Curiga Pembunuh Teman Dekat

Seluruh keluarga besar SMAK Dempo dibuat kaget dan terhenyak dengan berita terbunuhnya Alexander Axel Elleaza. Apalagi mereka sedang khusyuk menjalani rangkaian ibadah Natal. Waka Humas SMAK St. Albertus Malang, Petrus Paulus termasuk yang tidak percaya dengan musibah ini saat diberi tahu oleh guru-guru lain.
“Saat mendengar kabar itu, saya sedang menjalani misa pagi di gereja. Tiba-tiba saya mendengar ponsel berbunyi berkali-kali. Setelah saya lihat ternyata kabar terbunuhnya Axel,” ungkapnya.
Petrus menjelaskan, setelah gelaran misa Natal selesai, Kepala Sekolah SMAK Dempo, Bendahara, Humas, Pelayanan Pastoral dan bimbingan rohani langsung menuju lokasi kejadian di Pasuruan. Ia yang turut dalam rombongan tersebut juga menceritakan informasi yang didapat dari pengakuan ibunda korban, Natalia Evifani.
Petrus mengatakan, ibunda Axel mencurigai tersangka yang melakukan tindakan kriminal tersebut adalah teman korban semasa SMP. Dari pengakuannya, ada barang-barang yang hilang di rumah korban antara lain dompet, HP, laptop dan salah satu benda kesayangannya semasa SMP. Axel merupakan siswa lulusan SMP Elkana Pasuruan.
“Kecurigaan tersebut didukung dengan ditemukannya posisi korban yang berada di lantai bawah padahal tempat tidurnya di lantai dua. Menurut ibunya, pembunuh mengetahui di mana kamar Axel berada,” terang dia kepada Malang Post semalam.
Axel sendiri di mata guru, teman-teman sekelas dan teman satu sekolahnya di SMAK St. Albertus Malang merupakan siswa yang pendiam dan sangat ramah. Menurut pengakuan Lawrentius Patria, Ketua OSIS SMAK Dempo Malang, Axel biasa bercanda gurau dengan teman-temannya di dalam kelas.
”Jadi kalo kita sebagai anak awam dan pertama kali melihat sosok Axel pasti mengira dia pendiam. Namun jika sudah kenal dekat, anaknya pasti mudah diajak mengobrol atau bercanda. Bahkan tak jarang teman-temannya sering memanggil Axel dengan Nobita karena suaranya kecil dan khas dengan kacamata seperti Nobita,” ucap dia.
Patria sebagai perwakilan dari teman-teman satu sekolahnya tentu merasa kehilangan dan shock dengan kejadian tersebut. Dirinya juga mengaku, respon duka cita terhadap kejadian ini juga langsung ditanggapi dengan cepat oleh teman-teman satu sekolahnya. Mulai dari memasang fotonya untuk dijadikan DP di BBM hingga dipasang sebagai foto profil di akun sosmed masing-masing dengan watermark R.I.P.(Rest In Peace).   
”Sebagai teman satu sekolah, saya merasa kaget sekali dengan kabar ini.  Saya sampai harus berulang kali memastikan apakah Axel benar-benar korbannya,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Axel juga dikenal tekun dan Bahasa Inggris. Meski demikian, Axel tidak pernah menyombongkan diri dengan kemampuannya itu. Seperti diungkapkan temannya Giovani Kristianti. “Anaknya lucu dan wajahnya menggemaskan. Dia jago bahasa Inggris,” katanya.
Tanti mengatakan ia terakhir bertemu dengan Axel saat penerimaan rapor. “Dia satu-satunya anak yang tidak pakai seragam. Entah kenapa, saya hanya melihatnya dari jauh,” jelasnya.
Berdasar informasi yang dihimpun Malang Post, hingga berita ini diturunkan jenazah masih disemayamkan di rumah persemayaman jenazah Budi Dharma Pasuruan. Menurut rencana, pada 28 Desember mendatang jenazah akan langsung diberangkatkan dari Pasuruan sekitar pukul 8 pagi menuju Lawang untuk dikremasi. Selama masa persemayaman ini, jenazah korban masih terus didatangi oleh kerabat keluarga. Selain itu pihak sekolah yang diwakili oleh Petrus akan terus berkoordinasi dengan keluarga untuk ikut mengawal prosesi pemakaman jenazah dan berharap kejadian ini dapat segera diusut tuntas oleh pihak kepolisian.(mg/sry/han)