Nia Lumpuh karena Malpraktek?

MALANG – Di usianya yang kini 6,5 tahun, Nia Agustina seharusnya melewati masa-masa indah bersama teman sebayanya. Sekolah dan bermain. Tetapi semua hal itu tak bisa ia lakukan karena kelumpuhan total yang dialaminya.
Bocah kelahiran 10 Agustus 2008 ini, harus terbaring selamanya di tempat tidur. Jangankan berdiri, untuk duduk ataupun miring saja ia tidak bisa. Kedua tangan serta kakinya kaku. Ia lumpuh total setelah menjalani rawat inap di RSSA Malang, pada pertengahan 2013 lalu.
Apakah anak tunggal pasangan Imron (37) dan Siti Aminah (27) ini, menjadi korban malpraktek, masih belum diketahui. Polres Malang Kota masih melakukan penyelidikan karena kasus yang dialami Nia baru kemarin siang dilaporkan orang tuanya ke polisi.
“Laporannya baru kami terima. Setidaknya kami masih akan mempelajari dulu kasusnya. Setelah itu baru kami lakukan penyelidikan dengan memanggil beberapa orang untuk dimintai keterangan,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro.
Sebelum lumpuh, Nia hidup normal seperti bocah kecil lain. Ia bisa berjalan termasuk berbicara. “Dulu anak saya normal. Ini foto-fotonya sebelum ia mengalami lumpuh total seperti ini,” ujar Imron, sembari menunjukkan foto-foto Nia saat masih sehat.
Namun takdir berkata lain. Ketika usianya sekitar 4 tahun atau pada pertengahan Juni 2013, Nia mengalami demam tinggi. Saking tingginya, ia kejang-kejang. Oleh orang tuanya, Nia lalu dibawa ke RS di daerah Bangil, Pasuruan. Selama tiga hari dirawat, tidak ada perubahan bahkan kondisinya koma serta tak sadarkan diri.
Nia kemudian dirujuk ke RSSA Malang dan dirawat di ruang anak. Saat dilakukan tindakan, dokter yang menangani harus mengambil cairan sumsum tulang belakang. “Saat pengambilan itu, memang izin saya. Alasannya supaya diketahui penyakitnya, dan segera dilakukan tindakan. Saya sebagai orang awam yang tidak mengerti, ya menurut saja. Katanya sakitnya radang otak,” tutur Imron.
Tetapi setelah 11 hari dirawat, sama sekali tidak ada perubahan pada Nia. Kondisinya tetap tidak sadarkan diri. Orang tua Nia yang sudah tidak lagi memiliki biaya, meminta pulang paksa. Untuk perawatan Nia, akhirnya dibawa berobat di wilayah Pasuruan. “Sejak saat itu, anak saya lumpuh. Ia sama sekali tidak bisa apa-apa. Tangan serta kakinya kaku,” kata Imron, yang kesehariannya berjualan sayur ini.
Selama sekitar 1,5 tahun, Imron dan istrinya Siti Naimah, hanya bisa menerima kenyataan. Ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa, untuk meminta pertanggung jawaban terkait nasib yang dialami anaknya. Baru kemarin siang, Imron yang berharap ada keadilan, memberanikan diri untuk mengadu kepada polisi.
“Jika memang ada kesalahan dari pihak rumah sakit, supaya tidak sampai terjadi lagi dengan pasien yang lain. Jangan sampai ada penderitaan seperti yang dialami anak saya,” paparnya sembari menitikkan air mata.
Dikonfirmasi terkait kasus ini, pihak RSSA Malang, kemarin siang langsung melakukan press conference dengan media. Selain ditemui Humas RSSA Malang, Titiek Intiyas H, juga ditemui empat dokter, yaitu dr M Bachtiar Budianto, SpB (K) (Kabid Pelayanan Medis), dr Masdar Muid Sp(K) (Ketua SMF Ilmu Kesehatan Anak), dr Haryudi Aji Cahyono SpAK (Kepala Irna Ilmu Kesehatan Anak) serta dr Agus, Asisten Spesialis Anak.
Dalam pertemuan tersebut, dr Haryudi menjelaskan, Nia memang pasien rujukan dari RS di Bangil Pasuruan pada 23 Juni 2013. Saat masuk kondisinya kejang dan tidak sadar. Dari diagnosa, Nia mengalami radang selaput otak dan radang otak (Meningoensepalitus). Kemudian setelah dirawat 11 hari, pasien minta pulang paksa.
“Setelah pulang paksa itu, pada 22 Desember 2014, pasien datang lagi untuk kontrol. Tetapi ia tidak kejang hanya mengalami lumpuh. Saat kontrol itu, selain kami beri obat, pasien juga telah kami berikan fisiotherapy,” terang Haryudi.
Dr Masdar menambahkan, dari diagnosa sebelum sakit, pasien memang mengalami keterlambatan bicara. Ketika dirujuk ke RSSA Malang, pasien mengalami radang otak. Akibat radang otak, dampaknya pasien memang akan mengalami komplikasi.
“Kalau otak sakit atau terinfeksi, pastinya akan terjadi kerusakan sel. Di mana akibatnya komplikasi yang timbul dari kerusakan otak, selain hidrosefalus, bisa juga lumpuh, tuli atau bahkan buta,” tuturnya.
Terkait pengambilan cairan, Masdar mengatakan pengambilan cairan yang dilakukan sudah benar. Ada tempat aman untuk mengambil cairan sumsum tulang belakang. Itu dilakukan untuk menegakkan diagnosis dari penyakit yang dialami pasien.
“Kalau kondisi Nia saat ini, kemungkinan untuk sembuh normal lagi sangat kecil. Kecuali memang ada mukjizat dari yang kuasa,” katanya.
Termasuk tentang sudah dilaporkannya ke polisi, RSSA Malang melalui dr M Bachtiar, akan berupaya secepat mungkin konfirmasi dengan orangtua pasien. Ia berharap permasalahan ini akan segera diselesaikan secara kekeluargaan. Untuk selanjutnya, RSSA Malang siap memberikan pelayanan pengobatan kepada korban.
“Yang pasti, apa yang dialami pasien ini bukan malpraktik. Kami akan segera konfirmasi dengan keluarga atau orang tua pasien, untuk bisa menyelesaikan kekeluargaan. Dan kami siap memberikan pelayanan pengobatan pada Nia. Tentunya kami juga akan sarankan keluarga untuk mengurus BPJS,” papar dr M Bachtiar.(agp/han)