Awas Investasi Fiktif Mengintai

KEPANJEN – Kabupaten Malang masuk dalam wilayah rentan terjadinya investasi fiktif untuk mengeruk keuntungan dana dari masyarakat. Selama tahun 2014 ini, ada empat kasus investasi fiktif yang diproses di Polres Malang. Tiga kasus Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan satu kasus koperasi.
“Modusnya sama dengan yang terjadi sebelumnya. Yakni menawarkan investasi kepada masyarakat, dengan janji-janji keuntungan sangat menggiurkan dalam jangka waktu yang cepat,” ujar Kepala Kantor OJK Malang Indra Krisna kepada Malang Post, usai sosialisasi bersama OJK Malang di Ruang Eksekutif Mapolres Malang, kemarin.
Menurutnya, mayoritas wilayah di Kabuaten Malang pedesaan. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui investasi fiktif seperti ini. Untuk itu, pihaknya bekerjasama dengan Polres Malang mengadakan sosialisasi seperti ini.
Kedepannya terjadi sinergitas antara OJK dan kepolisian dalam menangani kasus investasi fiktif.
“Kami berharap bisa bekerjasama dengan Polres Malang, terkait temuan di lapangan investasi fiktif, abal-abal, bodong atau semacamnya. Supaya penanganan kasus seperti ini menjadi mudah dan cepat,” kata pria berkacamata ini.
Untuk investasi fiktif yang banyak diresahkan seperti, Manusia Membantu Manusia (MMM) dan PT Dua Belas Suku (DBS) yang berbasis di Blitar belum ditemukan di Kabupaten Malang.
“Kalau yang menangani pihak kepolisian, beda lagi. Karena bila kasus itu sudah ditangani oleh kepolisian dan dibackup oleh pengacara, itu bukan wewenang kami,” terangnya.
Sedangkan yang paling dia waspadai di Kabupaten Malang yakni koperasi dengan modus memberikan layanan deposito bunga selangit oleh anggotanya. Deposito merupakan produk dari perbankan. Koperasi tidak berhak memakai produk bank itu.
“Apalagi ternyata koperasi tersebut fiktif. Modus lainnya adalah arisan fiktif yang menjanjikan bunga besar,” urainya. Untuk itu, dia menghimbau masyarakat untuk waspada dan berhati-hati lagi terkait investasi fiktif itu.
Sepanjang tahun 2014, Polres Malang menindak empat kasus investasi abal-abal. Rinciannya,. Hal itu disampaikan Kasatreskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat, usai kegiatan kemarin.
“Nominal investasi fiktif, rata-rata Rp 300 juta hingga Rp 600 juta. Dari empat kasus itu, menghasilkan masing-masing satu tersangka,” ujarnya.
Terakhir pihaknya menangani kasus investasi fiktif senilai Rp 1,6 miliar. Hanya saja, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut kasus terebut.
“Hal ini tentunya masuk ranah pidana penipuan dan penggelapan,” kata mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini.
Pihaknya menyambut baik sosialisasi yang diadakan OJK Malang ini. Apalagi sosialisasi tersebut diikuti oleh seluruh Kanit Reskrim yang tersebar di 33 Polsek di wilayah hukum Polres Malang. (big/aim)