Kalah Judi, Sandra Siswa SD, Ditembak Mati

MALANG POST - Polisi menembak mati seorang penyandera siswa Sekolah Dasar (SD) di Gresik. Penyanderaan ini berlangsung di Markas Komando Distrik Militer Gresik, Rabu 17 Desember 2014.
Pelaku yang diketahui bernama Ahmad Fuad (34), warga Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) diduga stres tiba-tiba masuk ke sekolah, dan langsung menyeret bocah kelas empat SD itu langsung mengalungkan senjata tajam ke leher korban. Melihat aksi pelaku, anggota Kodim 0817 Gresik berusaha membebaskan korban sambil merayu pelaku.
Pelaku akhirnya diajak masuk ke Mako Kodim 0817 Gresik. Penyanderaan lebih dari dua jam, pelaku meminta disediakan mobil untuk menuju ke Tanjung Perak, Surabaya.
Anggota akhirnya menuruti permintaan pelaku. Namun di tengah perjalanan, tim Buser Polres Gresik yang membuntuti pelaku berhasil menyelamatkan korban setelah menembak pelaku sebanyak tiga kali mengenai dada pelaku disertai bunyi tembakan dor...dor..dor dari moncong senjata. "Keluar...keluar kau," teriak petugas.
Usai ditembak polisi korban langsung tergeletak di jalan, sejumlah pengendara terlihat melambatkan kendaraannya dan sempat membuat arus lalu lintas Jalan Veteran dari Gresik menuju arah Surabaya macet. Pelaku yang tewas di TKP langsung dibawa ke RSUD Ibnu Sina. Sedangkan korban bersama anggota TNI dibawa ke RS Semen Gresik untuk mendapat perawatan.
Menurut Komandan Kodim Gresik, Letnan Kolonel Awang Pramila, aparat sempat bernegosiasi dengan pelaku di Markas Kodim, meski sandera belum dilepaskan. Berdasarkan negosiasi itu, diketahui bahwa pelaku berniat meminta perlindungan kepada aparat TNI.
Ahmad Fuad mengaku diburu oknum tertentu atau penagih utang dan keselamatannya terancam. Dia pun berinisiatif menyandera seorang anak sebagai sarana untuk mengancam aparat agar diberikan perlindungan dari penagih utang itu. “Motif pelaku bahwa pelaku ini sudah terjerat utang akibat judi dan dikejar-kejar oleh oknum. Dia minta perlindungan untuk pulang dengan selamat. Saking stresnya, dia melakukan penyanderaan dan berkata-kata tidak jelas,” kata Awang.
Sebelum tewas ditembak anggota Buser Polres Gresik, pelaku sempat mengeluh karena berhutang kepada temannya sebesar Rp 2 juta karena kalah berjudi. Jika tidak membayar, pelaku akan dibunuh temannya. Menurut saksi mata, Kapten Arh Suwanto, anggota Kodim 0817, yang mengantar pelaku ke Tanjung Perak Surabaya, pelaku minta diantar ke Surabaya sambil menyandera Zahriyani Putri Agustin (9), siswi SDN Tlogopatut 2 Gresik dengan sebilah pisau. "Sebelumnya, pelaku meminta diantar ke Malang menemui saudaranya. Bahkan, sempat meminjam ponsel saya sebelum saya melakukan perlawanan dan setelah itu ditembak polisi dari samping pintu sebelah kiri," ujar Kapten Suwanto kepada wartawan, kemarin.
Kapten Suwanto mengatakan, sebelum akan diantar ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dia sudah membujuk agar melepas sanderanya. Namun, rayuan itu tidak membuat pelaku. Sebaliknya, pelaku malah meminta mempercepat laju kendaraan yang dikendarainya menuju arah Surabaya. "Beruntung laju kendaraan kami berhenti karena lampu merah. Dalam hitungan detik, saya melakukan perlawanan dan bersamaan itu pula polisi menembak pelaku," tuturnya.
Sementara itu, Zahriyani Putri Agustin yang menjadi korban penculikan orang tak dikenal masih trauma, dan lehernya mengalami luka sepanjang 2 Cm akibat benturan pisau yang dibawa oleh pelaku. Menurut Kepala UGD RS Semen Gresik dr Tholib Bahasuan, kondisi korban sadar dan masih trauma dengan kondisi luka lecet di leher serta di dada korban akibat adanya benturan. "Luka lecetnya tidak terlalu dalam, sedangkan luka di dadanya hanya kemerahan sedikit," ujarnya kepada wartawan, kemarin.
dr Tholib Bahasuan menambahkan, saat ini korban masih membutuhkan perawatan dan pemulihan kondisi karena mengalami traumatik. "Psikis korban butuh pemulihan karena mengalami tindak kejahatan," tuturnya. (jpnn/bj/tri)