Dikeroyok Justru Dituntut Penjara dan Denda

MALANG – Masih ingat dengan kasus hukum yang membelit pegawai Bea Cukai Kanwil Jatim II Dirjen Bea Cukai, Ivan Triyugo Nurirawan. Kasus tuduhan tabrak lari tersebut menemui babak baru di Pengadilan Negeri Malang, Senin (6/1) kemarin. Jaksa menuntut Ivan dengan hukuman penjara pidana selama dua bulan penjara dan denda sebesar Rp 1 juta.
Tuntutan dibacakan oleh penuntut umum dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang, Tyas SH. Dalam kasus hukum lainnnya, Ivan sejatinya dikeroyok hingga gegar otak oleh sekelompok mahasiswa luar jawa. Kasus itu sudah diproses secara terpisah, namun kemudian Ivan dilaporkan melakukan aksi tabrak lari kepada seorang mahasiswa dari luar pulau Jawa, Alton Bastian.
"Terdakwa Ivan Triyugo Nurirawan dinyatakan bersalah karena melanggar pasal 310 ayat 2 dakwaan ke 1 UU nomor 22 tahun 2009," kata Tyas membacakan tuntutan.
Berdasarkan catatan Malang Post, kasus tersebut bermula saat Ivan baru pulang dari tempat kerja di Juanda sekitar pukul 03.30 WIB pada 12 November 2013 silam. Saat sedang berada di Jl Bendungan Siguragura, tampak sekelompok mahasiswa luar Jawa sedang bersiap melakukan balapan sepeda motor di tengah jalan.
Keterangan Ivan di PN Malang saat menjalani pemeriksaan pada 2 Desember 2014 lalu, Ivan dikeroyok oleh mahasiswa tersebut karena menyalakan klakson dan menghidupkan lampu sorot ke arah para mahasiswa tersebut. Ivan sempat menyetir mobilnya ke arah rumahnya, namun dicegat oleh mahasiswa tersebut dan dikeroyok hingga gegar otak.
Ivan mengadukannya ke kepolisian, kemudian kasus ini diproses ke PN Malang. Empat tersangka kasus tersebut divonis 2 bulan 15 hari. Keempatnya adalah Wendriannus Tappi (25 tahun), Johanes Alfredo (25 tahun), Donatus Kofi (24 tahun) dan Rama Soyan Arung Lamba (26 tahun).
Namun rupanya, kubu mahasiswa ini mengadukan Ivan kembali ke kepolisian. Mereka mengaku melakukan pengeroyokan karena salah satu teman mereka, Alton Bastian, menjadi korban tabrak lari, terserempet mobil milik Ivan.
Alton Bastian sendiri yang kemudian melaporkan Ivan ke polisi. Dilaporkan, bahwa saat itu Ivan mengendarai mobil Taft dengan kecepatan 40 km/jam, lalu menabrak Alton. Laporan tersebut pun diproses sampai akhirnya Ivan dinyatakan bersalah dan dituntut untuk menjalani hukuman penjara selama 2 bulan dan denda Rp 1 juta dalam sidang tuntutan kemarin.
Kubu Ivan sendiri tidak menerima tuntutan dan mengajukan pembelaan. Sidang pembelaan tersebut, akan dilakukan  pada 20 Januari 2015 mendatang. "Menurut kami tidak relevan. Karena dari pernyataan penuntut umum barusan, tidak ada unsur tabrak lari. Sedangkan klien saya dikeroyok sampai babak belur. Itu juga tidak dibahas," ungkap kuasa hukum Ivan, Muadji Santoso SH.
Dikatakannya, masih banyak unsur-unsur lain yang tidak diangkat dalam persidangan. Kubu Ivan sendiri menuduh, kalau ada makelar kasus yang bermain dan berusaha menyudutkan Ivan menjadi pihak yang bersalah. "Suami saya dikeroyok sampai babak belur, sekarang dia sudah susah konsentrasi dan lambat kalau berpikir," jelas Rosida, istri Ivan. (erz/ary)