Keluarga Korban Mutilasi Protes Vonis Hakim

Terdakwa Andi Rabut Cahyono pasrah mendengarkan amar putusan Majelis Hakim kemarin.

KEPANJEN- Andi Rabut Cahyono, akhirnya divonis bersalah dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kamis, siang kemarin. Mantan Perangkat Desa Dalisodo Kecamatan Wagir itu divonis hukuman 1,6 tahun penjara. Dia terbukti melakukan pembiaran yang menyebabkan kematian terhadap Yaona Miatisari.
Putusan yang dijatuhkan oleh Ketua Majelis Hakim Tuty Budhi Utami SH MH itu, lebih berat daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) satu tahun penjara. JPU menilai terdakwa melanggar Pasal 304 KUHP tentang membiarkan orang yang patut untuk ditolong dan dalam keadaan sengsara. Serta pasal 359 KUHP tentang kalpaan seseorang yang menyebabkan meninggal, maksimal hukuman lima tahun penjara.
“Vonis ini dijatuhkan berdasarkan fakta di persidangan. Terdakwa dinyatakan bersalah dan dihukum kurungan penjara selama satu tahun enam bulan,” ujar Tuty Budhi Utami membacakan amar putusannya.
Terdakwa harus menjalani kurungan penjara selama satu tahun dua bulan, dipotong massa tahanan selama empat bulan yang sudah dilaluinya. Mendengar putusan dari Ketua Majelis Hakim itu, terdakwa dapat bernafas lega. Hanya saja, kuasa hukum terdakwa Bambang Suwarhono SH, menyatakan pikir-pikir terlebih dahulu.
“Masih ada waktu satu pekan bagi kami untuk memikirkannya. Karena fakta di persidangan, sudah jelas klien saya tidak tebukti melakukan pembunuhan. Apalagi vonis yang dijatuhkan masih lebih berat dari tuntutan JPU. Kalau yang dikehendaki, klien saya bebas dan diyatakan tidak bersalah,” ujar Bambang kepada Malang Post,
Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kepanjen M Usman menyatakan, tugasnya untuk membuktikan terdakwa berhasil. Terlebih vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim, melebihi apa yang dituntutkan oleh pihaknya. Dia akan menunggu langkah selanjutnya yang akan diambil kuasa hukum terdakwa Rabut.
“Hukumannya satu tahun enam bulan, terdakwa wajib menjalankannya sesuai amar putusan dari Majelis Hakim,” ucapnya.
Sementara itu, bibi korban Yaona Miatisari, Parianti, 50 tahun, kecewa dengan putusan dari Majelis Hakim tersebut. “Nyawa keponakan saya yang tidak bisa kembali lagi, hanya dihargai hukuman setahun enam bulan, tentunya tidak adil. Jelas Rabut lah yang membunuh keponakan saya saat itu,” ucapnya dengan lantang.
Sesuai dengan fakta jelas dari dua saksi yang menyatakan melihat Rabut bertemu dengan Yaona, sebelum ditemukan tewas. “Orang terakhir yang bertemu keponakan saya, ya Rabut itu. Jadi, pelaku pembunuhannya ya Rabut. Apalagi dia selama ini dikenal tidak baik,” tegasnya.
Sepeti diketahui, jasad Yaona yang termutilasi ditemukan di sungai kering Dusun Sengon, Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir pada 10 November 2013 silam. Di duga mantan buruh pabrik rokok itu dibunuh karena hamil.  (big/aim)