Polisi Kantongi Titik Terang Pelaku

MALANG - Kasus pembunuhan yang menewaskan pelajar SMAK Santo Albertus (Dempo) Malang, Alexander Axel Elleaza, menjadi atensi khusus Polres Pasuruan Kota. Kendati belum tertangkap, namun polisi mengaku sudah mulai mengantongi titik terang pelakunya. Saat ini, penyidik masih mendalami keterlibatan orang yang dicurigai sebagai 'jagal' sadis tersebut.
"Kami masih berupaya untuk mengungkap pelakunya. Kasus ini sedang kami dalami. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, bisa segera kami tangkap," ungkap Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Bambang Sugeng.
Bambang mengatakan, pelaku pembunuhan pemuda berusia 16 tahun tersebut, diduga adalah orang dekat korban. Kecurigaan ini mengerucut karena dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) tidak ditemukan kerusakan. Pelaku dengan mudah masuk ke dalam ruko sekaligus rumah korban. Padahal untuk masuk ke dalam ruko, harus membuka tiga kunci.
"Sebelum masuk ruko, pelaku ini kemungkinan sudah berkomunikasi terlebih dahulu dengan korban melalui HP. Tetapi dimana HP korban, tidak kami temukan. Besar kemungkinan handphone korban ikut dibawa pelaku," ujar Bambang.
Lantas siapa kira-kira orang dekat ini? Bambang, tidak mau menyebut secara detil. Ia hanya mengatakan pihaknya sekarang masih terus mendalami kasus ini. Saat ini, ia masih mau memanggil beberapa saksi dari keluarga untuk mengungkap pelakunya.
"Ada dua tim yang kami bentuk untuk mengungkap pembunuhan ini. Satu tim bertugas di bagian penyidikan sekaligus mengumpulkan barang bukti, dan satu tim lagi saat ini berada di lapangan untuk memburu pelakunya," katanya.
Disinggung soal kecurigaan keluarga yang mencurigai teman sewaktu SMP, karena banyak barang kesayangan korban yang hilang, Bambang tidak menampik. Diakuinya, kecurigaan keluarga sangat mendasar sekali. Bahkan kini, polisi mengarahkan penyelidikan ke arah itu.
Hanya siapa nama orang yang dicurigai, Bambang enggan menyebutkan. Tetapi dia mengungkapkan ada titik terang terkait pelaku pembunuhan itu. Polisi masih mengumpulkan tambahan bukti untuk mengungkap pelakunya.
Diberitakan sebelumnya, perayaan Natal Kamis (25/12) lalu, diwarnai dengan aksi pembunuhan sadis. Alexander Axel Elleaza, pelajar SMA Dempo Malang ditemukan tewas dengan 8 tusukan benda tajam. Pembunuhan terjadi di dalam ruko Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Trajeng, Kecamatan Gadingrejo, Kota pasuruan.

Sosok Pendiam, Suka Refreshing di Mall
Bukan hanya teman-teman sekolah Axel saja yang dibuat kaget dengan terbunuhnya siswa SMA Dempo ini, tapi juga ibu kos tempat Axel tinggal saat masih kelas X, Linda. Kos yang pernah dihuni oleh Axel sendiri memang berada di kawasan Jl. Kurinci, Kota Malang.  
Ditemui Jumat siang kemarin (26/12), Linda mengaku baru mendengar berita tersebut setelah dikonfirmasi oleh Malang Post. Ia sendiri sudah lama tidak pernah bertemu Axel semenjak kepindahannya ke tempat kos lain. Di tempat kosnya, Axel hanya tinggal selama setahun.
“Jadi dia (Axel) memang sempat tinggal di kos ini selama setahun saat masih kelas X. Saya sangat tidak menyangka kalo dia sampai memiliki musuh atau ada seseorang yang dendam dengan dirinya. Setiap hari kalo berpapasan di kos atau saat akan keluar dia selalu menyapa saya dengan ramah,” ungkapnya.
Linda menambahkan dalam kesehariannya, Axel dikenal sebagai anak yang pendiam dan tidak pernah punya masalah. Gelagatnya pun terkesan cuek atau tidak ingin mencampuri urusan yang bukan miliknya. Terlebih saat Axel berada di kos miliknya tersebut, dia biasa mengobrol santai dengan teman sekolahnya, bercanda dengan teman kos, hingga mendengarkan musik di dalam kamarnya. Bahkan, menurutnya tak jarang Axel sering keluar jalan-jalan ke mall.
“Axel memang kalau keluar pengin refreshing sukanya jalan-jalan ke mall. Apalagi kalau suasana kos sedang sepi dan tidak ada hiburan, ia selalu pamit ke saya untuk pergi ke mall sebentar,” papar dia.
Perasaan duka mendalam juga disampaikan oleh Benedictus Karel. Cowok yang merupakan teman sekelas Axel saat kelas X ini mengaku masih belum percaya dengan kepergian Axel yang begitu cepat dengan cara yang tragis. Menurutnya, kesehariannya di dalam kelas tidak menampakkan Axel  memiliki musuh apalagi ada yang mempunyai rasa dendam kepada dia. Apalagi Axel dikenal sebagai siswa yang aktif saat mengikuti berbagai mata pelajaran.
“Saya tahu benar siapa sosok Axel itu selama setahun di dalam kelas. Dia anaknya pendiam dan sangat tekun. Meski terkesan pendiam namun dia juga masih suka bercanda atau mengobrol ringan dengan teman-teman satu kelas termasuk saya. Sehingga sampai saat ini saya masih tidak percaya ada yang tega melakukan kejahatan brutal seperti itu,” terangnya.
Cowok yang akrab disapa Karel ini juga menjelaskan, Axel adalah sosok pribadi yang ramah dan tidak pernah suka mencari masalah. Sehingga teman-teman satu kelasnya juga merasa nyaman saat mengobrol atau bersenda gurau dengan dia.
Terpisah, Waka Humas SMAK St. Albertus Malang, Petrus Paulus yang dikonfirmasi melalui seluler mengatakan jika rombongan sekolah telah meninggalkan lokasi rumah duka di Pasuruan. Kabar terakhir yang sempat diinformasikan oleh Petrus kepada Malang Post, keluarga besar korban telah berkumpul di rumah duka, Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Trajeng, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Selain itu, ibu Axel, Natalia Evifani juga mulai membaik setelah seharian menangis dan shock berat melihat anaknya terkapar bersimbah darah.
“Mama Axel juga sudah mulai berangsur-angsur membaik. Tadi sudah bisa diajak mengobrol kembali dengan tenang. Maklum jika mamanya bersedih karena Axel merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sehingga jelas keluarga sangat merasa kehilangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Petrus juga mengungkapkan dia sempat berbincang sedikit dengan adik korban, Kristian. Sesaat sebelum aksi pembunuhan terjadi, adiknya memang tidur dengan ibunya. Sedangkan Axel berada di kamar lain sehingga tak ada satu anggota keluarga pun yang tahu kapan pelaku melakukan aksinya. Selain itu, baik ibunda korban maupun adiknya tidak menemukan tanda-tanda apapun yang mencurigakan saat Kristian bersama korban.
“Koko tidak mengatakan apa-apa dan dia asyik bermain dengan saya. Saya kira setelah saya tidur dengan ibu, Koko juga sudah ikut tidur,” ucap Petrus menirukan ucapan Kristian.
Petrus juga membenarkan jika sebelum terjadinya kejadian ini, sekolah juga mengadakan acara keagamaan (live-in) yang berlangsung di Blitar mulai 12-15 Desember 2014 dan diikuti seluruh warga sekolah. Menurutnya, saat itu Axel masih seperti kebiasaannya saat di sekolah. Tidak ada raut wajah yang berubah dan menampakkan tanda-tanda Axel mendapat tekanan mental. Bahkan berdasar cerita yang disampaikan oleh Natalia Evifani kepada Petrus, pada 20 Desember 2014 dirinya sempat mengajak bocah berumur 16 tahun tersebut untuk ikut live-in ke Blitar.
“Setelah rapor diterima, mamanya mengajak Axel untuk ikut acara keagamaan di Blitar. Hanya Axel menolaknya dan ingin pulang ke Pasuruan. Karena mamanya tak tega membiarkan dia pulang sendirian, akhirnya Axel dijemput di tempat kosnya dan pulang bersama menuju Pasuruan,” pungkasnya. (mg/han)