535 Kasus Laka, 188 Tewas

Kesadaran masyarakat Kabupaten Malang dalam berkendara di jalan raya masih sangat kecil. Bahkan ajakan anggota Satlantas Polres Malang kepada warga untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas serta Budayakan Keselamatan Sebagai Kebutuhan pun tidak banyak diindahkan. Itu terbukti, jumlah angka kecelakaan di wilayah dengan 33 Kecamatan ini sangat tinggi. Ada 535 kasus kecelakaan terjadi, dengan jumlah laka korban meninggal sebanyak 118 orang, dan korban luka ringan mencapai 862.
Dengan jumlah tersebut, bisa dipastikan rata-rata kecelakaan terjadi di wilayah Kabupaten Malang  setiap bulannya ini menjcapai 44-45 kasus. Dengan korban meninggal setiap bulannya mencapai 9-10 orang. Nyawa tersebut hilang sia-sia.  Bisa jadi para korban ini masih bisa bernafas saat ini, jika mereka tertib berlalulintas, atau mau menjadi pelopor keselamatan berlalulintas.
Jumlah kecelakaan tahun ini bisa dibilang menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 555 kasus. Tapi untuk korban meninggal jumlahnya naik 10 persen, dan korban luka juga mengalami kenaikan yang drastic. Tahun 2013 jumlah korban meninggal hanya 104, sedangkan korban luka ringan mencapai 829 orang.
Aksi ugal-ugalan masih menjadi trend pengendara, terutama pengendara roda dua, saat berada di jalan raya. Salip kanan dan salip kiri, sering dilakukan, tanpa memperdulikan faktor keselamatan. Bahkan, saat rambu peringatan terpasang di tepi jalan, seringkali terlupakan. Aksi kejar-kejaran dengan polisi, saat razia atau operasi dilakukan. Perilaku tersebut menjadi budaya, terutama bagi pengendara yang memiliki usia labil.
Memang tidak semuanya kesalahan ada di pihak kepolisian terkait banyaknya jumlah kecelakaan. Tapi peran masyarakat sangat tinggi disini, terutama orang tua. Banyak orang tua melakukan pembiaran kepada anak-anak yang belum cukup usia mengendarai kendaraan. Bahkan, banyak orang tua dengan alasan efisiensi biaya membelikan anaknya yang berusia 13 tahun motor, yang bisa digunakan saat berangkat dan pulang sekolah serta main. Fakta ini bisa membuktikaan bahwa saat ini banyak orang tua bangga jika anaknya melakukan pelanggaran.
Imbasnya, kecelakaan yang terjadi melibatkan anak-anak berusia di bawah 20 tahun ini sangat tinggi. Mereka yang labil, lebih banyak mementingkan ego, tanpa mempedulikan keselamatan. Salip sana dan salip sini, menjadi trend pengendara yang ugal-ugalan.
Dalam kecelakaan, kondisi jalan pun banyak memberikan pengaruh. Disinilah pemerintah tidak boleh tutup mata, seperti melakukan pelebaran, atau memberikan penerangan jalan. Tapi paling penting adalah rambu-rambu lalulintas. Pengendara yang cukup sadar dalam keselamatan berlalulintas, akan memelankan laju motor, serta lebih berhati-hati saat mereka melewati jembatan, lebih-lebih kondisi jalan menikung, dan ditepi jalan juga terpambang rambu rawan kecelakaan. Lebar jalan dengan volume kendaraan yang berlebih pun harus dipikirkan oleh pemerintah.
Tapi begitu, dari sekian banyak kecelakaan terjadi, paling tidak bisa dilupakan adalah kecelakaan yang terjadi Jurang Gunung Geger, Kecamatan Pagak Selasa, 23 September lalu. Kecelakaan ini cukup menyita perhatian, lantaran yang terlibat dalam kecelakaan tersebut adalah pengantar rombongan jemaah haji. Mobil elf yang membawa 16 penumpang ini jatuh ke jurang sedalam 20 meter, setelah Suwari, 45 tahun pengemudi mobil tidak bisa mengendalikan  laju saat kondisi jalan menikung. Dalam kecelakaan itu, ada satu korban meninggal, atas nama Lasminah, usia 60 tahun, tiga penumpang mengalami luka berat dan 12 sisanya mengalami luka ringan.
Selain itu tergulingnya truk tronton di Jalan Raya Songsong KM75-76, Singosari juga tidak bisa dilupakan. Kendati dalam kecelakaan tunggal yang terjadi 8 November lalu ini tidak ada korban jiwa, tapi menimbulkan kemacetan yang sangat panjang. Beberapa informasi menyebutkan, jika dalam kecelakaan tersebut, sopir kendaraan yakni Momon Khorudin asal Ketindan Lawang, mengantuk. Kecelakaan ini mengakibatkan kemacetan sangat panjang, bahkan hingga 5 kilometer.
Di tulisan ini kami tidak ingin menunjuk siapa yang salah, polisikah?, Masyarakat kah? Atau Pemerintah? Tapi setidaknya, jumlah kecelakaan di atas menjadi acuan semuanya. Masyarakat yang sering ugal-ugalan lebih tertib berlalulintas, orang tua melarang anaknya yang belum cukup umur mengendarai kendaraan, polisi terus melakukan sosialisasi tentang keselamatan berlalulintas, dan pemerintah juga membangun sarana serta pra sarana di jalan raya.(***)