Warga Sawojajar Hilang di Pantai Bajul Mati

MALANG POST - Suasana perayaan tahun baru di Pantai Bajul Mati Desa Gajah Rejo Kecamatan Gedangan, tiba-tiba berubah menjadi gempar, Kamis (1/1) lalu, setelah seorang warga Jl Sawojajar Gg V/ No 29 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, Yosep Suhendra, 27 tahun, dilaporkan hilang oleh teman-temannya.
Kapolsek Gedangan Edi Sunyata mengatakan, peristiwa hilangnya korban baru dilaporkan pada Jumat (2/1) pagi. “Kami menerima laporan itu dari petugas penjaga pantai. Setelah menerima laporan, kami langsung berkoordinasi dengan Satpol Air, PMI, Tim Sar dan relawan untuk mencari korban,” ujarnya kepada Malang Post, kemarin.
Dia menjelaskan, korban datang ke Pantai Bajul Mati pada Rabu (31/12) malam. Saat itu ia bersama sembilan orang temannya satu kampung datang ke tempat tersebut memang berniat untuk merayakan pergantian tahun baru. Mereka kemudian mendirikan tenda, di tempat perkemahaan yang ada di pantai.
“Kamis dini hari (1/1), korban bersama tiga temannya pamit pergi membeli makanan di warung terdekat,” kata perwira pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini.
Dua orang yang ikut korban mencari makan yakni Feri, 25 tahun, Nanda, 27 tahun dan salah seorang wanita yang identitasnya hingga saat ini belum diketahui. Mereka berempat berangkat mencari makanan sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah itu keempatnya kembali ke perkemahan. Namun, korban Yosep Suhendra kembali lagi ke warung tersebut dengan alasan untuk membeli rokok. Sedangkan ketiga temannya yang lain, melanjutkan perjalanan menuju perkemahan.
“Kemudian, teman-temannya menunggu hingga pagi hari pukul 07.00 WIB. Namun, korban tidak kunjung kembali,” imbuhnya.
Karena khawatir, akhirnya teman-teman korban berinisiatif melakukan pencarian. Namun tidak membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya, mereka melaporkan peristiwa itu ke penjaga pantai.
Petugas penjaga pantai yang menerima laporan itu, langsung melakukan pencarian terbuka pada Jumat (2/1/15) pagi. Dibantu dengan PMI Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Malang dan Tim SAR Rescue Malang Selatan, menyisir di pinggiran Pantai Bajul Mati dengan harapan dapat menemukan korban.
Sementara itu, petugas PMI Kabupaten Malang Susanto mengatakan, saat ini pihaknya fokus melakukan penyisiran di pinggir pantai. “Hingga pencarian hari Sabtu ini (kemarin), kami fokus melakukan penyisiran di pinggiran pantai. Karena menurut pengakuan saksi, korban terlihat di pinggir pantai menuju warung makanan,” terangnya.
Dia melanjutkan, pihaknya saat ini belum bisa memastikan persitiwa ini merupakan kecelakaan laut atau kecelakaan darat. Pasalnya, dua hal bisa saja terjadi. Yakni, pertama korban hilang tersesat di hutan dekat pantai itu atau kemungkinan kedua tergulung ombak, ketika korban asik berjalan di pinggiran pantai.
“Apalagi peristiwa itu terjadinya dini hari. Jadi, tidak begitu jelas kemana arah korban pergi dan tidak ada warga sekitar yang melihatnya,” terangnya. Terlebih saat itu ombak di Pantai Bajul Mati sedang tinggi. Sehingga kata dia, bisa saja korban terseret arus ombak, ketika berjalan maupun duduk-duduk di pinggir pantai.
Hingga berita ini ditulis, proses pencarian terhadap korban terus dilakukan namun belum membuahkan hasil siginifikan. Korban sebelum menghilang, ia mengenakan kaos hitam, celana jeans biru dan mempunyai tato di leher serta punggungnya.
Sedangkan pada musim penghujan kali ini, ketinggian ombak di pantai selatan wilayah Kabupaten Malang mencapai tiga meter. Ombak setinggi itu, menyebabkan para nelayan yang ada di Pantai Sendang Biru dan Pantai Tamban tidak bisa melaut. “Nelayan yang menggunakan perahu kecil, tidak bisa melaut akibat ombak tinggi. Terdapat puluhan nelayan di sini yang menyandarkan perahunya di dermaga,” ujar Ketua Nelayan Bina Lestari Pantai Tamban Sih Budi Hari.
Lanjut dia, keadaan itu secara otomatis akan menurunkan produktivitas berupa ikan tangkapan dari para nelayan. Karena yang bisa mencari ikan adalah kapal-kapal milik nelayan yang berukuran besar dan mempunyai mesin motor. “Meski begitu, tidak banyak ikan tangkapan yang dibawa oleh nelayan berkapal besar. Karena sulit mencari ikan di tengah ombak tinggi seperti sekarang,” paparnya.
Kendati demikian, para nelayan tidak khawatir ketika cuaca buruk seperti sekarang, mereka sudah mengantisipasi sejak dini. Yakni membuat produk olahan ikan, mengelola Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan berbudidaya lobster. (big/han)