Sulit Pembuktian, Diprediksi Sampai Kasasi

MALANG – Pembuktian kasus tewasnya Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa ITN Malang saat kegiatan kemah bakti desa temu akrab (KBD-TA) bakal sampai ditingkat kasasi. Sebab pembuktian kasus ini, bakal berlangsung lama. Diprediksi perkara ini akan sampai tingkat kasasi.
“Kalau saya melihat, kasus ini akan sampai tingkat kasasi. Sebab pembuktian untuk menyatakan para terdakwa bersalah sangat sulit,” ungkap Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Edward Hariis Sinaga, SH, MH, kepada Malang Post Selasa (9/12) lalu.
Menurut dia, sulitnya pembuktian kasus ini, karena ada beberapa factor. Pertama tidak diketahuinya penyebab kematian korban. Ini karena pihak keluarga korban menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah Fikri. Kedua, orangtua ataupun keluarga korban juga menolak memberi keterangan sebagai saksi.
Padahal hasil otopsi kematian Fikri, diakuinya bisa menjadi salah satu bukti. Selain itu, keterangan orangtua korban juga menjadi petunjuk, apakah selama ini korban mempunyai riwayat sakit, sebelum akhirnya meninggal.
“Keterangan yang didapat, hanya dari beberapa saksi teman korban serta mahasiswa lain. Itupun kesaksian mereka, hanya berdasarkan katanya-katanya saja. Tidak ada yang mengatakan melihat secara langsung. Bahkan keterangan para saksi itu, juga membela pihak ITN (empat terdakwa, red),” tutur Edward.
Dilanjutkan Edward, jika empat terdakwa yaitu Ibnu Sasongko selaku dosen dan tiga lainnya mahasiswa senior yakni Halimurrahman, Putra Arif Budi S dan Natalia Damayanti ini, didakwa kasus kekerasan sangat sulit terbukti. Sebab butuh bukti otopsi untuk memperkuatnya. Sekaligus harus ada saksi yang mempertegas melihat langsung.
Begitu juga dengan penerapan Pasal 359 KUHP Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 tentang kelalaian, yang didakwakan kepada empat terdakwa saat ini. Hal itu juga sulit dibuktikan. “Karena dehidrasi (kekurangan air) tidak akan sampai membuat seseorang meninggal seketika. Kemudian pembatasan air mineral, juga tidak bisa dijadikan alasan karena semua mahasiswa saat itu juga dibatasi. Dan lokasi kegiatan yang jauh melebihi batas, itu hanya menyalahi aturan. Makanya untuk membuktikan, sekaligus memperkuat dakwaan maka akan ada beberapa saksi ahli yang akan kami panggil untuk dimintai keterangan,” jelasnya.
Sementara itu, lamanya pembuktian kasus Fikri dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen ini, karena semua mahasiswa yang sebelumnya diperiksa oleh pihak kepolisian, mengajukan diri untuk dimintai keterangan. “Semuanya mengajukan untuk dipanggil dipersidangan dan meminta kesaksian mereka didengarkan,” katanya.(agp/aim)