Teman SMP, Pembunuh Sadis Siswa Dempo

MALANG – Kerja keras Tim Reskrim Polres Pasuruan Kota mengungkap pembunuhan siswa SMAK St. Albertus (Dempo) Malang, berbuah hasil. Selasa (30/12/14) petang, pembunuh Alexander Axel Elleaza, 16 tahun ini akhirnya tertangkap. Seperti dugaan keluarga sebelumnya, pelaku adalah teman korban sewaktu SMP.
Ya, dia adalah Anjas Eko Legowo (AEL), 17 tahun. Ia masih berstatus pelajar di SMA Bima Jember dan tinggal bersama ibunya di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ambulu, Jember. Tersangka diringkus petugas di perbatasan Lawang-Pasuruan. Sebelumnya AEL dan korban adalah teman akrab sewaktu sekolah di SMP Elkana Kota Pasuruan.
“Saat itu ia baru saja menghadiri pemakaman korban di Pemakaman Cina Sentong Baru, Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang. Karena sejak awal ia sudah kami curigai. Makanya terus kami buntuti dan setelah pemakaman tersangka langsung kami tangkap,” ungkap Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Bambang Sugeng.
Sekadar diketahui, perayaan Natal Kamis (25/12/14) lalu, diwarnai dengan aksi pembunuhan sadis. Axel, pelajar SMAK Dempo Malang ditemukan tewas mengenaskan di dalam ruko Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Trajeng, Kecamatan Gadingrejo, Kota pasuruan. Ada delapan tusukan di tubuh korban. Lima tusukan tepat di dada, satu tusukan di perut bagian atas dan satu lagi di perut bagian bawah. Tidak hanya itu, juga ada luka sayatan senjata tajam di pergelangan tangan kiri.
Menurut Bambang, sejak awal ia memang mencurigai pelaku pembunuhan adalah teman dekat korban. Ini juga diperkuat dengan kecurigaan pihak keluarga korban. Karena selain barang-barang kesayangan korban sewaktu SMP yang hilang, dari hasil olah TKP diketahui jika pelaku masuk ke dalam ruko dengan mudah. Padahal untuk masuk ruko, harus melewati tiga kunci.
Kecurigaan itupun dibuktikan dengan tertangkapnya AEL. Motif pembunuhan pun bisa membuat orang mengelus dada dan geleng-geleng kepala dalam waktu bersamaan, ia kesal dengan korban karena terus menagih hutangnya. AEL berhutang Rp 1 juta saat masih SMP dulu. “Motif pembunuhan itu karena hutang,” ujar Bambang.
AEL menceritakan, malam sebelum pembunuhan terjadi (Rabu 24 Desember 2014 sekitar pukul 23.00), ia mengirim pesan pada korban untuk bertemu. Kebetulan saat itu tersangka sedang bermain ke Pasuruan, untuk berlibur ke rumah ayahnya di Jalan Airlangga Kota Pasuruan.
Karena kenal, tersangka dipersilahkan datang ke ruko pada tengah malam, dimana korban sebelumnya telah membukakan pintu. Setelah bertemu, mereka berdua sempat bermain play station (PS) serta ngobrol bareng.
Saat asyik bermain PS, korban mengungkit hutang lama tersangka. Korban ngotot supaya hutangnya segera dilunasi karena sudah lama. Jika tidak dilunasi, korban mengancam akan mengadukan kepada orang tuanya. Mungkin karena tersulut emosi dan merasa malu jika sampai diadukan, akhirnya AEL naik pitam.
Ia pergi ke dapur untuk mengambil sebilah pisau. Selanjutnya dengan senjata tajam tersebut, AEL menghabisi nyawa korban. Ada delapan tusukan di tubuh, hingga membuat korban meregang nyawa. Setelah dipastikan tewas, tersangka menyayat pergelangan tangan kiri korban. Ini dilakukan untuk menghilangkan jejak, supaya seakan-akan korban terlihat bunuh diri.
Usai menghabisi, tersangka lalu mencuci tangan dan pisau. Selanjutnya sekitar pukul 04.00, AEL kabur dengan naik angkot tujuan Malang dengan membawa laptop serta HP milik korban. Sampai di Kecamatan Lawang, ia turun. Kemudian membuang pisau di sungai. Selama menjadi buruan polisi, tersangka mengaku berpindah-pindah tempat di Malang. Ia juga menyempatkan hadir di pemakaman korban, sebelum akhirnya tertangkap.
“Kami masih akan mengembangkan kasusnya. Apakah ada motif lain, serta apakah ada pelaku lain yang membantunya. Untuk tersangka sementara kami jerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan,” tuturnya.(agp/han)