci T milik pelaku utama yang digunakan tiap kali beraksi, diakui dibuang di sungai,” jelasnya.
Dalam pemeriksaan, Ibet dan Slamet mengaku selalu beraksi bertiga dengan temannya W yang kini masih buron. Mereka beraksi mencuri sejak Agustus lalu sampai akhir November 2014. Selama empat bulan ini, sudah 30 TKP pencurian yang diakui. 21 TKP di wilayah Kota Malang, 7 TKP di wilayah Kabupaten Malang, 1 TKP wilayah Kota Batu dan 1 TKP lagi wilayah Mojokerto.“Kami beraksinya dengan keliling mencari sasaran. Ketika ada sasaran motor, kami langsung mencurinya dengan menggunakan kunci T. Setelah itu motor kami jual kepada Hermawan,” terang tersangka Ibet, yang dibenarkan Slamet.
Sementara itu, Hermawan dan Siswanto mengaku kalau mereka ini sudah setahun ini menjadi penadah sepeda motor. Artinya selain jaringan pelaku Ibet, masih ada jaringan lainnya. Dari motor curian yang dibeli kemudian dijual lagi, mereka mengaku mengambil keuntungan Rp 200 ribu.(agp/nug)