Wakasek SMAN 15 Surabaya Hanya Wajib Lapor

SURABAYA- Penangkapan kasus suap atau pungli (pungutan liar) oleh Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMA Negeri 15 Surabaya, Nanang Achmad Nur Syaifudin terus diselidiki. Usai melakukan penyelidikan Polrestabes Surabaya tidak melakukan penahanan.
Kini Wakasek SMA Negeri 15 diperbolehkan pulang ke rumahnya di Buduran, Sidoarjo, dan kedepannya hanya melakukan wajib lapor dua kali seminggu ke Polrestabes hari Senin dan Kamis. "Statusnya hanya sebagai saksi dan tidak ditahan, melainkan wajib lapor," jawab Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono, kemarin.
Usai dilakukan penangkapan, kata Sumaryono, Nanang langsung menjalani pemeriksaan di ruang penyidikan Satreskrim sejak Jumat (2/1) malam sekitar pukul 22.30 WIB sampai Sabtu pagi. Siang harinya, Wakasek Kurikulum tersebut kembali dimintai keterangan oleh penyidik.
Pemeriksaan ini terkait dugaan Pungli atau pemerasan yang dilakukannya terhadap Mayor Siddiq, anggota Marinir TNI AL yang hendak memindahkan anaknya, E Abrar Dharmawan dari SMA 66 Jakarta ke SMA 15 Surabaya. Saat dilakukan penangkapan itu, dilakukan anggota Polrestabes Surabaya bersama Komisi D DPRD Surabaya. Dimana Nanang usai menerima uang Rp 3 juta dari Mayor Siddik di ruang kerjanya di SMA 15 Surabaya.
Dari Operasi tangkap tangan (OTT), itu Nanang ditindaklanjuti bersama pihak kepolisian. Hingga akhirnya, dalam OTT petugas mengamankan barang bukti berupa kunci ruangan Wakasek Kurikulum dan uang pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 3 juta yang baru saja diterima Nanang dari Siddiq.  Nanang kemudian digelandang ke Polrestabes Surabaya guna pemeriksaan 1x24 jam. Setelah dilakukan pemeriksaan Nanang diperbolehkan pulang dan hanya wajib lapor. (jpnn/bj/udi)